Awalnya
menggebu-gebu dengan idealismenya. Meneriakkan semangat pergerakan berapi-api
sampai mati pun seolah bakal diladeni. Itu sih sebenarnya masih mending dari
pada mahasiswa yang santai seolah tidak ada beban pikiran sama sekali.
![]() |
| Ilustrasi: cincuncaycu.blogspot.com |
Semua
drastis berubah. Ketika sudah masuk semester tujuh. Semester tua yang meski
belum terlalu tua. Seratus delapan puluh derajat berputar balik. Katanya semua
butuh makan, apa arti menggebu-gebu kalau perut kosong melompong. Berharap dengan kiriman uang dari orangtua rasanya sudah malu untuk memintanya lagi.
Akhirnya,
ditinggalkanlah idealis, dan yang tersisa tinggal realistis. Ada yang masuk
dunia MLM, membuka laundry kiloan, menjadi penjaga warnet, sales marketing
sebuah produk kesehatan, juru foto kawinan di sebuah studio, bertaubat menjadi marbot mushola, dan menjadi apa pun
sejadi-jadinya.
Masih
tetap idealis silahkan, menjadi realistis pun demikian, keduanya adalah pilihan.






0 comments:
Post a Comment