Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa
akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa...
Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner
Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman...
Resensi Buku "Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!" oleh Omjay
Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati...
Ini Soal YouTube, Lebih Dari Sekadar Untuk Narsis
Setelah Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Briptu Norman Kamaru yang belakangan menjadi ngetop...
Citizen Journalism dan Metamorfosis Media
Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan...
Saturday, June 30, 2012
Nikmati Mudahnya Pengiriman Uang Cukup Menggunakan Ponsel
Sebelum
ada email, mengirim surat lumayan rumit dan lama. Sama halnya ketika dulu hendak
mengirim uang menggunakan Wesel Pos, prosesnya berliku dan juga lama.
Seiring
berjalannya waktu, muncul beberapa fasilitas pengiriman uang yang lebih mudah
oleh pihak swasta maupun pemerintah. Kini, muncul lagi sebuah fasilitas baru
pengiriman uang yang semakin mempermudah masyarakat untuk melakukan pengiriman
uang. XL Tunai – Pengiriman Uang Domestik, sebuah fitur baru aplikasi layanan
virtual XL yang memudahkan pelanggan untuk mengirim uang dengan mudah melalui
ponsel.
Pengiriman
uang secara cepat memang sudah menjadi kebutuhan, apalagi untuk mengirim uang
yang lokasinya berada di daerah. Beberapa layanan pengiriman yang sebelumnya
telah ada, biasanya menggunakan rekening bank sebagai sarana pengirimannya.
Padahal masyarakat di daerah belum banyak yang memiliki rekening bank. Melihat
kenyataan seperti ini, XL Tunai memberi kemudahan pengiriman uang tanpa harus
memiliki sebuah rekening bank, namun cukup menggunakan ponsel.
“Hanya
dengan ponsel pelanggan XL bisa melakukan pengiriman uang tanpa terikat dengan
waktu dan lokasi. Pengiriman uang bisa dilakukan kapan saja melalui ribuan agen
XL Tunai yang menjangkau seluruh Indonesia”, tutur Dian Siswarini, direktur Teknologi,
Content, & New Business XL, disampaikan saat peluncuran XL Tunai di
Euphoria Lounge – Jakarta. Senin, 18 Juni 2012.
Dalam kesempatan lain, Yessi perwakilan dari XL juga mengatakan demikian saat sosialisasi XL Tunai yang mengundang para
blogger, bertempat di Resto Es Teller 77 JL. Adityawarman, Blok M. Jum’at, 29
Juni 2012, mulai pukul 18.00 – 21.00 WIB. Dihadiri kurang lebih 100 blogger. Acara
ini terselenggara berkat kerjasama XL dengan deblogger (blogger depok) dan
idblogNetwork selaku penyelenggara acara.
Sejenak
setelah jamuan malam berlangsung, acara segera dimulai. Tidak hanya sosialisasi
XL Tunai, malam itu acara juga diisi dengan dua materi lain yaitu sosialisasi
XL Care dan sedikit materi tentang penggunaan media sosial. Dijelaskan dalam
sosialisasi XL Tunai, proses pengiriman uang dilakukan dengan terlebih dahulu
mendatangi XL Center atau agen bertanda XL Tunai terdekat, membawa uang tunai
dan KTP asli yang valid untuk proses registrasi pertama kali. Setelah registrasi
dan saldo XL Tunai sudah terisi, pengirim dapat melakukan pengiriman uang
melalui ponselnya kapan dan di mana pun dengan mengetik *123*120*9#.
Penyampaian
satu materi dengan materi lain telah berlalu, yang disela penyampaiannya
diadakan game berhadiah voucer pulsa 50 ribu dan untuk pertanyaan terbagus
setiap sesinya mendapatkan modem dari XL. Dan malam pun semakin larut
mengantarkan pada penghujung acara. Dipenghujung
acara ada satu doorprize hadiah utama Samsung Galaxy Young. Tadinya sebelum
masuk ruangan, para peserta mengambil
satu buah kupon undian. Bagi pemegang kupon undian berlogo XL Tunai adalah yang
berhak mendapatkan hadian utama. Tidak menyangka ternyata pemegang kupon itu
adalah Saya sendiri.
Kupon
Saya bernomor 29, dan acara ini berlangsung pada tanggal 29 Juni 2012.
Sebelumnya sudah ada firasat akan mendapatkan sesuatu, meski tidak terlalu
memperhatikan logo XL Tunai yang tertera. Ternyata benar, malam itu Saya
tertiban rejeki. Terima kasih XL, idblogNetwork, dan deblogger.
Monday, June 25, 2012
Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner
Ketika
sebuah peristiwa terjadi, siapakah yang boleh meliput? Apakah hanya jurnalis
profesional saja yang boleh meliputnya?
Sebuah
bentuk jurnalisme gaya baru telah muncul dan sedang menjadi tren di masyarakat
terutama di kalangan masyarakat pengguna internet. Setiap warga, siapa saja,
meski hanya warga biasa, tanpa harus berpendidikan jurnalistik sekalipun,
sekarang bisa meliput sebuah peristiwa. Seorang warga biasa bisa melakukan
kegiatan jurnalisme sesuai dengan gayanya sendiri. Maksud dari warga biasa adalah
seorang warga yang bukan berstatus sebagai jurnalis profesional.
Kegiatan
jurnalisme yang dilakukan warga biasa masih tetap sama pengertiannya sebagai
kegiatan seputar aktivitas mengumpulkan, mengolah, dan menyebarluaskan
informasi yang biasanya dilakukan oleh jurnalis profesioanal. Informasi itu
dapat berupa tulisan, gambar, foto, video, atau tuturan (laporan lisan).
Mengenal Sebuah Jurnalisme Gaya Baru
Jurnalisme
gaya baru itu bernama Citizen Journalism atau
Jurnalisme Warga. Dalam jurnalisme warga setiap warga adalah pewarta. Warga
bukan lagi hanya sebagai objek dari sebuah pemberitaan media semata, namun
warga bisa menjadi objek maupun sekaligus subjek dari sebuah pemberitaan.
Semakin menarik lagi, jurnalisme warga selain memungkinkan warga meliput sebuah
peristiwa, warga juga bisa menjadi editor, redaktur, pembaca, bahkan membuat
medianya sendiri.
Seperti manusia yang memiliki banyak julukan dan
nama, ternyata Jurnalisme Warga pun begitu. Jurnalisme Warga juga dikenal dengan nama Participatory Journalism, yaitu
tindakan seorang warga atau sekelompok warga yang berperan aktif dalam
proses pengumpulan, pelaporan, analisis, dan penyebaran berita dan informasi
(Shayne Bowman dan Chris Willis, 2003). Dalam
kesempatan lain Jurnalisme Warga juga disebut Grassroot Journalism oleh Gillmor (2004) yang
dimaknainya sebagai konsep jurnalisme “by the people for the people” Alias
jurnalisme dari warga, untuk warga. Menurut Gillmor, dengan munculnya
konsep Jurnalisme Warga, telah muncul
ekosistem media baru yang memungkinkan adanya percakapan yang memperkaya dialog
di tataran masyarakat sipil.
”It’s one of the hottest buzzwords in
the news business these days”, ternyata istilah Citizen Journalism saat ini merupakan
istilah yang paling sering diperbincangkan dalam perhelatan bisnis berita, diungkapkan
oleh Steve Outing (2005) editor senior The Poynter Institute for Media Studies.
Menjadi Seorang Jurnalis Warga
Seorang
warga yang meliput sebuah peristiwa disebut sebagai Citizen Journalist atau Jurnalis Warga. Menjadi jurnalis warga sangatlah
mudah, bisa dilakukan oleh siapa saja. Modal utama menjadi jurnalis warga adalah
hanya semangat untuk berbagi – The Spirit
of Sharing. Berbagi apa saja yang dilihat, temui, dan lakukan setiap hari.
Hal ini sekaligus menjadi pembeda yang paling mendasar antara jurnalis warga
dan jurnalis profesional.
Clyde H. Bentley guru besar
madya Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS, menjelaskan perbedaan nyata
antara jurnalis warga dengan jurnalis profesional. Seorang jurnalis warga
menuliskan pandangannya atas suatu peristiwa karena didorong oleh keinginan
untuk membagi apa yang dilihat dan diketahuinya. Sementara jurnalis profesional
yang bekerja di media massa, melakukan liputan karena penugasan. Terlihat
dengan jelas perbedaannya bahwa sebenarnya bentuk dasar peliputan yang
dilakukan jurnalis warga adalah to share
dan yang dilakukan jurnalis profesional adalah to cover.
Nadia Abdullah Jurnalis Warga
Revolusioner
Sungguh
terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman.
Saya baca dari situs VOA Indonesia berjudul Perempuan Muda Yaman Generasi Baru
Jurnalis Warga, yang diposting pada 12 Maret 2012. Membacanya lebih lanjut bisa
membuka link berikut ini http://www.voaindonesia.com/content/perempuan-muda-yaman-generasi-baru-jurnalis-warga-142533375/106060.html.
| Sumber foto: VOA Indonesia |
Nadia
mengabadikan revolusi Yaman tahun lalu menggunakan kamera amatir pemberian
ayahnya. "jika terjadi serangan terhadap kaum muda, kamu rekam dan kita
bisa kirim ke media", tutur ayahnya ketika memberi kamera tersebut. Pengiriman
berita keluar dari dunia dunia Arab mengenai pemberontakan yang terjadi di Yaman
pada saat itu sangat dibatasi oleh pemerintah. Para pemimpin Arab di Timur
Tengah dan Afrika Utara telah mencoba untuk membatasi liputan media.
Bermula
dari balik apartemennya, perempuan yang mengenakan jilbab seluruh badan atau
niqab ini, mendokumentasikan kerusuhan yang terjadi. Keluar dari rumah dan
tampil di muka publik bagi perempuan adalah tidak pantas dan mustahil dilakukan
kerena tradisi yang tertutup dan konservatif, ayahnya tidak mungkin
mengizinkannya. Namun terinspirasi dari revolusi yang terjadi di sekelilingnya,
Nadia memberanikan diri keluar dari apartemen, dan bahkan direstui oleh
ayahnya.
Ketika
berhasil keluar dari rumah, semua bisa didokumentasikannya. Nadia mendokumentasikan kekerasan yang dilakukan
pasukan pemerintah, dari meriam air hingga peluru. Mengambil video mayat di
jalanan, video klinik sementara yang penuh dengan orang yang terluka, video
seorang pria menggendong tubuh orang yang dicintai di kamar mayat. Atas
perjuangan itu semua, akhirnya para pengunjuk rasa dan jurnalis warga yang
menceritakan kisah mereka telah membantu menggulingkan penguasa yang telah
berkuasa begitu lama.
Perjuangan Nadia sungguh sangat mengagumkan. Nadia yang merupakan
penduduk atau warga biasa Yaman ini memiliki semangat tinggi untuk berbagi – spirit of sharing,
demi memperjuangkan revolusi. Ketika pemerintah membatasi pemberitaannya, Nadia
sebagai warga biasa telah berhasil mendobrak pembatasan itu dengan berperan
sebagai jurnalis warga yang melakukan aktivitas jurnalisme warga. Maka tidaklah salah jika menyebutnya sebagai jurnalis warga revolusioner, dan sungguh jurnalisme warga adalah jurnalisme
warga biasa yang luar biasa.
Nadia Abdullah ala Indonesia
Karena
menyimak Nadia, Saya jadi teringat dengan perempuan yang tidak kalah berjasanya
dalam pemberitaan atas sebuah peristiwa yang terjadi di Indonesia delapan tahun
silam. Masih ingatkah dengan sosok yang bernama Cut Putri?
Cut Putri adalah perempuan asli berdarah Aceh
yang berhasil merekam detik-detik ketika tsunami Aceh terjadi. Rekaman
video tersebut menggambarkan kejadian dahsyat yang meluluhlantakkan sebagian
provinsi paling barat Indonesia. Kemudian salah satu televisi nasional
menggunakan video yang direkamnya untuk ditayangkan. Masyarakat luas terenyuh
ketika melihat tayangan video tersebut, sehingga mereka tergugah untuk
mengulurkan tangannya membantu para korban.
Jasa
Cut Putri bukan hanya pada keberhasilannya merekam detik-detik tsunami. Cut
Putri juga sangat berjasa dalam menghadirkan wacana publik tentang bentuk jurnalisme
gaya baru yang bernama jurnalisme warga di Indonesia. Karena mulai sejak itu,
media arus utama mulai menyadari akan pentingnya jurnalisme
warga. Mereka kemudian tergugah untuk
menyediakan tempat untuk laporan berita yang datang dari warga. Beberapa stasiun televisi bahkan membuat
program khusus jurnalisme warga.
Menunggu Jurnalis Warga Berikutnya
Sunaryo
Adhiatmoko, seorang pekerja sosial dan pegiat jurnalisme warga pernah berpetuah
kepada saya begini, “percayalah, jurnalisme warga akan jadi kekuatan baru, sebagai
kontrol terhadap kekuasaan yang tak berpihak dan menyuarakan keadilan kaum
lemah, saat keadilan terbeli oleh uang dan kekuasaan”, ungkapnya.
Jurnalisme
Warga yang luar biasa ini perlu selalu digiatkan, mengingat peranannya dalam
sebuah perberitaan yang juga sangat luar biasa. Semoga nantinya akan muncul para jurnalis warga berikutnya yang bisa
membawa perubahan. Atau setidaknya, ketika saat ini kepemilikan media sudah
berpemilik oleh yang berkuasa dan berkepentingan, sehingga sering kali dalam
pemberitaannya terselip maksud tertentu, dan sudah tidak berpihak lagi kepada publik
atau warga, jurnalis warga bisa menyuarakan sendiri permasalahan-permasalahan
warga. Hidup di zaman yang sudah udzur ini, siapa lagi yang tulus menyuarakan
suara warga kecuali warganya sendiri.
Saya
sempat berangan suatu ketika VOA Indonesia bisa membuka rubrik khusus yang menerima
liputan dari warga. Sehingga akan memicu munculnya para jurnalis warga
berikutnya. Sambil berlalu sepertinya Saya sempat bermimpi angan itu telah
terwujud, entah apakah itu sekadar mimpi atau telah benar-benar menjadi
kenyataan.
Imam FR
Kusumaningati
Penulis buku Citizen Journalism (Jurnalisme Warga)
berjudul Jadi
Jurnalis Itu Gampang!!!
Sumber:
Bowman, Shayne dan
Chris Willis. 2003. We Media. United
States of America: The Media Center at The American Press Institute.
Gillmor, Dan. 2004. We The Media. United
States of America: O'Reilly Media, Inc.
Jurnal
observasi. 2010. Mengamati Fenomena
Citizen Journalism. Bandung: Simbiosa dan BP2i.
Kusumaningati, Imam FR. 2012. Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!. Jakarta:
Elexmedia Komputindo.
Saturday, June 23, 2012
Digitalisasi Desa Menuju Masyarakat Indonesia Sejahtera
Jelang
matahari terbit, tiba-tiba tamu datang tanpa diundang. Meluluhlantakkan sebagian
desa tanpa permisi dan basa basi. Bagai sebuah drama demonstrasi, namun sayang
ini bukan drama, ini nyata benar terjadi. Semula bangunan megah, setelah tamu
datang semua tinggal puing berserakan. Hakikatnya tamu yang harus selalu
dihormati, tidaklah untuk tamu bernama Gempa yang satu ini, yang telah
mendramatisir suasana pagi Yogyakarta dan sekitarnya pada 27 Mei 2006 lalu.
Tamu
dahsyat telah berlalu. Segenap warga desa sigap membereskan puing-puing
berserakan. Tidak kalah sigapnya dengan pemerintah desa yang sedang mencari
data kependudukan untuk distribusi bantuan. Sebentar lagi bantuan akan segera
datang, namun ternyata dokumen kependudukan desa belum juga ditemukan. Rubuhnya
kantor Kepala Desa menyelipkan dokumen-dokumen di antara puing-puing
berantakan. Keadaan seperti itu dialami oleh beberapa desa. Padahal dalam
pemulihan paska pencana data kependudukan desa sangat dibutuhkan.
Bagaimana
jika keadaan demikian terus berulang terjadi dikemudian hari. Apakah ketika
sebuah bencana terjadi akan selalu diadakan pendataan ulang kependudukkan
seketika setelah bencana berlangsung. Padahal seharusnya bukanlah pendataan
ulang yang dilakukan sebagai tindakan dini, melainkan harus langsung melakukan
distribusi bantuan medis maupun non-medis dengan menggunakan data kependudukan
yang sudah ada. Kasus ini hanya bagian terkecil yang pernah terjadi, hilangnya
dokumen desa pernah juga terjadi karena kelalaian dari aparat pemerintah desa
sendiri yang lupa di mana menyimpan dokumen-dokumen tersebut. Merumuskan supaya
keadaan demikan tidak terulang lagi, sempat terpikir untuk melakukan
digitalisasi desa.
Sebelum
selanjutnya menerjemahkan konsep digitalisasi desa, sungguh perlu diapresiasi Ngawur Writing Contest bertema
Pemanfaatan Teknologi Digital Untuk Indonesia yang diadakan oleh komunitas para
blogger khusus Provinsi Jawa Timur (www.ngawur.org),
bekerjasama dengan Pusat Teknologi (www.pusatteknologi.com) dan Blogger
Nusantara (www.bloggernusantara.com).
Tema yang diangkat sangat relevan dengan konteks saat ini yang notabene sedang
berkembang Information and Communication
Technology (ICT) atau Teknologi Informasi dan Komunikasi. Pemilihan tema
ini entah disadari atau tidak, secara tidak langsung sudah ikut membantu Dewan TIK dalam mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan pada tahun 2025.
Menerjemahkan Konsep Digitalisasi Desa
Sederhananya
konsep digitalisasi desa adalah sebuah langkah pemindahan dokumen-dokumen
terkait dengan desa yang semula berwujud hard
copy (cetak) menjadi soft copy. Dokumen
dalam bentuk soft copy diolah
sedemikian rupa sehingga menjadi database
yang rapih, kemudian akan dipublikasikan ke situs desa supaya bisa diakses
secara online. Digitalisasi Desa juga merupakan langkah melek teknologi bagi
masyarakat desa. Jika selama ini persepsi terhadap masyarakat desa adalah
manusia-manusia yang tertinggal oleh zaman, semua akan berubah setelah
digitalisasi desa dilakukan.
Pelaksanaan
digitalisasi desa sangat membutuhkan dukungan aparat pemerintah dengan segenap masyarakat
desa untuk ikut bekerjasama mewujudkannya. Karena digitalisasi desa membutuhkan
banyak tenaga untuk memindahkan segala dokumen berkaitan dengan desa, seperti
profil desa, kependudukan, sumberdaya desa, potensi desa, dan lainnya menjadi database. Maka digitalisasi desa
bersifat partisipatif oleh segenap elemen desa.
Sebuah
desa dalam konsep digitalisasi desa harus memiliki situs desa sebagai media
informasi dan komunikasi masyarakat desa. Digitalisasi desa kelak akan
melahirkan desa digital yang akan membawa banyak keuntungan berlipat. Semua
dokumen-dokumen desa, yang salah satunya adalah data kependudukan, akan aman
dan mudah diakses kapan dan dimana pun berada. Sudah tidak khawatir lagi dengan
kerusakan yang terjadi akibat bencana.
Dokumen
yang terunggah secara online dalam situs desa akan bisa diakses oleh siapa saja,
lebih khusus oleh segenap masyarakat desa. Hal demikian berarti telah mempraktekkan
keterbukaan informasi dan meningkatkan pelayanan publik. Keterbukaan informasi dan
peningkatan pelayanan publik menunjukkan tata kelola pemerintahan yang bersih,
transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Sebuah desa yang sudah melakukan
digitalisasi, berarti telah selangkah lebih maju membentuk tata kelola
pemerintahan yang baik atau biasa disebutnya dengan istilah Good Governance.
Pengalaman Pelaksanaan Digitalisasi Desa
Sebuah
lembaga swadaya masyarakat (LSM) COMBINE Resource Institution yang berdomisili
di Yogyakarta, telah melakukan konsep digitalisasi desa untuk mengatasi
persoalan dokumentasi data desa dengan mengembangkan Sistem Informasi Desa
(SID). Sistem ini adalah sebuah aplikasi yang membantu pemerintahan desa dalam
mendokumentasikan data-data milik desa guna memudahkan proses pencariannya dan sistem
untuk mengelola sumber daya yang ada di komunitas desa jaringannya.
Salah
satu penerapan SID dilakukan di Desa Terong, Kecamatan Dlingo, Kabupaten
Bantul. Masyarakat sangat dimudahkan dalam mendapatkan informasi tentang desa
dengan adanya SID. Masyarakat lebih khusus aparat pemerintah desa Terong kini
sudah tidak lagi kesulitan mencari data penduduk, karena semua sudah masuk
dalam database. Membuat Kartu Tanda
Penduduk di kelurahan pun kini sudah tidak memerlukan waktu yang lama lagi,
karena semua data telah tersedia.
SID
juga digunakan untuk mengelola dan mengangkat sumber daya dan potensi desa yang
ada, dipublikasikan melalui situs desa sehingga dapat diketahu oleh masyarakat
luas. Hasilnya masyarakat Desa Terong semakin puas dengan pelayanan
pemerintahan desa. Inilah bentuk keterbukaan informasi dan pelayanan publik
yang baik, sehingga bisa mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik pula.
Digitalisasi Desa Menuju Masyarakat
Indonesia Sejahtera
Digitalisasi
desa melahirkan desa digital. Desa digital adalah desa masa depan. Konsepsi mewujudkan masyarakat berbasis pengetahuan pada tahun 2025 adalah terwujudnya masyarakat desa yang berdaya, berdaulat, mandiri,
dan sejahtera. Digitalisasi desa yang telah menghasilkan keterbukaan informasi,
peningkatan pelayanan publik, dan tata kelola pemerintahan yang baik, akan membawa
pada kedaulatan, kemandirian, dan kesejahteraan masyarakat desa.
Paradigma pembangunan desa saat
ini telah berubah, yang semula pembangunan dilakukan dari pemerintahan pusat ke
daerah di desa, beralih menjadi pembangunan dari masyarakat akar rumput yang
berada di desa ke tingkat pemerintahan yang lebih tinggi. Menuju masyarakat
Indonesia sejahtera, kini dimulai dari masyarakat desa. Digitalisasi desa telah
mengawalinya.
Imam FR
Kusumaningati
Penulis buku Citizen Journalism (Jurnalisme Warga)
berjudul Jadi
Jurnalis Itu Gampang!!!
Thursday, June 21, 2012
10 Alasan Menggunakan Twitter Sebagai Media Citizen Journalism
Teman-teman
pembaca sekalin, seperti yang saya janjikan di portingan berjudul Ketangguhan
Twitter Untuk Ber-Citizen Journalism, yang saya posting beberapa waktu
yang lalu. Saya menjanjikan untuk membahas tentang alasan menggunakan twitter
sebagai media Citizen Journalism.
Tim
peneliti dari kcnn.org pada tahun 2004, pernah melakukan penelitian kepada para
Citizen Journalist – Jurnalis Warga,
berkaitan dengan alasan mereka menggunakan Twitter sebagai media untuk ber-Citizen Journalism.
Penelitian tersebut menghasilkan 10 alasan mengapa Citizen Journalist
lebih memilih menggunakan twitter sebagai media Citizen Journalism.
1.
Kepemilikan secara
personal
Twitter dikelola oleh pemilik account
twitter itu sendiri. Pemilik twitter
diperbolehkan dengan bebas membuat profilnya dengan segenap fasilitas yang ada.
Apabila
profil tersebut bagus, maka akan banyak yang follow twitter tersebut. Sehingga
itu bisa mendukung aktifitas Citizen
Journalism.
2.
Kecepatan
Memposting informasi di twitter dapat
dilakukan dengan sangat cepat. Lebih cepat dibandingkan dengan memposting di
media online lainnya. Bagi para follower twitter tersebut, informasi itu
menjadi breaking news bagi mereka.
3.
Efisien
Batas
maksimal 140 karakter menuntut untuk memposting informasi dengan ringkas dan
jelas, itu sangat efisien. Apabila anda follow dengan pengguna
twitter yang baik. Maka akan mendapatkan aliran informasi yang bisa
dipertanggungjawabkan.
4.
Simpel
Kebanyakan Citizen Journalist tidak memiliki kemampuan teknis yang bagus. Pengoperasian
twitter lebih simpel dibandingkan dengan pengoperasian media online lainnya.
Ini sangat memudahkan dan menjadi nilai lebih bagi twitter.
5.
Mudah
diakses
Twitter bisa dibuka dengan baik di handphone. Sehingga jika tidak ada
komputer, bisa memposting informasi dengan hanphone.
Jadi ketika menemukan informasi yang sangat penting, dengan segera bisa
mempostingnya.
6.
Banyak
dikunjungi
Twitter
mampu menarik lebih dari 1.2 juta pengguna aktif setiap bulan. Mereka
semua pengguna twitter tingkat addict (pecandu)
bisa mengakses twitter berkali-kali dalam sehari.
7.
Berjejaring
sesuai profesi
Semenjak twitter menjadi semakin
populer, semakin banyak orang yang membuat twitter. Pengguna twitter bisa
follow dengan pengguna twitter lain yang memiliki kesamaan profesi atau hobi.
Sehingga membentuk semacam jaringan di dunia maya.
8.
Fungsi
kontrol secara mandiri
Kontrol pada twitter sepenuhnya diatur
oleh pemilik account twitter itu
sendiri. Apabila tidak menghendaki suatu postingan, maka bisa menghapusnya
dengan mudah.
9.
Aplikasi
yang asyik
Semakin hari banyak hadir aplikasi
twitter yang asyik dan mempermudah penggunaan twitter. Seperti TwitterLocal, untuk mengetahui lokasi
geografis pengguna twitter. TwitPic, sebuah
aplikasi untuk meng-upload foto. TweetDeck, Salesforce.com, HootSuite, Twitterfeed, UberSocial, Snaptu, UberTwitter dan lainnya.
10. Gratis
Siapa yang tidak mau dengan sesuatu yang
gratis. Apalagi sangat mudah dan mengasyikkan.
Bagaimana? Tweeps, sangat
menarik, asyik dan efektif bukan menggunakan Twitter sebagai media Citizen Journalism. Dan saya hanya bisa
bilang, selamat ber-Citizen Journalism dengan
Twitter Anda.
Thursday, June 14, 2012
Bahasa!
Seandainya
sumpah pemuda terlambat diikrarkan delapan puluh tahun, kemungkinan besar yang
tertulis bukan lagi “Kami putra dan putri Indonesia…”, melainkan “Kita putra
dan putri Indonesia…”. Konsep “kita” dan “kami” adalah kekayaan bahasa Indonesia
yang tidak dimiliki bahasa lain. (Qaris Tajudin, “Kita putra dan putri Indonesia”).
Mari
kita perharikan beberapa contoh berikut ini. (1) “Busway seruduk beringin, lima
luka”, (2) “Penumpang busway tewas misterius”, (3) “Saatnya busway tiba di
terminal Blok M”. Padahal apa sebenarnya arti kata “busway”? (J. Daniel Parera,
“Salah Kaprah Proyek Busway”).
Dua
penggal paragraf dari esai bertema bahasa itu sekadar bagian dari 69 lainnya
yang lebih menggelitik. Mengutak-atik atau lebih tepatnya mengkaji bahasa dari
sisi ilmu bahasa maupun mendiskusikan pengaruh antara bahasa dan ilmu budaya.
Disarikan dari rubrik Bahasa! majalah
TEMPO. Sengaja dibukukan supaya bisa dibaca dan didiskusikan lebih luas serta lebih
lama di masyarakat pemakai bahasa Indonesia.
Buku
berjudul Bahasa! Kumpulan 69 Tulisan
Bahasa di Majalah TEMPO, yang sebenarnya
tidak sengaja Saya temukan diantara deretan buku di Perpustakaan Utama UIN Jakarta,
memiliki tebal 292 halaman, diterbitkan pertama kali pada 2008 oleh Pusat Data
dan Analisa TEMPO.
Waktu
itu seketika Saya tertarik karena di antara para penulisnya adalah Goenawan Muhammad,
Sapardi Djoko Damono, J. Daniel Parera, dan Ayu Utami, sebuah nama yang sudah
tidak asing lagi. Meski secara keseluruhan terdapat 24 penulis. Maka tanpa
dilihat terlebih dulu apa isinya, daripada keluar perpustakaan tidak meminjam
buku sama sekali, iseng-iseng Saya meminjamnya.
Beruntung
Saya bisa membaca buku yang banyak membuka wacana perihal kebahasaan ini. Sehingga
salah satu diantaranya bisa memahami dinamika kebahasaan dalam kehidupan
keseharian masyarakat, yaitu berkaitan dengan mengubah bunyi menjadi aksara dan
mengubah aksara menjadi bunyi. Seringkali masih banyak kesalahan di masyarakat
dalam melakukannya. Memang kedua aktivitas itu perlu sedikit banyak pengetahuan
untuk bisa melakukannya. Misalkan fotocopy,
foto-copy, photo-kopi, fhotocopy, dan masik banyak yang lainnya. Coba sekarang
ucapkan kata terakhir, fhotocopy.
Alangkah susahnya mengucapkan kata fho.
Sekarang
ijinkan Saya mengutip esai Soejono Dardjowidjojo berjudul Adakah Logika dalam Bahasa?. Bahwa, “Bahasa adalah produk sejarah
pertumbuhan manusia, dan bahasa hidup serta berkembang berdasarkan kreativitas
para pemakainya. Selama pemakai ini manusia, selama itu pula ada variasi yang
berbeda dari satu manusia ke manusia lain”
Bahasa
memang sangat dinamis, sehingga bisa-bisa membuat bingung. Beruntung buku ini
ditutup dengan esai Goenawan Muhammad yang berjudul Bingung? Katanya dengan mengutip Paul de Man, seorang teoritikus
sastra. Berpendapat bahwa bahasa secara hakiki mengandung kemungkinan untuk
bersifat “alegoris”. “alegori" berasal dari bahasa Yunani, allegorein, artinya secara harfiah “bicara yang sebaliknya”. Dalam
pengertian umum “alegori” berarti bicara satu hal tapi maksudnya adalah hal
lain.
Terakhir,
buku ini sungguh layak dibaca bagi siapa pun yang masih tetap berbahasa. Namun
mungkin saja menjadi sudah tidak layak lagi, kecuali jika memang sudah tidak
lagi berbahasa.
Wednesday, June 13, 2012
Realistisme Semester Tujuh
Awalnya
menggebu-gebu dengan idealismenya. Meneriakkan semangat pergerakan berapi-api
sampai mati pun seolah bakal diladeni. Itu sih sebenarnya masih mending dari
pada mahasiswa yang santai seolah tidak ada beban pikiran sama sekali.
![]() |
| Ilustrasi: cincuncaycu.blogspot.com |
Semua
drastis berubah. Ketika sudah masuk semester tujuh. Semester tua yang meski
belum terlalu tua. Seratus delapan puluh derajat berputar balik. Katanya semua
butuh makan, apa arti menggebu-gebu kalau perut kosong melompong. Berharap dengan kiriman uang dari orangtua rasanya sudah malu untuk memintanya lagi.
Akhirnya,
ditinggalkanlah idealis, dan yang tersisa tinggal realistis. Ada yang masuk
dunia MLM, membuka laundry kiloan, menjadi penjaga warnet, sales marketing
sebuah produk kesehatan, juru foto kawinan di sebuah studio, bertaubat menjadi marbot mushola, dan menjadi apa pun
sejadi-jadinya.
Masih
tetap idealis silahkan, menjadi realistis pun demikian, keduanya adalah pilihan.
Sunday, June 10, 2012
Desa Membangun Desa
Dari
Ibu Kota seorang pemuda menempuh perjalanan selama delapan setengah jam untuk
sampai tujuan. Menyusuri jalanan berkelak-kelok, menaiki lembah menukik tinggi,
menurun tajam, menyeberangi jembatan kayu. Dalam malam gelap, sunyi, hanya
suara alam yang berbunyi dari balik pepohonan lebat.
Akhirnya
sampailah si pemuda di sebuah desa bernama Mandalamekar. Sebuah desa yang sudah
tak terbayang desanya, dalam benak si pemuda pun berkata kalau desa ini sungguh
lebih desa daripada desanya sendiri. Muncul sebuah tanya, apakah ini masih Indonesia?
Malam
itu Mandalamekar begitu ramai tak seperti biasa. Banyak tamu datang dari
berbagai penjuru, lebih khusus mereka yang berasal dari kawasan jalur selatan
jawa. Beberapa dari luar jawa pun tak mau ketinggalan untuk mendarat di Mandalamekar,
seperti yang sudah terlihat ada teman-teman dari Kalimantan Tengah.
![]() |
| Spanduk Selamat Datang |
Oh! ternyata.
Mulai Sabtu itu, 02 Juni 2012, sampai Selasa, 05 Juni 2012 kemarin.
Mandalamekar sedang menggelar Festival Jawa Kidul, sebuah hajatan besar dunia
pedesaan Jawa bagian Selatan. Bukanlah tersesat si pemuda sampai ke desa ini. Melainkan
ia menyengajakan diri datang atas undangan dari Kepala Desa Mandalamekar, Bapak
Yana Noviadi saat beberapa waktu lalu bertemu di sebuah gedung samping Monas
Jakarta. Kedatangannya tak lain karena ia sangat tertarik dengan pembahasan
tentang desa.
![]() |
| Kepala Desa Mandalamekar, Yana Noviadi sedang diwawancarai wartawan. |
Hajatan
besar ini digagas oleh jaringan Gerakan Desa Membangun (GDM), sebagai ajang
pertemuan dan bertukar pikiran bagi desa-desa anggota jaringannya. Tersebar di
Kabupaten Kulonprogo, Kebumen, Cilacap, Banyumas, Ciamis, Tasikmalaya, Cianjur,
Garut, Lebak, dan Sukabumi. Hingga saat ini sudah ada 100 desa yang menjadi
anggota. Gerakan Desa Membangun sendiri merupakan gagasan jejaring desa untuk
meningkatkan kemampuan dan sumber daya desa guna mewujudkan kemandirian dan
kedaulatan desa.
Selama
empat hari berlalu dengan penuh kebersamaan. Banyak hal terkait tentang desa
dibahas dalam beberapa rangkaian acara, dikemas dalam berbagai tema diantaranya
Pengenalanan Upaya Kolaborasi Desa Dalam Pembangunan Kawasan, Kebijakan TIK
Pedesaan, Keterbukaan Informasi Publik, Tata Kelola Sumber Daya Desa, dan
Kebijakan Desa.
![]() |
| GOR Desa sebagai ruang seminar |
Serta
ada tujuh workshop yang masih terkait dengan tema desa, yaitu workshop BlankOn
Membangun, Bikin Peta Kampung, Blogger Ndeso, Media Komunitas Bikin Rakyat
Makin Cerdas, Kritis Menonton TV, Tata Kelola Sumber Daya Alam Untuk Tingkatkan
Ekonomi Desa, Tata Kelola Pengurangan Risiko Bencana, dan workshop membuat
Video.
![]() |
| Blogger Ndeso salah satu tema workshop, dengan narasumber Suryaden dan Verry, bertempat di ruang kelas SMPN Jatiwaras |
Sambil
berlalu mengikuti berbagai rangkaian acara. Sebuah gagasan mendasar sungguh
sangat menarik dan inspiratif tersaji dalam Gerakan Desa Membangun, yaitu bahwasannya
sudah saatnya pembangunan dimulai justru dari kalangan masyarakat akar rumput
yang berada di desa. Inilah kalau bisa dibilang “mazdhab” Gerakan Desa
Membangun, menempatkan peranan masyarakat dalam pembangunan sebagai subjek yang
bersifat aktif.
Berbeda
dengan konsep membangun desa, yang bersifat dari atas ke bawah, sehingga
masyarakat tidak banyak berperan. Makanya disebut desa membangun bukan
membangun desa. Dari desa, untuk desa, dan oleh desa. Sebuah gerakan pembangunan
yang demokratis dan egaliter. Gerakan mulia desa membangun desa untuk nusantara
yang lebih maju dan sejahtera, karena kemajuan dan kesejahteraan bangsa
ditentukan dari kemandirian dan kedaulatan masyarakat desa.
![]() |
| Balai Desa Mandalamekar |
Bersyukur
si pemuda bisa berkesempatan mengikuti Festival Jawa Selatan di Mandalamekar yang telah membuka
banyak wawasan terkait dengan dunia desa. Satu semangat, satu kata untuk kita
semua. Merdesa! Salam merdesa.
Imam FR Kusumaningati
Jurnalis
Warga www.akumassa.org
Penulis buku Jurnalisme Warga,
berjudul Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!
Friday, June 8, 2012
Ketangguhan Twitter Untuk Ber-Citizen Journalism
“Breaking
News hanya dengan 140 karakter, Twitter sungguh menakjubkan” (Amy
Gahran).
Teman-teman
pembaca sekalin yang baik hati dan suka membaca sebuah cerita. Maka dari itu,
untuk menjelaskan ketangguhan Twitter untuk Ber-Citizen Journalism izinkanlah
saya sejenak bercerita.
Jadi
begini. Pagi kala
itu tidak seperti sebagaimana biasanya pagi. Walau terik matahari tetap masih
menyinari pagi. Namun benar-benar pasti pagi
ini bisa menjadi cerita pagi di pagi-pagi esok hari. Walau bukan cerita yang
mengenakkan dan bisa menambah nafsu sarapan pagi. Ini adalah suatu pagi yang
sangat mengguncang dan mencekang pagi.
Kawasan Kuningan Jakarta
Selatan tidak lagi menguning indah penuh gairah. Melainkan memerah merekah berapi
bertumpah darah, berserakan serpihan kaca-kaca dan puing-puing. Dua buah
ledakan dahsyat menjadi sarapan pagi di kawasan Kuningan pagi itu. Tepatnya
terjadi di hotel JW Marriot dan
Ritz Carlton, pada hari Jum’at 17 Juli
2009.
Daniel Tumiwa, salah satu pengunjung hotel Ritz
Carlton, memposting tweet diakun twitternya, “Bom @ marriot and ritz Carlton kuningan Jakarta”. Tweet ini di
posting sesaat setelah ledakan terjadi, ketika itu dia masih berada di
lantai 26. Postingan itu kemudian dilanjutkan dengan sejumlah posting susulan
serupa oleh orang lain, sehingga banyak diklaim ini merupakan kali pertama
informasi mengenai peristiwa itu disebarluaskan ke publik. Menurut Daniel, seperti disampaikannya
sendiri pada fitur komentar di sebuah berita pada Kompas Online, lantaran
postingannya yang termasuk “breaking news” tersebut, dirinya
langsung mendapatkan permintaan wawancara dari sejumlah media internasional,
termasuk CNN dan BBC (www.donnybu.blogdetik.com,
2009).
Sungguh dahsyat, peristiwa yang baru saja
terjadi bisa langsung dipublikasikan dengan selisih waktu beberapa detik saja
oleh Daniel
Tumiwa, seorang warga biasa – bukan jurnalis professional, yang kebetulan
berada di lokasi kejadian. Meski
informasi yang diberikan sangat singkat, namun itu informasi yang sangat
penting. Dengan berbagi informasi tersebut, secara tidak sadar Daniel telah
ber-Citizen Journalism. Daniel telah
menjadi Citizen Journalist atau
Jurnalis Warga.
Baik, teman-teman pembaca sekalian. Bagaimana,
sudahkah terbayang ketangguhan dari sebuah mikro blog yang bernama Twitter
untuk ber-Citizen Journalism?
Saya
masih memiliki sebuah tulisan tentang 10 alasan menggunakan Twitter sebagai
media Citizen Journalism. Namun
nampaknya akan menjadi terlalu panjang tulisan ini, jika sekaligus saya
tuangkan disini. Lebih baik, saya sambung lain waktu saja.
Atau
sebenarnya topik 10 alasan menggunakan Twitter sebagai media Citizen Journalism ini, juga saya bahas
di buku saya yang berjudul Jadi Jurnalis
Itu Gampang!!! – Serba-serbi tentang
Citizen Journalism dan panduan praktis menjadi Citizen Journalist untuk pemula.
Diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Buku ini baru akan beredar pada bulan
maret di toko-toko buku se-Indonesia, terkhusus di Gramedia.
Jika kondisi waktu dan doku memungkinkan, silahkan segera
dipinang sebelum kehabisan.
Terimakasih. Kita sambung dipostingan
mendatang.
Salam
pinang!
Wednesday, June 6, 2012
Nasi Uduk
Semoga kau tak punah dan termakan oleh waktu. Kaulah kudapan legendaries. Kudapan nostalgia Jakarta (betawi) yang masih bertahan oleh arus jaman. Meski sudah banyak makanan serba cepat yang mengancam nyawamu. Tetaplah bertahan wahai nasi uduk.
Salam nasi uduk!
Citizen Journalism dan Metamorfosis Media
Metamorfosis
Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik
wartawan atau institusi pers. Tepat diujung Metemorfosis Media yang berkembang,
menghasilkan sebuah media baru yang salah satunya berupa internet. Kecanggihan
internet memungkinkan komunikasi yang lebih dinamis, karena kemampuannya
melakukan komunikasi dua arah.
![]() |
| Ilustrasi: http://mung-pujanarko.blogspot.com |
Metamorfosis Media juga menumbuhkembangkan sebuah bentuk
jurnalisme gaya baru. Jurnalisme yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa
harus berpendidikan khusus di bidang jurnalistik, yaitu Citizen Journalism (Jurnalisme Warga). Warga bukan lagi menjadi
sekadar objek, melainkan sekaligus menjadi subjek dari proses jurnalisme.
Media dengan berjalannya waktu mengalami sebuah metamorfosis
atau perubahan bentuk secara perlahan namun pasti. Secara
umum yang sering kita dengar, yaitu berawal dari media cetak, kemudian
elektronik, hingga akhirnya sampai pada bentuk media online berupa internet yang
sangat canggih.
Lukas Luwarso menjelaskan
kecanggihan dari hasil metamorfosis media saat ini dengan pernyataannya bahwa
media massa terus bertransformasi, era media tradisional menjelang usai. Era broadsheet
membawa satu koran untuk satu pembaca; broadcast membawa satu acara
ke jutaan pemirsa; broadband membawa jutaan media (cetak, siaran,
dan cyber) ke satu orang.
Mendapati
kecanggihan dari perkembangan teknologi media adalah karunia dari keberuntungan
perjumpaan dengan zaman. Meski Citizen
Journalism bukan lahir dari perkembangan ini, namun perjumpaannya dengan
teknologi media yang canggih menjadikannya semakin populer dan tren. Metamorfosis
media memberi kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan Citizen Journalism (Jurnalisme Warga).
Media baru berupa
internet berhasil menghadirkan ruang publik baru yang semakin luas. Menjadi
lahan tumbuh suburnya Citizen Journalism (Jurnalisme
Warga). Blog, Facebook, Twitter, Youtube, Flickr, Sosial Blog, dan situs-situs
berbasis Citizen Journalism (Jurnalisme
Warga) menjadi media yang empuk untuk Ber-Citizen
Journalism.
Yang menarik, tumbuhkembangnya media mulai
dari media cetak hingga media online yang sangat canggih, bukanlah menjadi
sebuah ekosistem yang saling membunuh, melainkan justru terbentuk sebuah
kolaborasi yang saling melengkapi. Kemunculan
media baru memang selalu mendatangkan ancaman pada eksistensi media lama, namun
perlu diingat itu tidak pernah benar-benar mematikannya. Allright!
Subscribe to:
Comments (Atom)




















