Sunday, June 10, 2012

Desa Membangun Desa

Dari Ibu Kota seorang pemuda menempuh perjalanan selama delapan setengah jam untuk sampai tujuan. Menyusuri jalanan berkelak-kelok, menaiki lembah menukik tinggi, menurun tajam, menyeberangi jembatan kayu. Dalam malam gelap, sunyi, hanya suara alam yang berbunyi dari balik pepohonan lebat.

Akhirnya sampailah si pemuda di sebuah desa bernama Mandalamekar. Sebuah desa yang sudah tak terbayang desanya, dalam benak si pemuda pun berkata kalau desa ini sungguh lebih desa daripada desanya sendiri. Muncul sebuah tanya, apakah ini masih Indonesia?

Malam itu Mandalamekar begitu ramai tak seperti biasa. Banyak tamu datang dari berbagai penjuru, lebih khusus mereka yang berasal dari kawasan jalur selatan jawa. Beberapa dari luar jawa pun tak mau ketinggalan untuk mendarat di Mandalamekar, seperti yang sudah terlihat ada teman-teman dari Kalimantan Tengah.

Spanduk Selamat Datang

Oh! ternyata. Mulai Sabtu itu, 02 Juni 2012, sampai Selasa, 05 Juni 2012 kemarin. Mandalamekar sedang menggelar Festival Jawa Kidul, sebuah hajatan besar dunia pedesaan Jawa bagian Selatan. Bukanlah tersesat si pemuda sampai ke desa ini. Melainkan ia menyengajakan diri datang atas undangan dari Kepala Desa Mandalamekar, Bapak Yana Noviadi saat beberapa waktu lalu bertemu di sebuah gedung samping Monas Jakarta. Kedatangannya tak lain karena ia sangat tertarik dengan pembahasan tentang desa.

Kepala Desa Mandalamekar, Yana Noviadi sedang diwawancarai wartawan.

Hajatan besar ini digagas oleh jaringan Gerakan Desa Membangun (GDM), sebagai ajang pertemuan dan bertukar pikiran bagi desa-desa anggota jaringannya. Tersebar di Kabupaten Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Banyumas, Ciamis, Tasikmalaya, Cianjur, Garut, Lebak, dan Sukabumi. Hingga saat ini sudah ada 100 desa yang menjadi anggota. Gerakan Desa Membangun sendiri merupakan gagasan jejaring desa untuk meningkatkan kemampuan dan sumber daya desa guna mewujudkan kemandirian dan kedaulatan desa.

Selama empat hari berlalu dengan penuh kebersamaan. Banyak hal terkait tentang desa dibahas dalam beberapa rangkaian acara, dikemas dalam berbagai tema diantaranya Pengenalanan Upaya Kolaborasi Desa Dalam Pembangunan Kawasan, Kebijakan TIK Pedesaan, Keterbukaan Informasi Publik, Tata Kelola Sumber Daya Desa, dan Kebijakan Desa.

GOR Desa sebagai ruang seminar

Serta ada tujuh workshop yang masih terkait dengan tema desa, yaitu workshop BlankOn Membangun, Bikin Peta Kampung, Blogger Ndeso, Media Komunitas Bikin Rakyat Makin Cerdas, Kritis Menonton TV, Tata Kelola Sumber Daya Alam Untuk Tingkatkan Ekonomi Desa, Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana, dan workshop membuat Video.

Blogger Ndeso salah satu tema workshop, dengan narasumber Suryaden dan Verry, bertempat di ruang kelas SMPN Jatiwaras

Sambil berlalu mengikuti berbagai rangkaian acara. Sebuah gagasan mendasar sungguh sangat menarik dan inspiratif tersaji dalam Gerakan Desa Membangun, yaitu bahwasannya sudah saatnya pembangunan dimulai justru dari kalangan masyarakat akar rumput yang berada di desa. Inilah kalau bisa dibilang “mazdhab” Gerakan Desa Membangun, menempatkan peranan masyarakat dalam pembangunan sebagai subjek yang bersifat aktif.

Berbeda dengan konsep membangun desa, yang bersifat dari atas ke bawah, sehingga masyarakat tidak banyak berperan. Makanya disebut desa membangun bukan membangun desa. Dari desa, untuk desa, dan oleh desa. Sebuah gerakan pembangunan yang demokratis dan egaliter. Gerakan mulia desa membangun desa untuk nusantara yang lebih maju dan sejahtera, karena kemajuan dan kesejahteraan bangsa ditentukan dari kemandirian dan kedaulatan masyarakat desa.

Balai Desa Mandalamekar

Bersyukur si pemuda bisa berkesempatan mengikuti Festival Jawa Selatan di Mandalamekar yang telah membuka banyak wawasan terkait dengan dunia desa. Satu semangat, satu kata untuk kita semua. Merdesa! Salam merdesa.

Imam FR Kusumaningati
Jurnalis Warga www.akumassa.org
Penulis buku Jurnalisme Warga,
berjudul Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!

7 comments:

  1. wah mantap gan...semoga orang kota mendukung kegiatan orang desa

    ReplyDelete
  2. Reportase yang renyah sehingga enak untuk dibaca. Saya menunggu tulisan berikutnya.

    ReplyDelete
  3. Sekarang Saya memang di Kota. Namun sebenarnya aku yo wong Ndeso..hehe. Saya dari Klaten Mas. Bukan hanya orang kota, tapi semua harus mendukung gerakan mulia ini..he

    ReplyDelete
  4. Bapak Joko Waluyo, terima kasih atas pujiannya, meski sebenarnya Saya lebih mengharapkan cacian, biar bisa terus belajar.

    Saya memang lebih suka menulis tulisan reportase ringan yang renyah. Saat ini masih tahap belajar. Jadi mohon masukannya..he.

    Untuk tulisan yang agak sedikit njelimet namun semoga masih mengalir dan enak dibaca, karena ditulis dalam format Feature akan segera dimuat di www.akumassa.org

    ReplyDelete
  5. salut sama blogger ndeso yg menginspirasi

    salam
    Omjay

    ReplyDelete
  6. Setuju mas Suryaden. Blogger Ndeso memang keren Omjay.

    Terima kasih teman-teman sudah meninggalkan jejak di tigabelase.com

    ReplyDelete