Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa

akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa...

Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner

Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman...

Resensi Buku "Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!" oleh Omjay

Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati...

Ini Soal YouTube, Lebih Dari Sekadar Untuk Narsis

Setelah Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Briptu Norman Kamaru yang belakangan menjadi ngetop...

Citizen Journalism dan Metamorfosis Media

Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan...

Saturday, June 23, 2012

Digitalisasi Desa Menuju Masyarakat Indonesia Sejahtera

Jelang matahari terbit, tiba-tiba tamu datang tanpa diundang. Meluluhlantakkan sebagian desa tanpa permisi dan basa basi. Bagai sebuah drama demonstrasi, namun sayang ini bukan drama, ini nyata benar terjadi. Semula bangunan megah, setelah tamu datang semua tinggal puing berserakan. Hakikatnya tamu yang harus selalu dihormati, tidaklah untuk tamu bernama Gempa yang satu ini, yang telah mendramatisir suasana pagi Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 lalu.

Tamu dahsyat telah berlalu. Segenap warga desa sigap membereskan puing-puing berserakan. Tidak kalah sigapnya dengan pemerintah desa yang sedang mencari data kependudukan untuk distribusi bantuan. Sebentar lagi bantuan akan segera datang, namun ternyata dokumen kependudukan desa belum juga ditemukan. Rubuhnya kantor Kepala Desa menyelipkan dokumen-dokumen di antara puing-puing berantakan. Keadaan seperti itu dialami oleh beberapa desa. Padahal dalam pemulihan paska pencana data kependudukan desa sangat dibutuhkan. 

Bagaimana jika keadaan demikian terus berulang terjadi dikemudian hari. Apakah ketika sebuah bencana terjadi akan selalu diadakan pendataan ulang kependudukkan seketika setelah bencana berlangsung. Padahal seharusnya bukanlah pendataan ulang yang dilakukan sebagai tindakan dini, melainkan harus langsung melakukan distribusi bantuan medis maupun non-medis dengan menggunakan data kependudukan yang sudah ada. Kasus ini hanya bagian terkecil yang pernah terjadi, hilangnya dokumen desa pernah juga terjadi karena kelalaian dari aparat pemerintah desa sendiri yang lupa di mana menyimpan dokumen-dokumen tersebut. Merumuskan supaya keadaan demikan tidak terulang lagi, sempat terpikir untuk melakukan digitalisasi desa.

Sebelum selanjutnya menerjemahkan konsep digitalisasi desa, sungguh perlu diapresiasi Ngawur Writing Contest bertema Pemanfaatan Teknologi Digital Untuk Indonesia yang diadakan oleh komunitas para blogger khusus Provinsi Jawa Timur (www.ngawur.org), bekerjasama dengan Pusat Teknologi (www.pusatteknologi.com) dan Blogger Nusantara (www.bloggernusantara.com). Tema yang diangkat sangat relevan dengan konteks saat ini yang notabene sedang berkembang Information and Communication Technology (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pemilihan tema ini entah disadari atau tidak, secara tidak langsung sudah ikut membantu Dewan TIK dalam mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan pada tahun 2025.


Menerjemahkan Konsep Digitalisasi Desa

Sederhananya konsep digitalisasi desa adalah sebuah langkah pemindahan dokumen-dokumen terkait dengan desa yang semula berwujud hard copy (cetak) menjadi soft copy. Dokumen dalam bentuk soft copy diolah sedemikian rupa sehingga menjadi database yang rapih, kemudian akan dipublikasikan ke situs desa supaya bisa diakses secara online. Digitalisasi Desa juga merupakan langkah melek teknologi bagi masyarakat desa. Jika selama ini persepsi terhadap masyarakat desa adalah manusia-manusia yang tertinggal oleh zaman, semua akan berubah setelah digitalisasi desa dilakukan.

Pelaksanaan digitalisasi desa sangat membutuhkan dukungan aparat pemerintah dengan segenap masyarakat desa untuk ikut bekerjasama mewujudkannya. Karena digitalisasi desa membutuhkan banyak tenaga untuk memindahkan segala dokumen berkaitan dengan desa, seperti profil desa, kependudukan, sumberdaya desa, potensi desa, dan lainnya menjadi database. Maka digitalisasi desa bersifat partisipatif oleh segenap elemen desa.

Sebuah desa dalam konsep digitalisasi desa harus memiliki situs desa sebagai media informasi dan komunikasi masyarakat desa. Digitalisasi desa kelak akan melahirkan desa digital yang akan membawa banyak keuntungan berlipat. Semua dokumen-dokumen desa, yang salah satunya adalah data kependudukan, akan aman dan mudah diakses kapan dan dimana pun berada. Sudah tidak khawatir lagi dengan kerusakan yang terjadi akibat bencana.

Dokumen yang terunggah secara online dalam situs desa akan bisa diakses oleh siapa saja, lebih khusus oleh segenap masyarakat desa. Hal demikian berarti telah mempraktekkan keterbukaan informasi dan meningkatkan pelayanan publik. Keterbukaan informasi dan peningkatan pelayanan publik menunjukkan tata kelola pemerintahan yang bersih, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebuah desa yang sudah melakukan digitalisasi, berarti telah selangkah lebih maju membentuk tata kelola pemerintahan yang baik atau biasa disebutnya dengan istilah Good Governance.


Pengalaman Pelaksanaan Digitalisasi Desa

Sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) COMBINE Resource Institution yang berdomisili di Yogyakarta, telah melakukan konsep digitalisasi desa untuk mengatasi persoalan dokumentasi data desa dengan mengembangkan Sistem Informasi Desa (SID). Sistem ini adalah sebuah aplikasi yang membantu pemerintahan desa dalam mendokumentasikan data-data milik desa guna memudahkan proses pencariannya dan sistem untuk mengelola sumber daya yang ada di komunitas desa jaringannya.  

Salah satu penerapan SID dilakukan di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Masyarakat sangat dimudahkan dalam mendapatkan informasi tentang desa dengan adanya SID. Masyarakat lebih khusus aparat pemerintah desa Terong kini sudah tidak lagi kesulitan mencari data penduduk, karena semua sudah masuk dalam database. Membuat Kartu Tanda Penduduk di kelurahan pun kini sudah tidak memerlukan waktu yang lama lagi, karena semua data telah tersedia.

SID juga digunakan untuk mengelola dan mengangkat sumber daya dan potensi desa yang ada, dipublikasikan melalui situs desa sehingga dapat diketahu oleh masyarakat luas. Hasilnya masyarakat Desa Terong semakin puas dengan pelayanan pemerintahan desa. Inilah bentuk keterbukaan informasi dan pelayanan publik yang baik, sehingga bisa mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik pula.


Digitalisasi Desa Menuju Masyarakat Indonesia Sejahtera

Digitalisasi desa melahirkan desa digital. Desa digital adalah desa masa depan. Konsepsi mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan pada tahun 2025 adalah terwujudnya masyarakat desa yang berdaya, berdaulat, mandiri, dan sejahtera. Digitalisasi desa yang telah menghasilkan keterbukaan informasi, peningkatan pelayanan publik, dan tata kelola pemerintahan yang baik, akan membawa pada kedaulatan, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat desa.

Paradigma pembangunan desa saat ini telah berubah, yang semula pembangunan dilakukan dari pemerintahan pusat ke daerah di desa, beralih menjadi pembangunan dari masyarakat akar rumput yang berada di desa ke tingkat pemerintahan yang lebih tinggi. Menuju masyarakat Indonesia sejahtera, kini dimulai dari masyarakat desa. Digitalisasi desa telah mengawalinya.

Imam FR Kusumaningati
Penulis buku Citizen Journalism (Jurnalisme Warga)
berjudul Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!

Thursday, June 21, 2012

10 Alasan Menggunakan Twitter Sebagai Media Citizen Journalism

Teman-teman pembaca sekalin, seperti yang saya janjikan di portingan berjudul Ketangguhan Twitter Untuk Ber-Citizen Journalism, yang saya posting beberapa waktu yang lalu. Saya menjanjikan untuk membahas tentang alasan menggunakan twitter sebagai media Citizen Journalism.

Tim peneliti dari kcnn.org pada tahun 2004, pernah melakukan penelitian kepada para Citizen Journalist – Jurnalis Warga, berkaitan dengan alasan mereka menggunakan Twitter sebagai media untuk ber-Citizen Journalism.


Penelitian tersebut menghasilkan 10 alasan mengapa Citizen Journalist lebih memilih menggunakan twitter sebagai media Citizen Journalism.

1.    Kepemilikan secara personal
Twitter dikelola oleh pemilik account twitter itu sendiri. Pemilik twitter diperbolehkan dengan bebas membuat profilnya dengan segenap fasilitas yang ada. Apabila profil tersebut bagus, maka akan banyak yang follow twitter tersebut. Sehingga itu bisa mendukung aktifitas Citizen Journalism.

2.    Kecepatan
Memposting informasi di twitter dapat dilakukan dengan sangat cepat. Lebih cepat dibandingkan dengan memposting di media online lainnya. Bagi para follower twitter tersebut, informasi itu menjadi breaking news bagi mereka.

3.    Efisien
Batas maksimal 140 karakter menuntut untuk memposting informasi dengan ringkas dan jelas, itu sangat efisien. Apabila anda follow dengan pengguna twitter yang baik. Maka akan mendapatkan aliran informasi yang bisa dipertanggungjawabkan. 

4.    Simpel
Kebanyakan Citizen Journalist tidak memiliki kemampuan teknis yang bagus. Pengoperasian twitter lebih simpel dibandingkan dengan pengoperasian media online lainnya. Ini sangat memudahkan dan menjadi nilai lebih bagi twitter.   

5.    Mudah diakses
Twitter bisa dibuka dengan baik di handphone. Sehingga jika tidak ada komputer, bisa memposting informasi dengan hanphone. Jadi ketika menemukan informasi yang sangat penting, dengan segera bisa mempostingnya.

6.    Banyak dikunjungi
Twitter  mampu menarik lebih dari 1.2 juta pengguna aktif setiap bulan. Mereka semua pengguna twitter tingkat addict (pecandu) bisa mengakses twitter berkali-kali dalam sehari.  

7.    Berjejaring sesuai profesi
Semenjak twitter menjadi semakin populer, semakin banyak orang yang membuat twitter. Pengguna twitter bisa follow dengan pengguna twitter lain yang memiliki kesamaan profesi atau hobi. Sehingga membentuk semacam jaringan di dunia maya.

8.    Fungsi kontrol secara mandiri
Kontrol pada twitter sepenuhnya diatur oleh pemilik account twitter itu sendiri. Apabila tidak menghendaki suatu postingan, maka bisa menghapusnya dengan mudah. 

9.    Aplikasi yang asyik
Semakin hari banyak hadir aplikasi twitter yang asyik dan mempermudah penggunaan twitter. Seperti TwitterLocal, untuk mengetahui lokasi geografis pengguna twitter. TwitPic, sebuah aplikasi untuk meng-upload foto. TweetDeckSalesforce.comHootSuiteTwitterfeedUberSocialSnaptu, UberTwitter dan lainnya.

10. Gratis
Siapa yang tidak mau dengan sesuatu yang gratis. Apalagi sangat mudah dan mengasyikkan.

Bagaimana? Tweeps, sangat menarik, asyik dan efektif bukan menggunakan Twitter sebagai media Citizen Journalism. Dan saya hanya bisa bilang, selamat ber-Citizen Journalism dengan Twitter Anda.

Thursday, June 14, 2012

Bahasa!

Seandainya sumpah pemuda terlambat diikrarkan delapan puluh tahun, kemungkinan besar yang tertulis bukan lagi “Kami putra dan putri Indonesia…”, melainkan “Kita putra dan putri Indonesia…”. Konsep “kita” dan “kami” adalah kekayaan bahasa Indonesia yang tidak dimiliki bahasa lain. (Qaris Tajudin, “Kita putra dan putri Indonesia”).

Mari kita perharikan beberapa contoh berikut ini. (1) “Busway seruduk beringin, lima luka”, (2) “Penumpang busway tewas misterius”, (3) “Saatnya busway tiba di terminal Blok M”. Padahal apa sebenarnya arti kata “busway”? (J. Daniel Parera, “Salah Kaprah Proyek Busway”).

Dua penggal paragraf dari esai bertema bahasa itu sekadar bagian dari 69 lainnya yang lebih menggelitik. Mengutak-atik atau lebih tepatnya mengkaji bahasa dari sisi ilmu bahasa maupun mendiskusikan pengaruh antara bahasa dan ilmu budaya. Disarikan dari rubrik Bahasa! majalah TEMPO. Sengaja dibukukan supaya bisa dibaca dan didiskusikan lebih luas serta lebih lama di masyarakat pemakai bahasa Indonesia.


Buku berjudul Bahasa! Kumpulan 69 Tulisan Bahasa di Majalah TEMPO, yang sebenarnya tidak sengaja Saya temukan diantara deretan buku di Perpustakaan Utama UIN Jakarta, memiliki tebal 292 halaman, diterbitkan pertama kali pada 2008 oleh Pusat Data dan Analisa TEMPO.

Waktu itu seketika Saya tertarik karena di antara para penulisnya adalah Goenawan Muhammad, Sapardi Djoko Damono, J. Daniel Parera, dan Ayu Utami, sebuah nama yang sudah tidak asing lagi. Meski secara keseluruhan terdapat 24 penulis. Maka tanpa dilihat terlebih dulu apa isinya, daripada keluar perpustakaan tidak meminjam buku sama sekali, iseng-iseng Saya meminjamnya.  

Beruntung Saya bisa membaca buku yang banyak membuka wacana perihal kebahasaan ini. Sehingga salah satu diantaranya bisa memahami dinamika kebahasaan dalam kehidupan keseharian masyarakat, yaitu berkaitan dengan mengubah bunyi menjadi aksara dan mengubah aksara menjadi bunyi. Seringkali masih banyak kesalahan di masyarakat dalam melakukannya. Memang kedua aktivitas itu perlu sedikit banyak pengetahuan untuk bisa melakukannya. Misalkan fotocopy, foto-copy, photo-kopi, fhotocopy, dan masik banyak yang lainnya. Coba sekarang ucapkan kata terakhir, fhotocopy. Alangkah susahnya mengucapkan kata fho.
 
Sekarang ijinkan Saya mengutip esai Soejono Dardjowidjojo berjudul Adakah Logika dalam Bahasa?. Bahwa, “Bahasa adalah produk sejarah pertumbuhan manusia, dan bahasa hidup serta berkembang berdasarkan kreativitas para pemakainya. Selama pemakai ini manusia, selama itu pula ada variasi yang berbeda dari satu manusia ke manusia lain”

Bahasa memang sangat dinamis, sehingga bisa-bisa membuat bingung. Beruntung buku ini ditutup dengan esai Goenawan Muhammad yang berjudul Bingung? Katanya dengan mengutip Paul de Man, seorang teoritikus sastra. Berpendapat bahwa bahasa secara hakiki mengandung kemungkinan untuk bersifat “alegoris”. “alegori" berasal dari bahasa Yunani, allegorein, artinya secara harfiah “bicara yang sebaliknya”. Dalam pengertian umum “alegori” berarti bicara satu hal tapi maksudnya adalah hal lain.

Terakhir, buku ini sungguh layak dibaca bagi siapa pun yang masih tetap berbahasa. Namun mungkin saja menjadi sudah tidak layak lagi, kecuali jika memang sudah tidak lagi berbahasa.   

Wednesday, June 13, 2012

Realistisme Semester Tujuh


Awalnya menggebu-gebu dengan idealismenya. Meneriakkan semangat pergerakan berapi-api sampai mati pun seolah bakal diladeni. Itu sih sebenarnya masih mending dari pada mahasiswa yang santai seolah tidak ada beban pikiran sama sekali.

Ilustrasi: cincuncaycu.blogspot.com

Semua drastis berubah. Ketika sudah masuk semester tujuh. Semester tua yang meski belum terlalu tua. Seratus delapan puluh derajat berputar balik. Katanya semua butuh makan, apa arti menggebu-gebu kalau perut kosong melompong. Berharap dengan kiriman uang dari orangtua rasanya sudah malu untuk memintanya lagi.

Akhirnya, ditinggalkanlah idealis, dan yang tersisa tinggal realistis. Ada yang masuk dunia MLM, membuka laundry kiloan, menjadi penjaga warnet, sales marketing sebuah produk kesehatan, juru foto kawinan di sebuah studio, bertaubat menjadi marbot mushola, dan menjadi apa pun sejadi-jadinya.

Masih tetap idealis silahkan, menjadi realistis pun demikian, keduanya adalah pilihan.

Sunday, June 10, 2012

Desa Membangun Desa

Dari Ibu Kota seorang pemuda menempuh perjalanan selama delapan setengah jam untuk sampai tujuan. Menyusuri jalanan berkelak-kelok, menaiki lembah menukik tinggi, menurun tajam, menyeberangi jembatan kayu. Dalam malam gelap, sunyi, hanya suara alam yang berbunyi dari balik pepohonan lebat.

Akhirnya sampailah si pemuda di sebuah desa bernama Mandalamekar. Sebuah desa yang sudah tak terbayang desanya, dalam benak si pemuda pun berkata kalau desa ini sungguh lebih desa daripada desanya sendiri. Muncul sebuah tanya, apakah ini masih Indonesia?

Malam itu Mandalamekar begitu ramai tak seperti biasa. Banyak tamu datang dari berbagai penjuru, lebih khusus mereka yang berasal dari kawasan jalur selatan jawa. Beberapa dari luar jawa pun tak mau ketinggalan untuk mendarat di Mandalamekar, seperti yang sudah terlihat ada teman-teman dari Kalimantan Tengah.

Spanduk Selamat Datang

Oh! ternyata. Mulai Sabtu itu, 02 Juni 2012, sampai Selasa, 05 Juni 2012 kemarin. Mandalamekar sedang menggelar Festival Jawa Kidul, sebuah hajatan besar dunia pedesaan Jawa bagian Selatan. Bukanlah tersesat si pemuda sampai ke desa ini. Melainkan ia menyengajakan diri datang atas undangan dari Kepala Desa Mandalamekar, Bapak Yana Noviadi saat beberapa waktu lalu bertemu di sebuah gedung samping Monas Jakarta. Kedatangannya tak lain karena ia sangat tertarik dengan pembahasan tentang desa.

Kepala Desa Mandalamekar, Yana Noviadi sedang diwawancarai wartawan.

Hajatan besar ini digagas oleh jaringan Gerakan Desa Membangun (GDM), sebagai ajang pertemuan dan bertukar pikiran bagi desa-desa anggota jaringannya. Tersebar di Kabupaten Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Banyumas, Ciamis, Tasikmalaya, Cianjur, Garut, Lebak, dan Sukabumi. Hingga saat ini sudah ada 100 desa yang menjadi anggota. Gerakan Desa Membangun sendiri merupakan gagasan jejaring desa untuk meningkatkan kemampuan dan sumber daya desa guna mewujudkan kemandirian dan kedaulatan desa.

Selama empat hari berlalu dengan penuh kebersamaan. Banyak hal terkait tentang desa dibahas dalam beberapa rangkaian acara, dikemas dalam berbagai tema diantaranya Pengenalanan Upaya Kolaborasi Desa Dalam Pembangunan Kawasan, Kebijakan TIK Pedesaan, Keterbukaan Informasi Publik, Tata Kelola Sumber Daya Desa, dan Kebijakan Desa.

GOR Desa sebagai ruang seminar

Serta ada tujuh workshop yang masih terkait dengan tema desa, yaitu workshop BlankOn Membangun, Bikin Peta Kampung, Blogger Ndeso, Media Komunitas Bikin Rakyat Makin Cerdas, Kritis Menonton TV, Tata Kelola Sumber Daya Alam Untuk Tingkatkan Ekonomi Desa, Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana, dan workshop membuat Video.

Blogger Ndeso salah satu tema workshop, dengan narasumber Suryaden dan Verry, bertempat di ruang kelas SMPN Jatiwaras

Sambil berlalu mengikuti berbagai rangkaian acara. Sebuah gagasan mendasar sungguh sangat menarik dan inspiratif tersaji dalam Gerakan Desa Membangun, yaitu bahwasannya sudah saatnya pembangunan dimulai justru dari kalangan masyarakat akar rumput yang berada di desa. Inilah kalau bisa dibilang “mazdhab” Gerakan Desa Membangun, menempatkan peranan masyarakat dalam pembangunan sebagai subjek yang bersifat aktif.

Berbeda dengan konsep membangun desa, yang bersifat dari atas ke bawah, sehingga masyarakat tidak banyak berperan. Makanya disebut desa membangun bukan membangun desa. Dari desa, untuk desa, dan oleh desa. Sebuah gerakan pembangunan yang demokratis dan egaliter. Gerakan mulia desa membangun desa untuk nusantara yang lebih maju dan sejahtera, karena kemajuan dan kesejahteraan bangsa ditentukan dari kemandirian dan kedaulatan masyarakat desa.

Balai Desa Mandalamekar

Bersyukur si pemuda bisa berkesempatan mengikuti Festival Jawa Selatan di Mandalamekar yang telah membuka banyak wawasan terkait dengan dunia desa. Satu semangat, satu kata untuk kita semua. Merdesa! Salam merdesa.

Imam FR Kusumaningati
Jurnalis Warga www.akumassa.org
Penulis buku Jurnalisme Warga,
berjudul Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!

Friday, June 8, 2012

Ketangguhan Twitter Untuk Ber-Citizen Journalism

“Breaking News hanya dengan 140 karakter, Twitter sungguh menakjubkan” (Amy Gahran).

Teman-teman pembaca sekalin yang baik hati dan suka membaca sebuah cerita. Maka dari itu, untuk menjelaskan ketangguhan Twitter untuk Ber-Citizen Journalism izinkanlah saya sejenak bercerita.
Jadi begini. Pagi kala itu tidak seperti sebagaimana biasanya pagi. Walau terik matahari tetap masih menyinari pagi. Namun benar-benar pasti pagi ini bisa menjadi cerita pagi di pagi-pagi esok hari. Walau bukan cerita yang mengenakkan dan bisa menambah nafsu sarapan pagi. Ini adalah suatu pagi yang sangat mengguncang dan mencekang pagi.

Kawasan Kuningan Jakarta Selatan tidak lagi menguning indah penuh gairah. Melainkan memerah merekah berapi bertumpah darah, berserakan serpihan kaca-kaca dan puing-puing. Dua buah ledakan dahsyat menjadi sarapan pagi di kawasan Kuningan pagi itu. Tepatnya terjadi di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, pada hari Jum’at 17 Juli 2009.

Daniel Tumiwa, salah satu pengunjung hotel Ritz Carlton, memposting tweet diakun twitternya, “Bom @ marriot and ritz Carlton kuningan Jakarta”. Tweet ini di posting sesaat setelah ledakan terjadi, ketika itu dia masih berada di lantai 26. Postingan itu kemudian dilanjutkan dengan sejumlah posting susulan serupa oleh orang lain, sehingga banyak diklaim ini merupakan kali pertama informasi mengenai peristiwa itu disebarluaskan ke publik.  Menurut Daniel, seperti disampaikannya sendiri pada fitur komentar di sebuah berita pada Kompas Online, lantaran postingannya yang termasuk “breaking news” tersebut, dirinya langsung mendapatkan permintaan wawancara dari sejumlah media internasional, termasuk CNN dan BBC (www.donnybu.blogdetik.com, 2009).

Sungguh dahsyat, peristiwa yang baru saja terjadi bisa langsung dipublikasikan dengan selisih waktu beberapa detik saja oleh Daniel Tumiwa, seorang warga biasa – bukan jurnalis professional, yang kebetulan berada di lokasi kejadian. Meski informasi yang diberikan sangat singkat, namun itu informasi yang sangat penting. Dengan berbagi informasi tersebut, secara tidak sadar Daniel telah ber-Citizen Journalism. Daniel telah menjadi Citizen Journalist atau Jurnalis Warga.

Baik, teman-teman pembaca sekalian. Bagaimana, sudahkah terbayang ketangguhan dari sebuah mikro blog yang bernama Twitter untuk ber-Citizen Journalism?

Saya masih memiliki sebuah tulisan tentang 10 alasan menggunakan Twitter sebagai media Citizen Journalism. Namun nampaknya akan menjadi terlalu panjang tulisan ini, jika sekaligus saya tuangkan disini. Lebih baik, saya sambung lain waktu saja.

Atau sebenarnya topik 10 alasan menggunakan Twitter sebagai media Citizen Journalism ini, juga saya bahas di buku saya yang berjudul Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!Serba-serbi tentang Citizen Journalism dan panduan praktis menjadi Citizen Journalist untuk pemula. Diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Buku ini baru akan beredar pada bulan maret di toko-toko buku se-Indonesia, terkhusus di Gramedia.

Jika kondisi waktu dan doku memungkinkan, silahkan segera dipinang sebelum kehabisan.

Terimakasih. Kita sambung dipostingan mendatang.

Salam pinang!

Wednesday, June 6, 2012

Nasi Uduk


Semoga kau tak punah dan termakan oleh waktu. Kaulah kudapan legendaries. Kudapan nostalgia Jakarta (betawi) yang masih bertahan oleh arus jaman. Meski sudah banyak makanan serba cepat yang mengancam nyawamu. Tetaplah bertahan wahai nasi uduk.

Salam nasi uduk!

Citizen Journalism dan Metamorfosis Media

Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan atau institusi pers. Tepat diujung Metemorfosis Media yang berkembang, menghasilkan sebuah media baru yang salah satunya berupa internet. Kecanggihan internet memungkinkan komunikasi yang lebih dinamis, karena kemampuannya melakukan komunikasi dua arah.
Ilustrasi: http://mung-pujanarko.blogspot.com

Metamorfosis Media juga menumbuhkembangkan sebuah bentuk jurnalisme gaya baru. Jurnalisme yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa harus berpendidikan khusus di bidang jurnalistik, yaitu Citizen Journalism (Jurnalisme Warga). Warga bukan lagi menjadi sekadar objek, melainkan sekaligus menjadi subjek dari proses jurnalisme.

Media dengan berjalannya waktu mengalami sebuah metamorfosis atau perubahan bentuk secara perlahan namun pasti. Secara umum yang sering kita dengar, yaitu berawal dari media cetak, kemudian elektronik, hingga akhirnya sampai pada bentuk media online berupa internet yang sangat canggih.

Lukas Luwarso menjelaskan kecanggihan dari hasil metamorfosis media saat ini dengan pernyataannya bahwa media massa terus bertransformasi, era media tradisional menjelang usai. Era broadsheet membawa satu koran untuk satu pembaca; broadcast membawa satu acara ke jutaan pemirsa; broadband membawa jutaan media (cetak, siaran, dan cyber) ke satu orang.

Mendapati kecanggihan dari perkembangan teknologi media adalah karunia dari keberuntungan perjumpaan dengan zaman. Meski Citizen Journalism bukan lahir dari perkembangan ini, namun perjumpaannya dengan teknologi media yang canggih menjadikannya semakin populer dan tren. Metamorfosis media memberi kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan Citizen Journalism (Jurnalisme Warga).

Media baru berupa internet berhasil menghadirkan ruang publik baru yang semakin luas. Menjadi lahan tumbuh suburnya Citizen Journalism (Jurnalisme Warga). Blog, Facebook, Twitter, Youtube, Flickr, Sosial Blog, dan situs-situs berbasis Citizen Journalism (Jurnalisme Warga) menjadi media yang empuk untuk Ber-Citizen Journalism.
 
Yang menarik, tumbuhkembangnya media mulai dari media cetak hingga media online yang sangat canggih, bukanlah menjadi sebuah ekosistem yang saling membunuh, melainkan justru terbentuk sebuah kolaborasi yang saling melengkapi. Kemunculan media baru memang selalu mendatangkan ancaman pada eksistensi media lama, namun perlu diingat itu tidak pernah benar-benar mematikannya. Allright!