Monday, June 25, 2012

Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner

Ketika sebuah peristiwa terjadi, siapakah yang boleh meliput? Apakah hanya jurnalis profesional saja yang boleh meliputnya?

Sebuah bentuk jurnalisme gaya baru telah muncul dan sedang menjadi tren di masyarakat terutama di kalangan masyarakat pengguna internet. Setiap warga, siapa saja, meski hanya warga biasa, tanpa harus berpendidikan jurnalistik sekalipun, sekarang bisa meliput sebuah peristiwa. Seorang warga biasa bisa melakukan kegiatan jurnalisme sesuai dengan gayanya sendiri. Maksud dari warga biasa adalah seorang warga yang bukan berstatus sebagai jurnalis profesional.

Kegiatan jurnalisme yang dilakukan warga biasa masih tetap sama pengertiannya sebagai kegiatan seputar aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan informasi yang biasanya dilakukan oleh jurnalis profesioanal. Informasi itu dapat berupa tulisan, gambar, foto, video, atau tuturan (laporan lisan).


Mengenal Sebuah Jurnalisme Gaya Baru

Jurnalisme gaya baru itu bernama Citizen Journalism atau Jurnalisme Warga. Dalam jurnalisme warga setiap warga adalah pewarta. Warga bukan lagi hanya sebagai objek dari sebuah pemberitaan media semata, namun warga bisa menjadi objek maupun sekaligus subjek dari sebuah pemberitaan. Semakin menarik lagi, jurnalisme warga selain memungkinkan warga meliput sebuah peristiwa, warga juga bisa menjadi editor, redaktur, pembaca, bahkan membuat medianya sendiri.

Seperti manusia yang memiliki banyak julukan dan nama, ternyata Jurnalisme Warga pun begitu. Jurnalisme Warga juga dikenal dengan nama Participatory Journalism, yaitu tindakan seorang warga atau sekelompok warga yang berperan aktif dalam proses pengumpulan, pelaporan, analisis, dan penyebaran berita dan informasi (Shayne Bowman dan Chris Willis, 2003). Dalam kesempatan lain Jurnalisme Warga juga disebut Grassroot Journalism oleh Gillmor (2004) yang dimaknainya sebagai konsep jurnalisme “by the people for the people” Alias jurnalisme dari warga, untuk warga. Menurut Gillmor, dengan munculnya konsep Jurnalisme Warga, telah muncul ekosistem media baru yang memungkinkan adanya percakapan yang memperkaya dialog di tataran masyarakat sipil.

”It’s one of the hottest buzzwords in the news business these days”, ternyata istilah Citizen Journalism saat ini merupakan istilah yang paling sering diperbincangkan dalam perhelatan bisnis berita, diungkapkan oleh Steve Outing (2005) editor senior The Poynter Institute for Media Studies.


Menjadi Seorang Jurnalis Warga

Seorang warga yang meliput sebuah peristiwa disebut sebagai Citizen Journalist atau Jurnalis Warga. Menjadi jurnalis warga sangatlah mudah, bisa dilakukan oleh siapa saja. Modal utama menjadi jurnalis warga adalah hanya semangat untuk berbagi – The Spirit of Sharing. Berbagi apa saja yang dilihat, temui, dan lakukan setiap hari. Hal ini sekaligus menjadi pembeda yang paling mendasar antara jurnalis warga dan jurnalis profesional.

Clyde H. Bentley guru besar madya Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS, menjelaskan perbedaan nyata antara jurnalis warga dengan jurnalis profesional. Seorang jurnalis warga menuliskan pandangannya atas suatu peristiwa karena didorong oleh keinginan untuk membagi apa yang dilihat dan diketahuinya. Sementara jurnalis profesional yang bekerja di media massa, melakukan liputan karena penugasan. Terlihat dengan jelas perbedaannya bahwa sebenarnya bentuk dasar peliputan yang dilakukan jurnalis warga adalah to share dan yang dilakukan jurnalis profesional adalah to cover.


Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner

Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman. Saya baca dari situs VOA Indonesia berjudul Perempuan Muda Yaman Generasi Baru Jurnalis Warga, yang diposting pada 12 Maret 2012. Membacanya lebih lanjut bisa membuka link berikut ini http://www.voaindonesia.com/content/perempuan-muda-yaman-generasi-baru-jurnalis-warga-142533375/106060.html.

Sumber foto: VOA Indonesia

Nadia mengabadikan revolusi Yaman tahun lalu menggunakan kamera amatir pemberian ayahnya. "jika terjadi serangan terhadap kaum muda, kamu rekam dan kita bisa kirim ke media", tutur ayahnya ketika memberi kamera tersebut. Pengiriman berita keluar dari dunia dunia Arab mengenai pemberontakan yang terjadi di Yaman pada saat itu sangat dibatasi oleh pemerintah. Para pemimpin Arab di Timur Tengah dan Afrika Utara telah mencoba untuk membatasi liputan media.

Bermula dari balik apartemennya, perempuan yang mengenakan jilbab seluruh badan atau niqab ini, mendokumentasikan kerusuhan yang terjadi. Keluar dari rumah dan tampil di muka publik bagi perempuan adalah tidak pantas dan mustahil dilakukan kerena tradisi yang tertutup dan konservatif, ayahnya tidak mungkin mengizinkannya. Namun terinspirasi dari revolusi yang terjadi di sekelilingnya, Nadia memberanikan diri keluar dari apartemen, dan bahkan direstui oleh ayahnya.

Ketika berhasil keluar dari rumah, semua bisa didokumentasikannya. Nadia mendokumentasikan kekerasan yang dilakukan pasukan pemerintah, dari meriam air hingga peluru. Mengambil video mayat di jalanan, video klinik sementara yang penuh dengan orang yang terluka, video seorang pria menggendong tubuh orang yang dicintai di kamar mayat. Atas perjuangan itu semua, akhirnya para pengunjuk rasa dan jurnalis warga yang menceritakan kisah mereka telah membantu menggulingkan penguasa yang telah berkuasa begitu lama.

Perjuangan Nadia sungguh sangat mengagumkan. Nadia yang merupakan penduduk atau warga biasa Yaman ini memiliki semangat tinggi untuk berbagi – spirit of sharing, demi memperjuangkan revolusi. Ketika pemerintah membatasi pemberitaannya, Nadia sebagai warga biasa telah berhasil mendobrak pembatasan itu dengan berperan sebagai jurnalis warga yang melakukan aktivitas jurnalisme warga. Maka tidaklah salah jika menyebutnya sebagai jurnalis warga revolusioner, dan sungguh jurnalisme warga adalah jurnalisme warga biasa yang luar biasa.


Nadia Abdullah ala Indonesia

Karena menyimak Nadia, Saya jadi teringat dengan perempuan yang tidak kalah berjasanya dalam pemberitaan atas sebuah peristiwa yang terjadi di Indonesia delapan tahun silam. Masih ingatkah dengan sosok yang bernama Cut Putri?

Cut Putri adalah perempuan asli berdarah Aceh yang berhasil merekam detik-detik ketika tsunami Aceh terjadi. Rekaman video tersebut menggambarkan kejadian dahsyat yang meluluhlantakkan sebagian provinsi paling barat Indonesia. Kemudian salah satu televisi nasional menggunakan video yang direkamnya untuk ditayangkan. Masyarakat luas terenyuh ketika melihat tayangan video tersebut, sehingga mereka tergugah untuk mengulurkan tangannya membantu para korban.


Jasa Cut Putri bukan hanya pada keberhasilannya merekam detik-detik tsunami. Cut Putri juga sangat berjasa dalam menghadirkan wacana publik tentang bentuk jurnalisme gaya baru yang bernama jurnalisme warga di Indonesia. Karena mulai sejak itu, media arus utama mulai menyadari akan pentingnya jurnalisme warga. Mereka kemudian tergugah untuk menyediakan tempat untuk laporan berita yang datang dari warga. Beberapa stasiun televisi bahkan membuat program khusus jurnalisme warga.


Menunggu Jurnalis Warga Berikutnya

Sunaryo Adhiatmoko, seorang pekerja sosial dan pegiat jurnalisme warga pernah berpetuah kepada saya begini, “percayalah, jurnalisme warga akan jadi kekuatan baru, sebagai kontrol terhadap kekuasaan yang tak berpihak dan menyuarakan keadilan kaum lemah, saat keadilan terbeli oleh uang dan kekuasaan”, ungkapnya.

Jurnalisme Warga yang luar biasa ini perlu selalu digiatkan, mengingat peranannya dalam sebuah perberitaan yang juga sangat luar biasa. Semoga nantinya akan muncul  para jurnalis warga berikutnya yang bisa membawa perubahan. Atau setidaknya, ketika saat ini kepemilikan media sudah berpemilik oleh yang berkuasa dan berkepentingan, sehingga sering kali dalam pemberitaannya terselip maksud tertentu, dan sudah tidak berpihak lagi kepada publik atau warga, jurnalis warga bisa menyuarakan sendiri permasalahan-permasalahan warga. Hidup di zaman yang sudah udzur ini, siapa lagi yang tulus menyuarakan suara warga kecuali warganya sendiri.

Saya sempat berangan suatu ketika VOA Indonesia bisa membuka rubrik khusus yang menerima liputan dari warga. Sehingga akan memicu munculnya para jurnalis warga berikutnya. Sambil berlalu sepertinya Saya sempat bermimpi angan itu telah terwujud, entah apakah itu sekadar mimpi atau telah benar-benar menjadi kenyataan.


Imam FR Kusumaningati

Penulis buku Citizen Journalism (Jurnalisme Warga)
berjudul Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!


Sumber:

Bowman, Shayne dan Chris Willis. 2003. We Media. United States of America: The Media Center at The American Press Institute.  
Gillmor, Dan. 2004. We The Media. United States of America: O'Reilly Media, Inc.
Jurnal observasi. 2010. Mengamati Fenomena Citizen Journalism. Bandung: Simbiosa dan BP2i.
Kusumaningati, Imam FR. 2012. Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!. Jakarta: Elexmedia Komputindo.

2 comments:

  1. Jurnalisme Warga di Bidang Lingkungan Hidup harus perlu digalakkan sebagai kontrol sosial secara bersama-sama, untuk perbaikan kondisi lingkungan yang sudah rusak. Bahasan tentang jurnalisme lingkungan sangat penting, karena sekarang dan ke depan, ada isu-isu penting yang jadi perhatian dunia, diantaranya Hak Asasi Manusia, Lingkungan, Pendidikan dan Ekonomi (human rights, environmental, education, and economic). Salam hijau dan lestari. | Teguh Ardi Srianto - Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan - www.kjpl.or.id |

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul, masalah lingkungan hidup memang pelik. Perlu perhatian seluruh masyarakat untuk ikut bergerak bersama menjaga lingkungan.

      Kembali salam hijau dan lestari Mas Teguh Ardi Srianto, salam untuk teman-teman Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan yang lain. Semoga bisa jumpa suatu saat nanti.

      Terimakasih sudah mampir di blog pribadi Saya.

      Delete