Ketika ada seorang guru
mengajar, namun muridnya cenderung tidak perhatian, mengantuk, bahkan ada yang tertidur,
siapakah yang harus dibangunkan? Jawabannya, yang harus dibangunkan adalah
gurunya.
Pepatah Tionghoa kuno itu
saya gunakan sebagai kata pembuka ketika saya menjadi moderator Teacher Writing Camp 3 atau TWC 3 di
hari pertama, sabtu, 28 Desember 2013. Saya membawakan penyampaian materi sesi ketiga,
di siang bolong, kurang lebih pukul setengah dua, dan setelah makan siang.
Bayangkan? Bagi saya ini sesi yang amat sangat rawan. Beruntunglah, pepatah
tionghoa kuna tadi lumayan bisa membangkitkan suasana.
TWC merupakan pelatihan guru
menulis tingkat nasional. TWC 3 mengangkat tema “Menulis dan Nge-blog”. TWC 3
diikuti sekitar 45 guru dari berbagai daerah di Indonesia, diselenggarakan di
Wisma Universitas Negeri Jakarta selama dua hari, sabtu dan minggu, 28 dan 29
Desember 2013. TWC diselenggarakan setiap 6 bulan sekali oleh Ikatan Guru
Indonesia (IGI) cabang Bekasi. TWC 1 dan 2 sudah berlangsung dengan sukses
setahun yang lalu. Penggas dibalik konsep TWC adalah seorang guru dan juga
blogger bernama Wijaya Kusumah atau sering dipanggil Omjay.
Sesi ketiga di hari pertama
TWC, diisi dengan materi bagaimana mengirimkan tulisan di media online dan
cetak. Tepat di sebelah kana saya, sudah ada orang yang sudah tidak asing lagi
bagi saya. Pertemuan terakhir saya dengannya sekitar empat bulan yang lalu,
saya diinterview olehnya sebagai kandidat calon Moderator Kompasiana. Orang yang
saya maksud adalah Iskandar Zulkarnaen; editor Kompasiana, blogger, penulis,
dan juga seorang ayah yang baik, sudah siap untuk menyampaikan materinya.
Meski di siang bolong, IskandarZulkarnaen atau biasa dipanggil Isjet menyampaikan materi dengan penuh
semangat, disambut sebaliknya dari Bapak dan Ibu guru peserta TWC menyimak
dengan penuh antusias. “Mengirimkan tulisan ke media cetak maupun online,
sebelumnya harus tahu karakteristik media tersebut, namun yang lebih mudah
adalah Bapak dan Ibu guru sekalian bisa mempublikasikan tulisan di blog
masing-masing,” sepotong kalimat Mas Isjet dalam penyampaian materinya.
Setelah penyampaian materi,
saatnya masuk pada sesi tanya jawab. Banyak sekali peserta yang ingin bertanya,
namun karena keterbatasan waktu hanya enam penanya yang bisa mengajukan
pertanyaan. Ada satu pertanyaan yang menggelitik, “di Kompasiana sering kali
ada ajang kompetisi kepenulisan, kenapa bisa begitu?”, tanya salah satu
peserta. “dulu, perusahaan atau instansi mengundang wartawan untuk konferensi
pers bermaksud mensosialisasi produk atau programnya, namun sekarang keadaan
sudah berubah, perusahaan dan instansi tersebut melakukan jemput bola,
mengundang keterlibatan warga”, jawab Mas Isjet.
Satu hal yang kemudian
tertangkap di benak saya, warga atau warga dunia maya khususnya, lebih khusus
lagi adalah blogger, sepertinya semakin diperhitungkan peranannya. Ini
merupakan kabar gembira. Hingga akhirnya, diakhir acara saya menanyakan kepada
Bapak dan Ibu guru peserta TWC, apakah masing-masing dari mereka sudah memiliki
blog. “Karena orang yang tidak memiliki blog di dunia maya, itu ibarat orang yang tidak memiliki muka
di dunia nyata.” Kalimat penutup saya, sebagai moderator, mengakhiri sesi
penyampaian materi ketiga TWC 3 hari pertama.







0 comments:
Post a Comment