Thursday, June 14, 2012

Bahasa!

Seandainya sumpah pemuda terlambat diikrarkan delapan puluh tahun, kemungkinan besar yang tertulis bukan lagi “Kami putra dan putri Indonesia…”, melainkan “Kita putra dan putri Indonesia…”. Konsep “kita” dan “kami” adalah kekayaan bahasa Indonesia yang tidak dimiliki bahasa lain. (Qaris Tajudin, “Kita putra dan putri Indonesia”).

Mari kita perharikan beberapa contoh berikut ini. (1) “Busway seruduk beringin, lima luka”, (2) “Penumpang busway tewas misterius”, (3) “Saatnya busway tiba di terminal Blok M”. Padahal apa sebenarnya arti kata “busway”? (J. Daniel Parera, “Salah Kaprah Proyek Busway”).

Dua penggal paragraf dari esai bertema bahasa itu sekadar bagian dari 69 lainnya yang lebih menggelitik. Mengutak-atik atau lebih tepatnya mengkaji bahasa dari sisi ilmu bahasa maupun mendiskusikan pengaruh antara bahasa dan ilmu budaya. Disarikan dari rubrik Bahasa! majalah TEMPO. Sengaja dibukukan supaya bisa dibaca dan didiskusikan lebih luas serta lebih lama di masyarakat pemakai bahasa Indonesia.


Buku berjudul Bahasa! Kumpulan 69 Tulisan Bahasa di Majalah TEMPO, yang sebenarnya tidak sengaja Saya temukan diantara deretan buku di Perpustakaan Utama UIN Jakarta, memiliki tebal 292 halaman, diterbitkan pertama kali pada 2008 oleh Pusat Data dan Analisa TEMPO.

Waktu itu seketika Saya tertarik karena di antara para penulisnya adalah Goenawan Muhammad, Sapardi Djoko Damono, J. Daniel Parera, dan Ayu Utami, sebuah nama yang sudah tidak asing lagi. Meski secara keseluruhan terdapat 24 penulis. Maka tanpa dilihat terlebih dulu apa isinya, daripada keluar perpustakaan tidak meminjam buku sama sekali, iseng-iseng Saya meminjamnya.  

Beruntung Saya bisa membaca buku yang banyak membuka wacana perihal kebahasaan ini. Sehingga salah satu diantaranya bisa memahami dinamika kebahasaan dalam kehidupan keseharian masyarakat, yaitu berkaitan dengan mengubah bunyi menjadi aksara dan mengubah aksara menjadi bunyi. Seringkali masih banyak kesalahan di masyarakat dalam melakukannya. Memang kedua aktivitas itu perlu sedikit banyak pengetahuan untuk bisa melakukannya. Misalkan fotocopy, foto-copy, photo-kopi, fhotocopy, dan masik banyak yang lainnya. Coba sekarang ucapkan kata terakhir, fhotocopy. Alangkah susahnya mengucapkan kata fho.
 
Sekarang ijinkan Saya mengutip esai Soejono Dardjowidjojo berjudul Adakah Logika dalam Bahasa?. Bahwa, “Bahasa adalah produk sejarah pertumbuhan manusia, dan bahasa hidup serta berkembang berdasarkan kreativitas para pemakainya. Selama pemakai ini manusia, selama itu pula ada variasi yang berbeda dari satu manusia ke manusia lain”

Bahasa memang sangat dinamis, sehingga bisa-bisa membuat bingung. Beruntung buku ini ditutup dengan esai Goenawan Muhammad yang berjudul Bingung? Katanya dengan mengutip Paul de Man, seorang teoritikus sastra. Berpendapat bahwa bahasa secara hakiki mengandung kemungkinan untuk bersifat “alegoris”. “alegori" berasal dari bahasa Yunani, allegorein, artinya secara harfiah “bicara yang sebaliknya”. Dalam pengertian umum “alegori” berarti bicara satu hal tapi maksudnya adalah hal lain.

Terakhir, buku ini sungguh layak dibaca bagi siapa pun yang masih tetap berbahasa. Namun mungkin saja menjadi sudah tidak layak lagi, kecuali jika memang sudah tidak lagi berbahasa.   

0 comments:

Post a Comment