“Ketika
yang ilmiah, sistematis, dan formal itu hanya kedok belaka yang justru banyak
membohongi. Sekarang sudah saatnya untuk ngawur saja. Ngawur karena benar”
Begitulah kata Mbah Tejo, panggilan akrab Sujiwo
Tejo penulis buku Ngawur Karena Benar. Baik ketika diwawancarai oleh media,
maupun ketika berada di atas panggung saat acara bedah buku berlangsung.
Selama dua hari ditempat berbeda, saya selalu menguntit
presidennya Jancukers ini. Hari pertama (Rabu, 14 Maret 2012) saat launching
dan bedah buku di Taman Ismail Marzuki (TIM) di Galeri Cipta II. Sedangkan hari
kedua (Jum’at, 16 Maret 2012) saat bedah buku di Islamic Book Fair (IBF) di
Istora Senayan.
Kebetulan saya memang diajak oleh seorang teman
dari penerbit Imania, penerbit yang menerbitkan buku Ngawur Karena Benar, untuk
mendokumentasikan dua acara tersebut.
Launching buku ke-empat Mbah Tedjo ini berlangsung
sangat meriah dan hangat penuh keakraban. Diawali dengan aksi teaterikal singkat
dibalik tirai kain putih, sehingga menjadi siluet jika dilihat dari depan.
Setelah tirai dibuka, lagu berjudul goro-goro dinyanyikannya yang diakhiri
dengan meniup Saxofon dipenghujung lagu. Belum selesai sampai disini, Mbah Tejo
melanjutkan aksinya dengan menyuguhkan Stand Cuk Comedy, modifikasi dari Stand
Up Comedy yang saat ini sedang tren.
“kalau aku jadi presiden, perempuan yang sedang
“mens” harus dibebaskan dari segala tuntutan hukum, orang lagi “mens” kok siapa
yang bisa mengndalikan perasaannya, dalam negeri ngawur perempuan yang lagi
“mens” gak boleh kena tuntutan hukum dan wanita hamil harus didahulukan dijalan
raya, meskipun yang mau lewat itu mobil kepresidenan”, kata Mbah Tejo di Stand
Cuk Comedi-nya.
Setelah Mbah Tejo menyuguhkan Stand Cuk Comedy, barulah
kemudian masuk ke acara inti bedah buku yang langsung dimulai dengan tanya jawab.
Beberapa dari para Jancukers secara bergantian mengajukan pertanyaan. Yang mengajutkan diantara
Jancukers ternyata hadir Andrea Hirata, penulis buku laris Laskar Pelangi. Maka
disesi itu Andrea Hirata dipersilahkan untuk memberi apresiasi untuk buku
Ngawur Karena Benar.
“..menurut
saya sebuah buku itu harus punya “impact” pada masyarakat, dan inilah buku yang
ditunggu-tunggu, selamat untuk Sijiwo Tejo..” ucap Andrea Hirata.
Masih
banyak Jancukers yang ingin bertanya, namun karena malam sudah larut, sudah
saatnya Mbah Tejo mengakhiri keakraban ini dengan menyanyikan lagunya berjudul Titi
Kolo Mongso.
Meski
tidak seakrab saat di TIM, perjumpaan dengan Mbah Tedjo dilanjutkan dua hari
kemudia di panggung utama Islamic Book Fair, tabuh pukul 15.00 acara bedah buku
dimulai, dengan durasi hanya satu jam saja.
Di sini acara pun tidak kalah meriah dan akrab. Banyak
dari audiens yang antusias untuk bertanya. Namun karena jatah durasi acara
sesingkat itu, tidak semuanya bisa mengajukan pertanyaan.
Setelah acara selesai, masih selalu ada media yang
melakukan wawancara. Pastinyalah, ini tokoh sekelas Sujiwo Tejo, sosok nyentrik,
senyentrik kelasnya.










0 comments:
Post a Comment