Monday, January 6, 2014

Menjadi Moderator Teacher Writing Camp 3 Hari Kedua

Hari kedua Teacher Writing Camp (TWC) 3, Omjay bilang, “nanti sesi kedua, kamu moderator, ya, Mam!”. Segera saya jawab, “siap Om”. Padahal saya belum tau materi apa yang akan disampaikan dan siapa narasumbernya. Malamnya, ketika menginap di Wisma Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saya memang sudah persiapan mental untuk menjadi moderator lagi, itu saja, tanpa berpikir mau memoderatori materi apa dan dengan narasumber siapa.


Saya hanya bisa bilang “siap Om”, karena Omjay adalah penggagas dibalik konsep TWC  yang merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional ini. TWC 3 diikuti sekitar 45 guru dari berbagai daerah di Indonesia, diselenggarakan di Wisma Universitas Negeri Jakarta selama dua hari, sabtu dan minggu, 28 dan 29 Desember 2013.TWC 3 kali ini mengangkat tema “Menulis dan Nge-blog”. TWC diselenggarakan setiap 6 bulan sekali oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi. TWC 1 dan 2 sudah berlangsung dengan sukses setahun yang lalu.

Setelah saya menanyakan ke panitia, materi sesi kedua adalah menerbitkan buku sendiri, diisi oleh Bapak Alpiyanto dan Bapak Thamrin Sonata. Akhirnya waktunya tiba, saatnya masuk sesi kedua. Bapak Alpiyanto menyampaikan bahwa buku yang sukses untuk dapat diterbitkan sendiri adalah buku yang mengandung unsur memberi solusi, inspirasi, dan motivasi. Sedangkan Bapak Thamrin Sonata lebih menekankan bahwa menulis buku sekarang bisa dimulai dari ngeblog, kemudian nanti bisa dijadikan buku, ngeblog merupakan bagian dari menabung naskah buku.


Menerbitkan buku sekarang sungguh sangat mudah dengan teknologi digital printing. Terdapat fasilitas print on demand (PoD), yaitu kita bisa mengeprint atau mencetak buku sesuai permintaan tanpa batal minimal cetak. Seperti definisi dari Wikipedia; print on demand (PoD) is a printing technology and business process in which new copies of a book (or other document) are not printed until an order has been received, which means books can be printed one at a time. 

Menjadi moderator TWC dalam dua sesi, di hari pertama dan kedua, memberi saya banyak pengalaman. Biasanya saya menjadi narasumber, namun kali ini justru menjadi moderator. Sedikit berbeda, menjadi seorang moderator harus memiliki kemampuan mengatur berjalannya seminar, mulai dari pembuka, penyampaian materi, tanya jawab, dan penutup. Terimakasih untuk Omjay dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang bekasi sudah mempercayai saya menjadi moderator di TWC 3.

0 comments:

Post a Comment