Wednesday, June 13, 2012

Realistisme Semester Tujuh


Awalnya menggebu-gebu dengan idealismenya. Meneriakkan semangat pergerakan berapi-api sampai mati pun seolah bakal diladeni. Itu sih sebenarnya masih mending dari pada mahasiswa yang santai seolah tidak ada beban pikiran sama sekali.

Ilustrasi: cincuncaycu.blogspot.com

Semua drastis berubah. Ketika sudah masuk semester tujuh. Semester tua yang meski belum terlalu tua. Seratus delapan puluh derajat berputar balik. Katanya semua butuh makan, apa arti menggebu-gebu kalau perut kosong melompong. Berharap dengan kiriman uang dari orangtua rasanya sudah malu untuk memintanya lagi.

Akhirnya, ditinggalkanlah idealis, dan yang tersisa tinggal realistis. Ada yang masuk dunia MLM, membuka laundry kiloan, menjadi penjaga warnet, sales marketing sebuah produk kesehatan, juru foto kawinan di sebuah studio, bertaubat menjadi marbot mushola, dan menjadi apa pun sejadi-jadinya.

Masih tetap idealis silahkan, menjadi realistis pun demikian, keduanya adalah pilihan.

0 comments:

Post a Comment