Seandainya
sumpah pemuda terlambat diikrarkan delapan puluh tahun, kemungkinan besar yang
tertulis bukan lagi “Kami putra dan putri Indonesia…”, melainkan “Kita putra
dan putri Indonesia…”. Konsep “kita” dan “kami” adalah kekayaan bahasa Indonesia
yang tidak dimiliki bahasa lain. (Qaris Tajudin, “Kita putra dan putri Indonesia”).
Mari
kita perharikan beberapa contoh berikut ini. (1) “Busway seruduk beringin, lima
luka”, (2) “Penumpang busway tewas misterius”, (3) “Saatnya busway tiba di
terminal Blok M”. Padahal apa sebenarnya arti kata “busway”? (J. Daniel Parera,
“Salah Kaprah Proyek Busway”).
Dua
penggal paragraf dari esai bertema bahasa itu sekadar bagian dari 69 lainnya
yang lebih menggelitik. Mengutak-atik atau lebih tepatnya mengkaji bahasa dari
sisi ilmu bahasa maupun mendiskusikan pengaruh antara bahasa dan ilmu budaya.
Disarikan dari rubrik Bahasa! majalah
TEMPO. Sengaja dibukukan supaya bisa dibaca dan didiskusikan lebih luas serta lebih
lama di masyarakat pemakai bahasa Indonesia.
Buku
berjudul Bahasa! Kumpulan 69 Tulisan
Bahasa di Majalah TEMPO, yang sebenarnya
tidak sengaja Saya temukan diantara deretan buku di Perpustakaan Utama UIN Jakarta,
memiliki tebal 292 halaman, diterbitkan pertama kali pada 2008 oleh Pusat Data
dan Analisa TEMPO.
Waktu
itu seketika Saya tertarik karena di antara para penulisnya adalah Goenawan Muhammad,
Sapardi Djoko Damono, J. Daniel Parera, dan Ayu Utami, sebuah nama yang sudah
tidak asing lagi. Meski secara keseluruhan terdapat 24 penulis. Maka tanpa
dilihat terlebih dulu apa isinya, daripada keluar perpustakaan tidak meminjam
buku sama sekali, iseng-iseng Saya meminjamnya.
Beruntung
Saya bisa membaca buku yang banyak membuka wacana perihal kebahasaan ini. Sehingga
salah satu diantaranya bisa memahami dinamika kebahasaan dalam kehidupan
keseharian masyarakat, yaitu berkaitan dengan mengubah bunyi menjadi aksara dan
mengubah aksara menjadi bunyi. Seringkali masih banyak kesalahan di masyarakat
dalam melakukannya. Memang kedua aktivitas itu perlu sedikit banyak pengetahuan
untuk bisa melakukannya. Misalkan fotocopy,
foto-copy, photo-kopi, fhotocopy, dan masik banyak yang lainnya. Coba sekarang
ucapkan kata terakhir, fhotocopy.
Alangkah susahnya mengucapkan kata fho.
Sekarang
ijinkan Saya mengutip esai Soejono Dardjowidjojo berjudul Adakah Logika dalam Bahasa?. Bahwa, “Bahasa adalah produk sejarah
pertumbuhan manusia, dan bahasa hidup serta berkembang berdasarkan kreativitas
para pemakainya. Selama pemakai ini manusia, selama itu pula ada variasi yang
berbeda dari satu manusia ke manusia lain”
Bahasa
memang sangat dinamis, sehingga bisa-bisa membuat bingung. Beruntung buku ini
ditutup dengan esai Goenawan Muhammad yang berjudul Bingung? Katanya dengan mengutip Paul de Man, seorang teoritikus
sastra. Berpendapat bahwa bahasa secara hakiki mengandung kemungkinan untuk
bersifat “alegoris”. “alegori" berasal dari bahasa Yunani, allegorein, artinya secara harfiah “bicara yang sebaliknya”. Dalam
pengertian umum “alegori” berarti bicara satu hal tapi maksudnya adalah hal
lain.
Terakhir,
buku ini sungguh layak dibaca bagi siapa pun yang masih tetap berbahasa. Namun
mungkin saja menjadi sudah tidak layak lagi, kecuali jika memang sudah tidak
lagi berbahasa.






0 comments:
Post a Comment