Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa

akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa...

Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner

Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman...

Resensi Buku "Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!" oleh Omjay

Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati...

Ini Soal YouTube, Lebih Dari Sekadar Untuk Narsis

Setelah Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Briptu Norman Kamaru yang belakangan menjadi ngetop...

Citizen Journalism dan Metamorfosis Media

Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan...

Showing posts with label Writing. Show all posts
Showing posts with label Writing. Show all posts

Tuesday, January 28, 2014

Agus Sampurno Menulis di Blog dengan Bloom Taxonomy

Semua orang bisa ngeblog. Perkembangan jaringan internet saat ini sangat memudahkan orang untuk bisa ngeblog di mana saja dan kapan saja. Selanjutnya yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana membuat konten blog yang menarik. Membuat konten yang bisa menarik banyak pembaca memerlukan kemampuan tersendiri.


Agus Sampurno yang dikenal sebagai guru kreatif karena blog pribadinya menggunakan nama domain www.gurukreatif.wordpress.com, menggunakan konsep bloom taxonomy untuk membuat konten-konten menarik di blognya. Hal ini sangat bagus dan baru pertama kali ini saya mendengarnya. Meskipun kalau bloom taxonomy sudah tidak asing lagi, bagi saya, sebagi mantan mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kependidikan, Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta.

Bloom taxonomy atau biasa diindonesiakan dengan taxonomi bloom merupakan tingkatan berpikir yang terdiri dari; 1) mengingat; 2) memahami; 3) menerapkan; 4) menganalisa; 5) mengevaluasi; dan 6) menciptakan. Nomer 1, 2, dan 3 adalah kategori tingkat berpikir rendah, sedangkan nomer 4, 5, dan 6 kategori tingkat berpikir tinggi.

Bagaimana Agus Sampurno menggunakan taxonomi bloom ini untuk membuat konten-konten menarik di blognya? Yaitu dengan membuat konten blog yang mengandung kategori tingkat berpikir tinggi; menganalisa, mengevaluasi, dan menciptakan. Alasan sederhananya bahwa ketiga hal tersebut tidak ada di buku. Sedangkan pasti banyak orang yang mencari dan membutuhkan sebuah analisa, evaluasi, dan ciptaan sesuatu yang baru.

Selain itu, konten blog yang berisi kategori tingkat berpikir rendah; mengingat, memahami, dan menerapkan, sudah sangat banyak. Apabila konten blog kita hanya berisi mengingat, memahami, dan menerapkan, apa bedanya blog kita dengan blog orang lain? Sehingga mengisi blog dengan konten tingkat berpikir tinggi menjadi celah, yang berarti sebuah kesempatan, untuk memancing banyak pengunjung dan pembaca berdatangan berkunjung membaca blog kita.

Agus Sampurno menyampaikan rahasianya dalam membuat konten blog ini, pada acara Teacher Writing Camp 3, yang mengangkat tema “Menulis dan Ngeblog,” dilaksanakan pada Minggu, 29 Desember 2013, di Wisma Universitas Negeri Jakarta. Teacher Writing Camp atau biasa disingkat TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional, diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi.

Monday, January 13, 2014

Dedi Dwitagama: Mau Jadi Ikan Sapu-sapu atau Arwana?

Mau jadi Mau jadi ikan Sapu-sapu atau Arwana? Sapu-sapu kalau di aquarium mainnya di mana? Kalau Arwana di aquarium mainnya di mana? Coba pikirkan! 

“Jadi, mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?” Dedi Dwitagama dengan gaya santai namun serius menanyakan berulang-ulang kepada para guru peserta Teacher Writing Camp 3, Minggu, 29 Desember 2013, di Wisma Universitas Negeri Jakarta. Teacher Writing Camp atau biasa disingkat TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional, diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi.


Saya menyimak apa yang disampaikan Dedi dari ujung barisan bangku paling belakang. Pada TWC ini, saya bukan peserta, panitia juga bukan. Lebih tepatnya mungkin saya di sini hanya bermain yang sesekali menjadi moderator di salah satu sesi penyampaian materi TWC.

Sekali lagi, “mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?”, Dedi Dwitagama menegaskan, kemudian menjelaskan bahwa ikan Sapu-sapu itu kalau di aquarium mainnya di bawah, kerjaannya membersihkan kotoran, dan sekalipun ke atas dia menempel di pinggi-pinggir kaca aquarium. Sedangkan Arwana mainnya di atas, di tengah, kadang juga di bawah, namun sering kali di atas, dan dia bisa bergerak ke seluruh bagian aquarium.

Sebagai manusia atau guru yang berkualitas, apabila diibaratkan dengan kedua jenis ikan tadi, kita harus menjadi Arwana; besar, enak dilihat, harganya mahal, bisa bergerak ke mana-mana. Sapu-sapu bukanlah ibarat manusia atau guru yang berkualitas; kecil, bentuknya jelek, sukanya di bawah atau disamping, harganya murah.
 
 

Sebagai guru yang akan menjadi Arwana caranya adalah dengan terus berlatih mengasah diri sendiri. Sisihkan waktu khusus untuk mengasah diri sendiri. Jangan habiskan waktu untuk bekerja habis-habisan untuk sekolah atau yayasan. Menghabiskan waktu sehabis-habisnya di sekolah atau yayasan tempat mengajar, yang menjadi besar kemudian adalah nama sekolah atau yayasan tersebut. Anda tetap kecil. Sekolah atau yayasan juga tidak akan mampu menghargai sepadan dengan apa yang sudah dilakukan, karena harus diakui ada keterbatasan dalam hal ini.

Bukan berarti tidak totalitas, yang harus dilakukan adalah menyisihkan waktu untuk mengasah diri sendiri. Membuat prestasi pada diri sendiri, kerjakan hobi, publikasikan, dan berjejaring. Supaya bukan hanya sekolah atau yayasan yang namanya besar dan terkenal, namun nama diri sendiri juga bisa menjadi besar dan terkenal. Banyak sekali yang bisa dilakukan untuk menjadi besar dan terkenal yang salah satunya dengan menulis. Menulis adalah meninggalkan jejak, mengukir sejarah, setidaknya untuk diri sendiri.

Dedi Dwitagama mengakhiri penyampaian materinya dengan mengulangi lagi, “Jadi, mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?”     

Monday, January 6, 2014

Menjadi Moderator Teacher Writing Camp 3 Hari Kedua

Hari kedua Teacher Writing Camp (TWC) 3, Omjay bilang, “nanti sesi kedua, kamu moderator, ya, Mam!”. Segera saya jawab, “siap Om”. Padahal saya belum tau materi apa yang akan disampaikan dan siapa narasumbernya. Malamnya, ketika menginap di Wisma Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saya memang sudah persiapan mental untuk menjadi moderator lagi, itu saja, tanpa berpikir mau memoderatori materi apa dan dengan narasumber siapa.


Saya hanya bisa bilang “siap Om”, karena Omjay adalah penggagas dibalik konsep TWC  yang merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional ini. TWC 3 diikuti sekitar 45 guru dari berbagai daerah di Indonesia, diselenggarakan di Wisma Universitas Negeri Jakarta selama dua hari, sabtu dan minggu, 28 dan 29 Desember 2013.TWC 3 kali ini mengangkat tema “Menulis dan Nge-blog”. TWC diselenggarakan setiap 6 bulan sekali oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi. TWC 1 dan 2 sudah berlangsung dengan sukses setahun yang lalu.

Setelah saya menanyakan ke panitia, materi sesi kedua adalah menerbitkan buku sendiri, diisi oleh Bapak Alpiyanto dan Bapak Thamrin Sonata. Akhirnya waktunya tiba, saatnya masuk sesi kedua. Bapak Alpiyanto menyampaikan bahwa buku yang sukses untuk dapat diterbitkan sendiri adalah buku yang mengandung unsur memberi solusi, inspirasi, dan motivasi. Sedangkan Bapak Thamrin Sonata lebih menekankan bahwa menulis buku sekarang bisa dimulai dari ngeblog, kemudian nanti bisa dijadikan buku, ngeblog merupakan bagian dari menabung naskah buku.


Menerbitkan buku sekarang sungguh sangat mudah dengan teknologi digital printing. Terdapat fasilitas print on demand (PoD), yaitu kita bisa mengeprint atau mencetak buku sesuai permintaan tanpa batal minimal cetak. Seperti definisi dari Wikipedia; print on demand (PoD) is a printing technology and business process in which new copies of a book (or other document) are not printed until an order has been received, which means books can be printed one at a time. 

Menjadi moderator TWC dalam dua sesi, di hari pertama dan kedua, memberi saya banyak pengalaman. Biasanya saya menjadi narasumber, namun kali ini justru menjadi moderator. Sedikit berbeda, menjadi seorang moderator harus memiliki kemampuan mengatur berjalannya seminar, mulai dari pembuka, penyampaian materi, tanya jawab, dan penutup. Terimakasih untuk Omjay dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang bekasi sudah mempercayai saya menjadi moderator di TWC 3.

Thursday, January 2, 2014

Menjadi Moderator Teacher Writing Camp 3

Ketika ada seorang guru mengajar, namun muridnya cenderung tidak perhatian, mengantuk, bahkan ada yang tertidur, siapakah yang harus dibangunkan? Jawabannya, yang harus dibangunkan adalah gurunya.


Pepatah Tionghoa kuno itu saya gunakan sebagai kata pembuka ketika saya menjadi moderator Teacher Writing Camp 3 atau TWC 3 di hari pertama, sabtu, 28 Desember 2013. Saya membawakan penyampaian materi sesi ketiga, di siang bolong, kurang lebih pukul setengah dua, dan setelah makan siang. Bayangkan? Bagi saya ini sesi yang amat sangat rawan. Beruntunglah, pepatah tionghoa kuna tadi lumayan bisa membangkitkan suasana.

TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional. TWC 3 mengangkat tema “Menulis dan Nge-blog”. TWC 3 diikuti sekitar 45 guru dari berbagai daerah di Indonesia, diselenggarakan di Wisma Universitas Negeri Jakarta selama dua hari, sabtu dan minggu, 28 dan 29 Desember 2013. TWC diselenggarakan setiap 6 bulan sekali oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi. TWC 1 dan 2 sudah berlangsung dengan sukses setahun yang lalu. Penggas dibalik konsep TWC adalah seorang guru dan juga blogger bernama Wijaya Kusumah atau sering dipanggil Omjay.

Sesi ketiga di hari pertama TWC, diisi dengan materi bagaimana mengirimkan tulisan di media online dan cetak. Tepat di sebelah kana saya, sudah ada orang yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Pertemuan terakhir saya dengannya sekitar empat bulan yang lalu, saya diinterview olehnya sebagai kandidat calon Moderator Kompasiana. Orang yang saya maksud adalah Iskandar Zulkarnaen; editor Kompasiana, blogger, penulis, dan juga seorang ayah yang baik, sudah siap untuk menyampaikan materinya.


Meski di siang bolong, IskandarZulkarnaen atau biasa dipanggil Isjet menyampaikan materi dengan penuh semangat, disambut sebaliknya dari Bapak dan Ibu guru peserta TWC menyimak dengan penuh antusias. “Mengirimkan tulisan ke media cetak maupun online, sebelumnya harus tahu karakteristik media tersebut, namun yang lebih mudah adalah Bapak dan Ibu guru sekalian bisa mempublikasikan tulisan di blog masing-masing,” sepotong kalimat Mas Isjet dalam penyampaian materinya.

Setelah penyampaian materi, saatnya masuk pada sesi tanya jawab. Banyak sekali peserta yang ingin bertanya, namun karena keterbatasan waktu hanya enam penanya yang bisa mengajukan pertanyaan. Ada satu pertanyaan yang menggelitik, “di Kompasiana sering kali ada ajang kompetisi kepenulisan, kenapa bisa begitu?”, tanya salah satu peserta. “dulu, perusahaan atau instansi mengundang wartawan untuk konferensi pers bermaksud mensosialisasi produk atau programnya, namun sekarang keadaan sudah berubah, perusahaan dan instansi tersebut melakukan jemput bola, mengundang keterlibatan warga”, jawab Mas Isjet.

Satu hal yang kemudian tertangkap di benak saya, warga atau warga dunia maya khususnya, lebih khusus lagi adalah blogger, sepertinya semakin diperhitungkan peranannya. Ini merupakan kabar gembira. Hingga akhirnya, diakhir acara saya menanyakan kepada Bapak dan Ibu guru peserta TWC, apakah masing-masing dari mereka sudah memiliki blog. “Karena orang yang tidak memiliki blog di dunia maya, itu ibarat orang yang tidak memiliki muka di dunia nyata.” Kalimat penutup saya, sebagai moderator, mengakhiri sesi penyampaian materi ketiga TWC 3 hari pertama.   

Tuesday, December 4, 2012

Bentuk-bentuk Citizen Journalism

Teman-teman pembaca, blogger, dan para citizen Journalist!. Setelah membaca tulisan Steve Outing, seorang editor senior The Poynter Institute for Media Studies berjudul The 11 Layers of Citizen Journalism yang diterbitkan tahun 2005. Jadi begini, menurut Steve Outing bentuk-bentuk Citizen Journalism itu dibagi ke dalam 11 bentuk, yaitu:

1. Opening Up to Public Comment
Situs di internet menyediakan tempat (kolom) komentar dari publik. Pembaca diperbolehkan untuk bereaksi, mengkritik, memuji, atau memberi tambahan ke dalam berita yang ditulis oleh jurnalis profesional dalam kolom tersebut.
2. The Citizen Add-On Reporter
Menambahkan pendapat warga sebagai bagian berita yang ditulis oleh jurnalis profesional. Warga diminta menuliskan pengalamannya yang berkaitan dengan berita tersebut.

3. Open-Source Reporting
Sebuah bentuk kolaborasi liputan dengan sumber terbuka, di mana jurnalis profesional bekerja sama dengan pembaca yang memiliki pengetahuan tentang suatu masalah yang sedang terjadi, saling melengkapi dalam menghasilkan sebuah berita yang akurat. Berita tetap ditulis oleh reporter profesional.
4. The Citizen Bloghouse
Bloghouse warga, yaitu blog-blog gratis yang bisa dimiliki oleh setiap orang, yang kemudian dapat digunakan untuk menuangkan cerita maupun gagasan kepada khalayak umum di seluruh penjuru dunia.
5. Newsroom Citizen ‘Transparency’ Blogs
Sebuah blog yang dimiliki oleh sebuah organisasi media sebagai bentuk transparansi dan komunikasi dengan pembacanya. Keluhan, kritik, atau pujian terhadap apa yang ditampilkan organisasi media tersebut dapat disampaikan di sini.
6. The Stand Alone Citizen Journalism Site: Edited Version
Laporan berita dari warga dengan melalui proses penyuntingan. Berita yang masuk melalui proses penyuntingan terlebih dahulu, dengan tetap mempertahankan keaslian tulisan.
7. The Stand Alone Citizen Journalism Site: Unedited version
Laporan berita dari warga pada sebuah situs, tanpa melalui proses penyuntingan. Dalam versi ini, berita bisa langsung muncul seketika setelah diposting.
8. Add a Print Edition
Merupakan gabungan dari The stand-alone citizen-journalism site dengan edisi cetak.
9. The Hybrid: Pro + Citizen Journalism
Penggabungan jurnalis profesional dengan jurnalis warga. Berita dari jurnalis profesional diperlakukan sama dengan berita dari jurnalis warga.
10. Integrating Citizen and Pro Journalism Under One Roof
Penggabungan jurnalisme profesional dengan jurnalisme warga dalam satu atap. Menggunakan jurnalis profesional, namun juga menerima tulisan dari jurnalis warga.
11. Wiki Journalism: Where the Readers are Editors
Jurnalisme Wiki adalah model jurnalisme yang menempatkan pembaca sebagai penyunting. Setiap orang bisa menulis, menyunting, maupun memberi komentar pada tulisan. Model jurnalisme ini dipopulerkan oleh Wikipedia.


Bloghouse warga, adalah beragam jenis blog yang sekarang banyak dimiliki setiap orang. Penyedia layanannya juga beragam, seperti blogger.com, multiply.com, wordpress.com, dan lainnya. Bahkan, setiap orang bisa memiliki lebih dari satu blog. Nah, berapakah blog yang Anda miliki?..he.

Namun perlu diingat bahwa tidak semua blog bisa masuk dalam kategori citizen journalism. Kenapa? Karena banyak sekali blog yang hanya berisi curhat-curhat si pemilik blog. Blog baru bisa disebut sebagai produk dari citizen journalism apabila dalam blog tersebut membahas sebuah topik tertentu yang sedang hangat dan terjadi interaksi publik. 

Selain blog ada juga situs yang menerima laporan warga, namun masih melalui proses penyuntingan terlebih dahulu, baru kemudian bisa ditayangkan dalam situs tersebut. Salah satunya adalah kanal citizen journalism di liputan6.com. Berita dikirimkan terlebih dahulu ke alamat redaksi citizen6.liputan6.com, setelah redaksi melakukan penyuntingan, baru tulisan ditayangkan. Sistem seperti ini, bermaksud untuk menjaga keakuratan informasi dan kredibilitas media.

Situs citizen journalism yang langsung bisa memunculkan artikel setelah diposting adalah seperti kompasiana.com. Dalam hal ini redaksi hanya berperan memoderasi atau melakukan pengawasan semata terhadap informasi yang di posting. Apabila terdapat unsur SARA, pencemaran nama baik, atau yang lainnya, redaksi berhak untuk menghapus tulisan tersebut dari situs.

Sementara itu, bentuk hybrid journalism, yaitu penggabungan antara jurnalis profesional dengan jurnalis warga, dapat dilihat pada situs berita Korea Selatan, ohmynews.com. Sejak berdirinya pada tahun 2000, situs ini telah menggunakan konsep hybrid journalism. Terry Flew and Jason Wilson (2008) menjelaskan OhmyNews dikenal sebagi situs pelopor citizen journalism yang paling populer di dunia. Saat ini memiliki 60.000 citizen journalist yang tersebar di seleruh dunia dengan 60 jurnalis tetap dan penyunting. Dalam bahasa Korea, OhmyNews memiliki lebih dari 750.000 pengunjung setiap hari. OhmyNews juga tersedia dalam versi bahasa Inggris dengan OhmyNews International.

Model Wiki Journalism adalah seperti wikipedia.org atau wikimu.com. Di sini siapa saja bisa menulis apa saja, menyunting tulisan yang sudah diposting sebelumnya oleh penulis lain, atau hanya sekadar memberi komentar. Namun partisipasi warga di sini nampaknya masih kalah dengan situs citizen journalism lainnya. Karena model wiki lebih populernya justru sebagai situs untuk mencari referensi. Jadi sering kali orang membukanya untuk mencari referensi, bukan untuk memposting tulisan.

Sekian teman-teman, semoga tulisan ini bermanfaat. Pembahasan lebih detail berkaitan dengan bentuk-bentuk Citizen Journalism, saya bahas dalam buku citizen journalism berjudul Jadi Jurnalis Itu Gampang!!! Buku pertama saya yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo.

Sunday, July 1, 2012

Resensi Buku “Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!” Oleh Omjay (Wijaya Kusumah)

Beberapa waktu lalu seseorang yang setelah saya kenal bernama Omjay, mengirim pesan melalui kompasiana memesan buku Saya. Dan alangkah kagetnya setelah menerima buku yang saya kirim, Omjay meresensinya dengat amat sangat cantik memukau, membuah hati ini terenyuh.

Berikut ini resensi buku Jadi Jurnalis Itu Gampang!!! oleh Omjay atau nama lengkapnya adalah Wijaya Kusumah. Saya kutip dari postingan di Kompasiana beralamat di http://media.kompasiana.com/buku/2012/04/06/resensi-buku-jadi-jurnalis-itu-gampang/ Tidak lain adalah berbagi informasi, dan mungkin boleh juga dianggap sedikit promosi, membuat resensi ini saya muat di blog sekadar berbagi tigabelase.com

………………………………………………………………..


Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati. Judulnya adalah Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!. Sebuah buku yang diterbitkan oleh PT. Elex Media Komputindo. Salah satu penerbit milik Kompas Group.

Kover buku Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!

Sebuah kalimat dengan tulisan tangan dan tanda tangan penulisnya membuat saya sangat bahagia sekali. Isinya: Istimewa untuk omjay. Yuk! Berbagi informasi. Buku yang ditulis oleh Mas Imam ini sungguh menginspirasi. Terutama bagi mereka yang ingin menjadi Jurnalis Warga atau istilah kerennya Citizen Journalist.

Buku ini merupakan panduan praktis menjadi citizen journalist untuk pemula dan merupakan serba-serbi ringkas tentang citizen journalism. Dengan bahasa yang mudah dicerna pembaca, buku ini sangat bagus dibaca oleh mereka yang berkeinginan menjadi seorang jurnalis. Baik itu jurnalis profesional maupun jurnalis warga.

Tanda tangan langsung penulis buku untuk Omjay

Buku Jadi Jurnalis Itu Gampang!!! Membuat saya tahu tentang bagaimana berkenalan dengan citizen journalism, bentuk-bentuk, bekal yang harus disiapkan, dan medianya. Selain itu, terdapat tip membuat karya citizen journalism, memanfaatkan media sosial sebagai medianya,  dan menjadi lebih menarik lagi dengan adanya daftar situs-situs citizen journalism yang di dalamnya ada blog keroyokan kompasiana, hehehe. 

Membaca buku Jadi Jurnalis Itu Gampang!!! Membuat saya akan kembali membeli bukunya sebagai hadiah bila saya menjadi narasumber dalam seminar dan workshop yang saya ikuti. Dengan harga cuma Rp. 25.000, buku ini sangat memacu dan memicu saya untuk menjadi seorang jurnalis warga.

Buku setebal 115 halaman ini menemani liburan saya bersama keluarga tercinta. Saya merekomendasikan buku ini karena semua orang bisa menjadi jurnalis. Ikut mengabarkan sesuatu yang mungkin tadinya tidak penting menjadi penting.

Seperti kisah cut putri yang merekam langsung kejadian tsunami di Aceh pada tahun 2004. Mulai sejak itu, media arus utama atau mainstream media mulai menyadari akan pentingnya citizen journalism. Mereka kemudian tergugah untuk menyediakan tempat untuk laporan berita yang datang dari warga masyarakat. Beberapa stasiun televisi bahkan membuat program khusus jurnalisme warga.

Dengan adanya media sosial seperti blog, facebook, dan twitter membuat orang semakin mudah saja menjadi jurnalis. Bahkan banyak wartawan dari media arus utama yang mengambil tulisan dari para citizen journalist karena menarik dan menyedot perhatian masyarakat. Seperti kasus email anggota DPR kita yang sedang studi banding ke Australia. Beritanya begitu cepat menyebar dan menjadi buah bibir di masyarakat.

Buku Jadi Jurnalis Itu Gampang!!! Yang ditulis oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini membuat saya kagum dengan pria kelahiran klaten, 18 april 1991 yang punya hobi memotret.

Saya tutup resensi buku ini dengan komentar Faried Wijdan Al Jufry, “Jurnalisme yang tulus dan tidak memihak adalah jurnalisme warga. Buku ini layak menjadi rujukan bagai para jurnalis warga pemula”. Selamat menjadi jurnalis ya! Beritakan dan ceritakan apa adanya dengan gaya bahasamu sendiri.

Salam blogger persahabatan


………………………………………………………………..

Terima kasih Omjay telah menyempatkan waktu meresensi buku Saya.

Omjay (Wijaya Kusumah): Teacher, Motivator, Trainer, Blogger.

Dan juga terima kasih kemarin telah mengundang Saya sebagai bintang tamu dalam acara Intip Buku di Bank Indonesia. Sungguh, Omjay memang sosok yang besar dan membesarkan orang lain.