Dari
Ibu Kota seorang pemuda menempuh perjalanan selama delapan setengah jam untuk
sampai tujuan. Menyusuri jalanan berkelak-kelok, menaiki lembah menukik tinggi,
menurun tajam, menyeberangi jembatan kayu. Dalam malam gelap, sunyi, hanya
suara alam yang berbunyi dari balik pepohonan lebat.
Akhirnya
sampailah si pemuda di sebuah desa bernama Mandalamekar. Sebuah desa yang sudah
tak terbayang desanya, dalam benak si pemuda pun berkata kalau desa ini sungguh
lebih desa daripada desanya sendiri. Muncul sebuah tanya, apakah ini masih Indonesia?
Malam
itu Mandalamekar begitu ramai tak seperti biasa. Banyak tamu datang dari
berbagai penjuru, lebih khusus mereka yang berasal dari kawasan jalur selatan
jawa. Beberapa dari luar jawa pun tak mau ketinggalan untuk mendarat di Mandalamekar,
seperti yang sudah terlihat ada teman-teman dari Kalimantan Tengah.
![]() |
| Spanduk Selamat Datang |
Oh! ternyata.
Mulai Sabtu itu, 02 Juni 2012, sampai Selasa, 05 Juni 2012 kemarin.
Mandalamekar sedang menggelar Festival Jawa Kidul, sebuah hajatan besar dunia
pedesaan Jawa bagian Selatan. Bukanlah tersesat si pemuda sampai ke desa ini. Melainkan
ia menyengajakan diri datang atas undangan dari Kepala Desa Mandalamekar, Bapak
Yana Noviadi saat beberapa waktu lalu bertemu di sebuah gedung samping Monas
Jakarta. Kedatangannya tak lain karena ia sangat tertarik dengan pembahasan
tentang desa.
![]() |
| Kepala Desa Mandalamekar, Yana Noviadi sedang diwawancarai wartawan. |
Hajatan
besar ini digagas oleh jaringan Gerakan Desa Membangun (GDM), sebagai ajang
pertemuan dan bertukar pikiran bagi desa-desa anggota jaringannya. Tersebar di
Kabupaten Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Banyumas, Ciamis, Tasikmalaya, Cianjur,
Garut, Lebak, dan Sukabumi. Hingga saat ini sudah ada 100 desa yang menjadi
anggota. Gerakan Desa Membangun sendiri merupakan gagasan jejaring desa untuk
meningkatkan kemampuan dan sumber daya desa guna mewujudkan kemandirian dan
kedaulatan desa.
Selama
empat hari berlalu dengan penuh kebersamaan. Banyak hal terkait tentang desa
dibahas dalam beberapa rangkaian acara, dikemas dalam berbagai tema diantaranya
Pengenalanan Upaya Kolaborasi Desa Dalam Pembangunan Kawasan, Kebijakan TIK
Pedesaan, Keterbukaan Informasi Publik, Tata Kelola Sumber Daya Desa, dan
Kebijakan Desa.
![]() |
| GOR Desa sebagai ruang seminar |
Serta
ada tujuh workshop yang masih terkait dengan tema desa, yaitu workshop BlankOn
Membangun, Bikin Peta Kampung, Blogger Ndeso, Media Komunitas Bikin Rakyat
Makin Cerdas, Kritis Menonton TV, Tata Kelola Sumber Daya Alam Untuk Tingkatkan
Ekonomi Desa, Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana, dan workshop membuat
Video.
![]() |
| Blogger Ndeso salah satu tema workshop, dengan narasumber Suryaden dan Verry, bertempat di ruang kelas SMPN Jatiwaras |
Sambil
berlalu mengikuti berbagai rangkaian acara. Sebuah gagasan mendasar sungguh
sangat menarik dan inspiratif tersaji dalam Gerakan Desa Membangun, yaitu bahwasannya
sudah saatnya pembangunan dimulai justru dari kalangan masyarakat akar rumput
yang berada di desa. Inilah kalau bisa dibilang “mazdhab” Gerakan Desa
Membangun, menempatkan peranan masyarakat dalam pembangunan sebagai subjek yang
bersifat aktif.
Berbeda
dengan konsep membangun desa, yang bersifat dari atas ke bawah, sehingga
masyarakat tidak banyak berperan. Makanya disebut desa membangun bukan
membangun desa. Dari desa, untuk desa, dan oleh desa. Sebuah gerakan pembangunan
yang demokratis dan egaliter. Gerakan mulia desa membangun desa untuk nusantara
yang lebih maju dan sejahtera, karena kemajuan dan kesejahteraan bangsa
ditentukan dari kemandirian dan kedaulatan masyarakat desa.
![]() |
| Balai Desa Mandalamekar |
Bersyukur
si pemuda bisa berkesempatan mengikuti Festival Jawa Selatan di Mandalamekar yang telah membuka
banyak wawasan terkait dengan dunia desa. Satu semangat, satu kata untuk kita
semua. Merdesa! Salam merdesa.
Imam FR Kusumaningati
Jurnalis
Warga www.akumassa.org
Penulis buku Jurnalisme Warga,
berjudul Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!










wah mantap gan...semoga orang kota mendukung kegiatan orang desa
ReplyDeleteReportase yang renyah sehingga enak untuk dibaca. Saya menunggu tulisan berikutnya.
ReplyDeleteSekarang Saya memang di Kota. Namun sebenarnya aku yo wong Ndeso..hehe. Saya dari Klaten Mas. Bukan hanya orang kota, tapi semua harus mendukung gerakan mulia ini..he
ReplyDeleteBapak Joko Waluyo, terima kasih atas pujiannya, meski sebenarnya Saya lebih mengharapkan cacian, biar bisa terus belajar.
ReplyDeleteSaya memang lebih suka menulis tulisan reportase ringan yang renyah. Saat ini masih tahap belajar. Jadi mohon masukannya..he.
Untuk tulisan yang agak sedikit njelimet namun semoga masih mengalir dan enak dibaca, karena ditulis dalam format Feature akan segera dimuat di www.akumassa.org
mari dukung desa membangun
ReplyDeletesalut sama blogger ndeso yg menginspirasi
ReplyDeletesalam
Omjay
Setuju mas Suryaden. Blogger Ndeso memang keren Omjay.
ReplyDeleteTerima kasih teman-teman sudah meninggalkan jejak di tigabelase.com