Ketika
sebuah peristiwa terjadi, siapakah yang boleh meliput? Apakah hanya jurnalis
profesional saja yang boleh meliputnya?
Sebuah
bentuk jurnalisme gaya baru telah muncul dan sedang menjadi tren di masyarakat
terutama di kalangan masyarakat pengguna internet. Setiap warga, siapa saja,
meski hanya warga biasa, tanpa harus berpendidikan jurnalistik sekalipun,
sekarang bisa meliput sebuah peristiwa. Seorang warga biasa bisa melakukan
kegiatan jurnalisme sesuai dengan gayanya sendiri. Maksud dari warga biasa adalah
seorang warga yang bukan berstatus sebagai jurnalis profesional.
Kegiatan
jurnalisme yang dilakukan warga biasa masih tetap sama pengertiannya sebagai
kegiatan seputar aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan
informasi yang biasanya dilakukan oleh jurnalis profesioanal. Informasi itu
dapat berupa tulisan, gambar, foto, video, atau tuturan (laporan lisan).
Mengenal Sebuah Jurnalisme Gaya Baru
Jurnalisme
gaya baru itu bernama Citizen Journalism atau
Jurnalisme Warga. Dalam jurnalisme warga setiap warga adalah pewarta. Warga
bukan lagi hanya sebagai objek dari sebuah pemberitaan media semata, namun
warga bisa menjadi objek maupun sekaligus subjek dari sebuah pemberitaan.
Semakin menarik lagi, jurnalisme warga selain memungkinkan warga meliput sebuah
peristiwa, warga juga bisa menjadi editor, redaktur, pembaca, bahkan membuat
medianya sendiri.
Seperti manusia yang memiliki banyak julukan dan
nama, ternyata Jurnalisme Warga pun begitu. Jurnalisme Warga juga dikenal dengan nama Participatory Journalism, yaitu
tindakan seorang warga atau sekelompok warga yang berperan aktif dalam
proses pengumpulan, pelaporan, analisis, dan penyebaran berita dan informasi
(Shayne Bowman dan Chris Willis, 2003). Dalam
kesempatan lain Jurnalisme Warga juga disebut Grassroot Journalism oleh Gillmor (2004) yang
dimaknainya sebagai konsep jurnalisme “by the people for the people” Alias
jurnalisme dari warga, untuk warga. Menurut Gillmor, dengan munculnya
konsep Jurnalisme Warga, telah muncul
ekosistem media baru yang memungkinkan adanya percakapan yang memperkaya dialog
di tataran masyarakat sipil.
”It’s one of the hottest buzzwords in
the news business these days”, ternyata istilah Citizen Journalism saat ini merupakan
istilah yang paling sering diperbincangkan dalam perhelatan bisnis berita, diungkapkan
oleh Steve Outing (2005) editor senior The Poynter Institute for Media Studies.
Menjadi Seorang Jurnalis Warga
Seorang
warga yang meliput sebuah peristiwa disebut sebagai Citizen Journalist atau Jurnalis Warga. Menjadi jurnalis warga sangatlah
mudah, bisa dilakukan oleh siapa saja. Modal utama menjadi jurnalis warga adalah
hanya semangat untuk berbagi – The Spirit
of Sharing. Berbagi apa saja yang dilihat, temui, dan lakukan setiap hari.
Hal ini sekaligus menjadi pembeda yang paling mendasar antara jurnalis warga
dan jurnalis profesional.
Clyde H. Bentley guru besar
madya Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS, menjelaskan perbedaan nyata
antara jurnalis warga dengan jurnalis profesional. Seorang jurnalis warga
menuliskan pandangannya atas suatu peristiwa karena didorong oleh keinginan
untuk membagi apa yang dilihat dan diketahuinya. Sementara jurnalis profesional
yang bekerja di media massa, melakukan liputan karena penugasan. Terlihat
dengan jelas perbedaannya bahwa sebenarnya bentuk dasar peliputan yang
dilakukan jurnalis warga adalah to share
dan yang dilakukan jurnalis profesional adalah to cover.
Nadia Abdullah Jurnalis Warga
Revolusioner
Sungguh
terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman.
Saya baca dari situs VOA Indonesia berjudul Perempuan Muda Yaman Generasi Baru
Jurnalis Warga, yang diposting pada 12 Maret 2012. Membacanya lebih lanjut bisa
membuka link berikut ini http://www.voaindonesia.com/content/perempuan-muda-yaman-generasi-baru-jurnalis-warga-142533375/106060.html.
| Sumber foto: VOA Indonesia |
Nadia
mengabadikan revolusi Yaman tahun lalu menggunakan kamera amatir pemberian
ayahnya. "jika terjadi serangan terhadap kaum muda, kamu rekam dan kita
bisa kirim ke media", tutur ayahnya ketika memberi kamera tersebut. Pengiriman
berita keluar dari dunia dunia Arab mengenai pemberontakan yang terjadi di Yaman
pada saat itu sangat dibatasi oleh pemerintah. Para pemimpin Arab di Timur
Tengah dan Afrika Utara telah mencoba untuk membatasi liputan media.
Bermula
dari balik apartemennya, perempuan yang mengenakan jilbab seluruh badan atau
niqab ini, mendokumentasikan kerusuhan yang terjadi. Keluar dari rumah dan
tampil di muka publik bagi perempuan adalah tidak pantas dan mustahil dilakukan
kerena tradisi yang tertutup dan konservatif, ayahnya tidak mungkin
mengizinkannya. Namun terinspirasi dari revolusi yang terjadi di sekelilingnya,
Nadia memberanikan diri keluar dari apartemen, dan bahkan direstui oleh
ayahnya.
Ketika
berhasil keluar dari rumah, semua bisa didokumentasikannya. Nadia mendokumentasikan kekerasan yang dilakukan
pasukan pemerintah, dari meriam air hingga peluru. Mengambil video mayat di
jalanan, video klinik sementara yang penuh dengan orang yang terluka, video
seorang pria menggendong tubuh orang yang dicintai di kamar mayat. Atas
perjuangan itu semua, akhirnya para pengunjuk rasa dan jurnalis warga yang
menceritakan kisah mereka telah membantu menggulingkan penguasa yang telah
berkuasa begitu lama.
Perjuangan Nadia sungguh sangat mengagumkan. Nadia yang merupakan
penduduk atau warga biasa Yaman ini memiliki semangat tinggi untuk berbagi – spirit of sharing,
demi memperjuangkan revolusi. Ketika pemerintah membatasi pemberitaannya, Nadia
sebagai warga biasa telah berhasil mendobrak pembatasan itu dengan berperan
sebagai jurnalis warga yang melakukan aktivitas jurnalisme warga. Maka tidaklah salah jika menyebutnya sebagai jurnalis warga revolusioner, dan sungguh jurnalisme warga adalah jurnalisme
warga biasa yang luar biasa.
Nadia Abdullah ala Indonesia
Karena
menyimak Nadia, Saya jadi teringat dengan perempuan yang tidak kalah berjasanya
dalam pemberitaan atas sebuah peristiwa yang terjadi di Indonesia delapan tahun
silam. Masih ingatkah dengan sosok yang bernama Cut Putri?
Cut Putri adalah perempuan asli berdarah Aceh
yang berhasil merekam detik-detik ketika tsunami Aceh terjadi. Rekaman
video tersebut menggambarkan kejadian dahsyat yang meluluhlantakkan sebagian
provinsi paling barat Indonesia. Kemudian salah satu televisi nasional
menggunakan video yang direkamnya untuk ditayangkan. Masyarakat luas terenyuh
ketika melihat tayangan video tersebut, sehingga mereka tergugah untuk
mengulurkan tangannya membantu para korban.
Jasa
Cut Putri bukan hanya pada keberhasilannya merekam detik-detik tsunami. Cut
Putri juga sangat berjasa dalam menghadirkan wacana publik tentang bentuk jurnalisme
gaya baru yang bernama jurnalisme warga di Indonesia. Karena mulai sejak itu,
media arus utama mulai menyadari akan pentingnya jurnalisme
warga. Mereka kemudian tergugah untuk
menyediakan tempat untuk laporan berita yang datang dari warga. Beberapa stasiun televisi bahkan membuat
program khusus jurnalisme warga.
Menunggu Jurnalis Warga Berikutnya
Sunaryo
Adhiatmoko, seorang pekerja sosial dan pegiat jurnalisme warga pernah berpetuah
kepada saya begini, “percayalah, jurnalisme warga akan jadi kekuatan baru, sebagai
kontrol terhadap kekuasaan yang tak berpihak dan menyuarakan keadilan kaum
lemah, saat keadilan terbeli oleh uang dan kekuasaan”, ungkapnya.
Jurnalisme
Warga yang luar biasa ini perlu selalu digiatkan, mengingat peranannya dalam
sebuah perberitaan yang juga sangat luar biasa. Semoga nantinya akan muncul para jurnalis warga berikutnya yang bisa
membawa perubahan. Atau setidaknya, ketika saat ini kepemilikan media sudah
berpemilik oleh yang berkuasa dan berkepentingan, sehingga sering kali dalam
pemberitaannya terselip maksud tertentu, dan sudah tidak berpihak lagi kepada publik
atau warga, jurnalis warga bisa menyuarakan sendiri permasalahan-permasalahan
warga. Hidup di zaman yang sudah udzur ini, siapa lagi yang tulus menyuarakan
suara warga kecuali warganya sendiri.
Saya
sempat berangan suatu ketika VOA Indonesia bisa membuka rubrik khusus yang menerima
liputan dari warga. Sehingga akan memicu munculnya para jurnalis warga
berikutnya. Sambil berlalu sepertinya Saya sempat bermimpi angan itu telah
terwujud, entah apakah itu sekadar mimpi atau telah benar-benar menjadi
kenyataan.
Imam FR
Kusumaningati
Penulis buku Citizen Journalism (Jurnalisme Warga)
berjudul Jadi
Jurnalis Itu Gampang!!!
Sumber:
Bowman, Shayne dan
Chris Willis. 2003. We Media. United
States of America: The Media Center at The American Press Institute.
Gillmor, Dan. 2004. We The Media. United
States of America: O'Reilly Media, Inc.
Jurnal
observasi. 2010. Mengamati Fenomena
Citizen Journalism. Bandung: Simbiosa dan BP2i.
Kusumaningati, Imam FR. 2012. Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!. Jakarta:
Elexmedia Komputindo.





Jurnalisme Warga di Bidang Lingkungan Hidup harus perlu digalakkan sebagai kontrol sosial secara bersama-sama, untuk perbaikan kondisi lingkungan yang sudah rusak. Bahasan tentang jurnalisme lingkungan sangat penting, karena sekarang dan ke depan, ada isu-isu penting yang jadi perhatian dunia, diantaranya Hak Asasi Manusia, Lingkungan, Pendidikan dan Ekonomi (human rights, environmental, education, and economic). Salam hijau dan lestari. | Teguh Ardi Srianto - Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan - www.kjpl.or.id |
ReplyDeleteIya betul, masalah lingkungan hidup memang pelik. Perlu perhatian seluruh masyarakat untuk ikut bergerak bersama menjaga lingkungan.
DeleteKembali salam hijau dan lestari Mas Teguh Ardi Srianto, salam untuk teman-teman Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan yang lain. Semoga bisa jumpa suatu saat nanti.
Terimakasih sudah mampir di blog pribadi Saya.