Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa
akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa...
Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner
Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman...
Resensi Buku "Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!" oleh Omjay
Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati...
Ini Soal YouTube, Lebih Dari Sekadar Untuk Narsis
Setelah Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Briptu Norman Kamaru yang belakangan menjadi ngetop...
Citizen Journalism dan Metamorfosis Media
Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan...
Sunday, September 8, 2013
Skripsi Saya
Penerapan
E-learning dalam Sistem Pendidikan
Jarak Jauh pada Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Tutorial Online di Universitas Terbuka).
Kata Kunci: E-learning, Sistem
Pendidikan Jarak Jauh, Tutorial Online
Memasuki abad ke-21 terjadi banyak
perkembangan dalam dunia pendidikan. Pada abad dimana manusia sudah mulai
semakin akrab dengan teknologi ini, hadir sebuah paradigma baru dalam proses
pembelajaran. Kini sebuah proses pembelajaran bisa dilakukan secara jarak jauh,
tanpa harus dengan tatap muka di suatu ruang dan waktu yang sama, sebagaimana
terjadi dalam proses pembelajaran sebelumnya. Teknologi informasi dan
komunikasi (Information and Communication
Technology) atau biasa disingkat ICT juga
telah membawa efek perubahan yang nyata dalam proses pembelajaran. Salah satu bentuk pembelajaran jarak
jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi adalah tutorial online.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui penerapan e-learning dalam
sistem pendidikan jarak jauh pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam dengan
studi kasus tutorial online di
Universitas Terbuka. Penerapan yang dimaksud mencakup perencanaan, pelaksanaan,
evaluasi dan tindak lanjut dari hasil evaluasi, serta kendala dan bagaimana
mengatasi kendala dalam penerapannya.
Metode yang digunakan dalam penelitian
adalah penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif. Jenis penelitian
deskriptif yang digunakan adalah studi kasus. Teknik pengumpalan data dilakukan
dengan studi dokumenter, observasi, dan wawancara. Paradigmatik wawancara yang
digunakan adalah wawancara semi-terstruktur. Paradigmatik semi-terstruktur ini
digunakan dengan pertimbangan inilah paradigmatik wawancara yang lebih
fleksibel dari pada paradigmatik wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.
Perencanaan tutorial online pada mata kuliah Pendidikan Agama
Islam di Universitas Terbuka dilakukan dengan
membuat Rancangan Aktivitas Tutorial (RAT), Satuan Aktivitas Tutorial (SAT),
dan menyusun seluruh materi untuk 8 inisiasi. Pelaksanaan tutorial online dilaksanakan dalam 8 inisiasi.
Satu inisiasi berjalan selama satu minggu. Setiap inisiasi terdapat materi
inisiasi dan diskusi. Pada inisiasi ke-3, 5, dan 7, terdapat tugas yang harus
dikerjakan mahasiswa. Evaluasi formatif dinilai dari keaktifan mengikuti diskusi
dan mengerjakan tugas, sedangkan evaluasi sumatif adalah penggabungan nilai
diskusi dengan tugas. Dalam penerapan tutorial online terdapat beberapa kendala diantaranya, keterbatasan akses,
mahasiswa kurang aktif, tutor kurang aktif, kelas yang terlalu banyak, dan
keamanan jaringan.
Teman-teman, tulisan ini merupakan abstraksi skripsi saya. Skripsi yang saya kerjakan dalam enam bulan dengan sangat serius. Maksud hati, saya menargetkan skripsi saya untuk bisa menjadi buku saya yang ketiga. Namun karena beberapa hal, saya mengurungkan terget itu. Nah, dari pada tidak ada yang membacanya, saya akan memposting sedikit demi sedikit hal-hal yang menarik dan penting dari skripsi saya di blog ini dalam kategori 'Teknologi - Pendidikan'. Ini adalah postingan pertama kategori 'Teknologi - Pendidikan'.
Selain memposting hal menarik dan penting dari skripsi saya. Kategori Teknologi Pendidikan juga akan saya isi dengan tulisan-tulisan mengenai tema tersebut. Sebenarnya ini saya lakukan sekadar sebagai catatan dari perkuliahan saya di Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), jurusan Teknologi Pendidikan. Semoga bermanfaat!
Wednesday, July 24, 2013
Upaya Masuk Mencurigakan di Google
Beberapa waktu lalu, tiba-tiba sign in google di Android saya eror. Saya mencoba masuk dengan
sandi seperti biasa, tetap tidak bisa, masih selalu eror. Lumayan mengejutkan!
Waktu itu saya pikir ini hanya masalah sinyal yang kurang baik. Maka saya tidak
terlalu menganggapnya serius.
Siang harinya, ketika saya mengecek email melalui browser di
Android, ada sebuah email dari Tim Akun Google. Kali ini benar-benar
mengejutkan! Ini emai dari google yang saya maksud.
…………………………
Hai Imam,
Baru-baru ini ada seseorang mencoba menggunakan aplikasi untuk
masuk ke Akun Google Anda – imamfrkusumaningati@gmail.com.
Kami mencegah upaya masuk jika saja upaya tersebut dilakukan
pembajak yang mencoba mengakses akun Anda. Tinjau detail upaya masuk tersebut:
Rabu, 2013 Juli 17 19:22:33
Alamat IP: 189.251.250.69
Lokasi: Veracruz, Mexico
Jika Anda tidak mengenali upaya masuk ini, mungkin ada orang lain yang mencoba mengakses akun Anda. Sebaiknya segera masuk dan ubah sandi Anda.
Jika sebelumnya itu adalah Anda, dan sekarang
Anda mengalami masalah saat mengakses akun, selesaikan langkah pemecahan
masalah yang tercantum di http://support.google.com/ mail?p=client_login
Hormat kami,
Tim Akun Google
…………………………
Segera saya ganti sandi email. Semoga dengan sandi yang baru,
akun email saya lebih aman. Tidak tahu kenapa, dengan kejadian ini bukannya saya
merasa keamanan akun Google saya terancam, namun justru saya selalu bepikir kalau
hal ini aneh, kenapa bisa sampai ada yang seiseng ini, ya?! Siapa saya?! Dari
Mexico lagi pelakunya!
Nah, apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama?
Monday, July 22, 2013
Mencoba Adu Nyali ala Jusuf Kalla
Jusuf Kalla, wakil presiden era SBY periode pertama, mengejutkan saya minggu malam (7/7/13) kemarin. Seperti biasa saya selalu memantau perkembangan berita terbaru dari ponsel pintar yang selalu menemani. Salah satu berita Republika Online malam itu, memaparkan kebiasaan baru Jusuf Kalla belakangan ini.
Hampir sebulan terakhir ini Jusuf Kalla mencoba kebiasan baru, berusaha melepas diri dari ketergantungan terhadap ponsel. "Saya coba adu nyali dengan hp" kata pria yang akrab disapa JK ini. JK selama ini memperhatikan pada setiap acara orang tetap sibuk membaca dan mengirim pesan singkat sehingga tak fokus mengikuti agenda, apakah itu rapat, ceramah umum atau diskusi. "Orang-orang tetap saja sibuk memainkan hp, selain tidak fokus kesannya tidak serius mengikuti acara," ujarnya. Demikian saya kutip dari Republika Online.
Kebetulan sekali, belum lama postingan saya di blog membahas tentang sikap terhadap ponsel pintar, berjudul Menggunakan Ponsel Pintar dengan Pintar. Menceritakan bahwa tidak pintar menggunakan ponsel pintar, membuat kita dikendalikan oleh teknologi, bukannya kita yang mengendalikan teknologi. Maka saya sangat tertarik untuk mengulas berita adu nyali ala Jusuf Kalla ini.
Jaman dulu orang tanpa handphone biasa saja. Namun sekarang, mungkin karena sudah ketergantungan, tiada handphone ibarat dunia telah berakhir. Apalagi seringkali handphone membuat kita menjadi autis, asyik sendiri, tanpa peduli lingkungan sekitar.
Handphone apalagi smartphone atau ponsel pintar yang selalu terkoneksi dengan internet, memang mengasyikkan. Mendekatkan yang jauh dan memudahkan segala urusan. Meski demikian, sebaiknya kemudian jangan sampai justru menjauhkan yang dekat, atau mengganggu kegiatan sehari-hari dalam dunia nyata.
Nah, menarik sekali sepertinya mencoba adu nyali ala Jusuf Kalla, siapa berani?
Hampir sebulan terakhir ini Jusuf Kalla mencoba kebiasan baru, berusaha melepas diri dari ketergantungan terhadap ponsel. "Saya coba adu nyali dengan hp" kata pria yang akrab disapa JK ini. JK selama ini memperhatikan pada setiap acara orang tetap sibuk membaca dan mengirim pesan singkat sehingga tak fokus mengikuti agenda, apakah itu rapat, ceramah umum atau diskusi. "Orang-orang tetap saja sibuk memainkan hp, selain tidak fokus kesannya tidak serius mengikuti acara," ujarnya. Demikian saya kutip dari Republika Online.
Kebetulan sekali, belum lama postingan saya di blog membahas tentang sikap terhadap ponsel pintar, berjudul Menggunakan Ponsel Pintar dengan Pintar. Menceritakan bahwa tidak pintar menggunakan ponsel pintar, membuat kita dikendalikan oleh teknologi, bukannya kita yang mengendalikan teknologi. Maka saya sangat tertarik untuk mengulas berita adu nyali ala Jusuf Kalla ini.
Jaman dulu orang tanpa handphone biasa saja. Namun sekarang, mungkin karena sudah ketergantungan, tiada handphone ibarat dunia telah berakhir. Apalagi seringkali handphone membuat kita menjadi autis, asyik sendiri, tanpa peduli lingkungan sekitar.
Handphone apalagi smartphone atau ponsel pintar yang selalu terkoneksi dengan internet, memang mengasyikkan. Mendekatkan yang jauh dan memudahkan segala urusan. Meski demikian, sebaiknya kemudian jangan sampai justru menjauhkan yang dekat, atau mengganggu kegiatan sehari-hari dalam dunia nyata.
Nah, menarik sekali sepertinya mencoba adu nyali ala Jusuf Kalla, siapa berani?
Tuesday, July 9, 2013
Menggunakan Ponsel Pintar dengan Pintar
Seorang teman menemani saya mengobrol sampai jam dua pagi, Jum’at, 21 Juni 2013 lalu. Saya mengobrol mulai pukul setengah sepuluh malam. Malam itu sengaja saya mendatangi rumahnya. Ini bukan yang pertama kali. Bahkan saya pernah mengobrol hingga adzan subuh berkumandang.
![]()
Teras rumahnya terasa sangat nyaman sekali. Secangkir teh tubruk panas dengan ramuan khasnya yang memiliki citarasa berbeda, menjadi sajian wajib. Obrolan berjalan hangat, sehangat teh yang tersaji. Hingga menjelang pagi, saya baru tersadar, "Mas, kayaknya kalau kita lagi ngobrol, sampeyan gak pernah pegang handphone, ya?"
Dia tidak langsung menjawab. Sambil tersenyum manis, baru dia menjawab, "orang dulu gak ada HP juga gak mati, Mas!" Hening sejenak, saya terpukul dengan jawabannya. "Kalau ada yang dekat, kenapa harus melayani yang jauh, yang jauh, kan, bisa setelah ini. Kalau sedang ngobrol begini, melayani yang lain, itu bikin ’frekwensi’ obrolan rusak. Saya ngobrol, terus ada orang lewat, saya menanggapi yang lewat, itu saja sudah merusak suasana obrolan." Dia melanjutkan jawabannya panjang lebar.
Saya lalu teringat bagaimana keseharian yang saya lakukan dengan teman-teman sebaya. Beberapa kali kita pernah berkumpul, namun masing-masing asyik dengan ponsel pintarnya (smartphone) sendiri-sendiri. Saya lalu juga berpikir, bagaimana rasanya di hati, misalkan saya bertamu ke tempat seseorang, namun orang tersebut justru asyik dengan ponsel pintarnya?
Senja di hari Sabtu, 29 Juni 2013 kemarin, saya mengobrolkan hal ini dengan teman saya yang lain. Katanya, "memang begitu, misalkan dalam teater, itu bisa disebut dengan ’memutus emosi’, merusak emosi berlatih atau bermain teater, apabila bermain ponsel pintarnya, atau melakukan hal lain.
Menggunakan ponsel pintar sepertinya memang harus dengan pintar juga. Kalah pintar dengan ponsel pintar, membuat penggunanya dikendalikan oleh teknologi, bukannya dia yang mengendalikan teknologi. Seperti itu bukan, sih?
Dia tidak langsung menjawab. Sambil tersenyum manis, baru dia menjawab, "orang dulu gak ada HP juga gak mati, Mas!" Hening sejenak, saya terpukul dengan jawabannya. "Kalau ada yang dekat, kenapa harus melayani yang jauh, yang jauh, kan, bisa setelah ini. Kalau sedang ngobrol begini, melayani yang lain, itu bikin ’frekwensi’ obrolan rusak. Saya ngobrol, terus ada orang lewat, saya menanggapi yang lewat, itu saja sudah merusak suasana obrolan." Dia melanjutkan jawabannya panjang lebar.
Saya lalu teringat bagaimana keseharian yang saya lakukan dengan teman-teman sebaya. Beberapa kali kita pernah berkumpul, namun masing-masing asyik dengan ponsel pintarnya (smartphone) sendiri-sendiri. Saya lalu juga berpikir, bagaimana rasanya di hati, misalkan saya bertamu ke tempat seseorang, namun orang tersebut justru asyik dengan ponsel pintarnya?
Senja di hari Sabtu, 29 Juni 2013 kemarin, saya mengobrolkan hal ini dengan teman saya yang lain. Katanya, "memang begitu, misalkan dalam teater, itu bisa disebut dengan ’memutus emosi’, merusak emosi berlatih atau bermain teater, apabila bermain ponsel pintarnya, atau melakukan hal lain.
Menggunakan ponsel pintar sepertinya memang harus dengan pintar juga. Kalah pintar dengan ponsel pintar, membuat penggunanya dikendalikan oleh teknologi, bukannya dia yang mengendalikan teknologi. Seperti itu bukan, sih?
Tuesday, December 4, 2012
Bentuk-bentuk Citizen Journalism
Teman-teman pembaca, blogger, dan para citizen Journalist!. Setelah membaca
tulisan Steve Outing, seorang editor senior The Poynter Institute for
Media Studies berjudul The 11 Layers of Citizen Journalism yang diterbitkan tahun 2005. Jadi begini, menurut Steve
Outing bentuk-bentuk Citizen
Journalism itu dibagi ke dalam 11 bentuk, yaitu:
1. Opening Up to Public Comment
Situs di internet menyediakan tempat (kolom) komentar
dari publik. Pembaca diperbolehkan untuk bereaksi, mengkritik, memuji, atau memberi
tambahan ke dalam berita yang ditulis oleh jurnalis profesional dalam kolom tersebut.
2. The Citizen Add-On Reporter
Menambahkan
pendapat warga sebagai bagian berita yang ditulis oleh jurnalis profesional.
Warga diminta menuliskan pengalamannya yang berkaitan dengan berita tersebut.
3. Open-Source Reporting
Sebuah
bentuk kolaborasi liputan dengan sumber terbuka, di mana
jurnalis profesional bekerja sama dengan pembaca yang memiliki pengetahuan tentang suatu masalah yang sedang terjadi, saling melengkapi dalam menghasilkan sebuah berita yang akurat. Berita
tetap ditulis oleh reporter profesional.
4. The Citizen Bloghouse
Bloghouse
warga, yaitu blog-blog gratis yang bisa dimiliki oleh
setiap orang, yang kemudian dapat digunakan untuk
menuangkan cerita maupun gagasan kepada khalayak umum di seluruh penjuru dunia.
5. Newsroom Citizen ‘Transparency’ Blogs
Sebuah blog yang dimiliki oleh sebuah organisasi
media sebagai bentuk transparansi dan komunikasi dengan pembacanya. Keluhan, kritik, atau pujian
terhadap apa yang ditampilkan organisasi media tersebut dapat disampaikan di
sini.
6. The Stand Alone Citizen Journalism Site:
Edited Version
Laporan
berita dari warga dengan melalui proses penyuntingan.
Berita yang masuk melalui proses penyuntingan
terlebih dahulu, dengan tetap mempertahankan keaslian tulisan.
7. The Stand Alone Citizen Journalism Site:
Unedited version
Laporan
berita dari warga pada sebuah situs, tanpa melalui proses penyuntingan. Dalam versi ini, berita bisa langsung muncul seketika setelah diposting.
8. Add a Print Edition
Merupakan gabungan dari The stand-alone citizen-journalism site dengan edisi cetak.
9. The Hybrid: Pro + Citizen Journalism
Penggabungan jurnalis profesional
dengan jurnalis warga. Berita dari jurnalis profesional diperlakukan sama
dengan berita dari jurnalis warga.
10. Integrating Citizen
and Pro Journalism Under One Roof
Penggabungan jurnalisme profesional dengan
jurnalisme warga dalam satu atap. Menggunakan
jurnalis profesional, namun juga menerima tulisan dari jurnalis warga.
11. Wiki Journalism: Where the Readers are
Editors
Jurnalisme Wiki adalah model jurnalisme yang menempatkan
pembaca sebagai penyunting.
Setiap orang bisa menulis, menyunting,
maupun memberi komentar pada tulisan. Model jurnalisme ini dipopulerkan oleh Wikipedia.
Bloghouse
warga, adalah beragam jenis blog yang sekarang banyak dimiliki setiap orang.
Penyedia layanannya juga beragam, seperti blogger.com, multiply.com,
wordpress.com, dan lainnya. Bahkan, setiap orang bisa memiliki lebih dari satu
blog. Nah, berapakah blog yang Anda miliki?..he.
Namun perlu diingat
bahwa tidak semua blog bisa masuk dalam kategori citizen
journalism. Kenapa? Karena
banyak sekali blog yang hanya berisi curhat-curhat si pemilik blog.
Blog baru bisa disebut sebagai produk dari citizen journalism apabila
dalam blog tersebut membahas sebuah topik tertentu yang sedang hangat dan
terjadi interaksi publik.
Situs citizen journalism yang langsung bisa memunculkan
artikel setelah diposting adalah seperti kompasiana.com. Dalam hal ini redaksi
hanya berperan memoderasi atau melakukan pengawasan semata terhadap informasi
yang di posting. Apabila terdapat
unsur SARA, pencemaran nama baik, atau yang lainnya, redaksi berhak untuk
menghapus tulisan tersebut dari situs.
Sementara itu, bentuk
hybrid journalism, yaitu penggabungan
antara jurnalis profesional dengan jurnalis warga, dapat dilihat pada situs
berita Korea Selatan, ohmynews.com. Sejak
berdirinya pada tahun 2000, situs ini telah menggunakan konsep hybrid journalism. Terry Flew and Jason
Wilson (2008) menjelaskan OhmyNews dikenal
sebagi situs pelopor citizen journalism yang
paling populer di dunia. Saat ini memiliki 60.000 citizen journalist yang tersebar di seleruh dunia dengan 60
jurnalis tetap dan penyunting. Dalam bahasa Korea, OhmyNews memiliki lebih dari 750.000 pengunjung setiap hari. OhmyNews juga tersedia dalam versi
bahasa Inggris dengan OhmyNews
International.
Model Wiki
Journalism adalah seperti wikipedia.org atau wikimu.com. Di sini siapa saja
bisa menulis apa saja, menyunting tulisan yang sudah diposting sebelumnya oleh
penulis lain, atau hanya sekadar memberi komentar. Namun partisipasi warga di
sini nampaknya masih kalah dengan situs citizen journalism lainnya. Karena model wiki lebih populernya
justru sebagai situs untuk mencari referensi. Jadi sering kali orang membukanya
untuk mencari referensi, bukan untuk memposting tulisan.
Sekian teman-teman,
semoga tulisan ini bermanfaat. Pembahasan lebih detail berkaitan dengan
bentuk-bentuk Citizen Journalism, saya
bahas dalam buku citizen journalism berjudul
Jadi Jurnalis Itu Gampang!!! Buku pertama saya yang diterbitkan oleh
Elex Media Komputindo.
Tuesday, November 20, 2012
Blog Sebagai Media Citizen Journalism
"Blog adalah simbol dari apa yang hebat tentang
Internet." (Cameron
Barret).
Blog, blog, sekali lagi blog, saya yakin ini
bukan kata yang asing didengar. Terlepas Anda punya atau
tidak punya blog. Mungkin Anda mengenalnya
dari sebuah obrolan dengan teman, membaca dari artikel di majalah, koran, atau situs yang kebetulan terdapat kata blog, atau Anda
terpaksa mengenal dan harus membuatnya karena tugas wajib dari dosen atau guru
TIK?
Blog Sebagai Media Citizen
Journalism
Teman-teman, penggunaan blog
awalnya hanya sekadar untuk memenuhi kepuasan diri. Namun, akhirnya
berkembang menjadi aktivitas rutin untuk saling bertukar informasi di
kalangan blogger. Menyadari besarnya potensi blog untuk menjalin komunikasi
secara lebih luas, maka motivasi para blogger akhirnya
mengalami perubahan dari orientasi pemuasan diri, kemudian berkembang ke arah
fungsi sosial yang lebih luas dengan cara saling melakukan tukar menukar
informasi. Aktivitas inilah yang menjadi awal
berkembangnya citizen journalism di
blog. Perubahan fungsi itu terjadi karena keberadaan blog didukung oleh infrastruktur
yang memungkinkan adanya interkoneksi antar blog dalam cakupan global.
Seperti
yang sudah dijelaskan oleh Steve Outing dalam 11 bentuk citizen journalism, blog adalah termasuk salah satunya, yaitu the
citizen bloghouse: bloghouse warga. Namun, tidak
semua blog masuk dalam kategori produk citizen journalism. Nah, bagaimanakah blog yang masuk dalam
kategori tersebut? Menurut Lewis Friedland dan Nakho Kim (2009), blog-blog dan situs forum bisa disebut
sebagai produk citizen journalism apabila terjadi interaksi publik, termasuk situs yang dikelola bersama,
yang banyak dipakai untuk mendiskusikan sebuah topik spesifik. Nah, jadi
apabila Anda ingin blog Anda dikategorikan sebagai produk citizen
journalism, pastikan blog Anda memenuhi kriteria tersebut.
Kekurangan dan Kelebihan Blog untuk Citizen
Journalism
Menggunakan blog
sebagai media citizen journalism tentunya
memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri bila dibandingkan dengan
penggunaan situs jejaring sosial.
Di blog tidak ada batasan karakter kata, jadi Anda bisa bebas menulis
panjang mungkin. Sedangkan di Twitter terbatas
hanya bisa menulis hingga 140 karakter, namun ketika menulis singkat di Facebook
atau Twitter, tulisan tersebut akan langsung bisa dibaca secara otomatis oleh
mereka yang termasuk ke dalam lingkup pertemanan Anda.
Sementara itu, di
blog, tulisan tidak bisa secara otomatis terpublikasi secara luas. Maka setelah
memposting di blog, masih harus mempublikasikan tulisan yang Anda posting.
Pertanyaannya sekarang, Anda mau pilih yang mana? Hehehe.
Mempublikasikan Blog
Jika Anda akhirnya
memilih untuk ber-citizen journalism dengan menggunakan blog, maka Anda masih harus melakukan publikasi secara
mandiri. Tapi tenang saja, ada beberapa cara jitu untuk mempublikasikan
blog Anda secara mandiri.
Cara pertama untuk
mempromosikan blog yang Anda miliki adalah dengan blogwalking. Maksud dari blogwalking
adalah berjalan-jalan di dunia maya mengunjungi blog orang lain, kemudian
memberi komentar pada sebuah postingan, sekaligus meninggalkan tautan alamat
blog Anda.
Cara kedua untuk
mempromosikan blog secara mandiri adalah dengan bergabung dengan komunitas
blogger. Komunitas blogger biasanya terbentuk karena berdasarkan
kesamaan-kesamaan tertentu, seperti kesamaan asal daerah, kesamaan kampus,
kesamaan hobi, dan sebagainya. Misalkan
blog Anda merupakan blog yang berkaitan dengan hobi fotografi, maka
bergabunglah dengan komunitas blogger fotografi.
Namun, dari kedua
cara tersebut di atas, menurut Michael Firewall (2008), cara ketiga untuk
mempromosikan blog, sekaligus cara yang paling jitu adalah dengan mendaftarkan
blog ke situs direktori blog. Supaya blog mudah ditemukan melalui mesin pencari
seperti Google atau Yahoo. Anda bisa mendaftarkan blog Anda ke situs direktori
blog seperti technorati.com, feedburner.com, atau blogdigger.com
Teman-teman,
semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Salam Jurnalisme Warga!!!
Thursday, November 8, 2012
Mengkritisi Pemukulan Wartawan di Riau dari Sudut Pandang Jurnalisme Warga
Belum lama ini kembali lagi
terjadi pemukulan terhadap seorang wartawan yang hendak meliput. Sudah kita
ketahui bersama kabar tentang peristiwa ini, karena hal ini juga sudah banyak
diberitakan oleh berbagai media nasional maupun lokal, online maupun cetak.
![]() |
| Sumber foto: www.tribunnews.com |
Seorang wartawan yang
hendak meliput jatuhnya kecelakaan pesawat Hawk 200 yang jatuh di permukiman
penduduk di Pandau, Pekanbaru, Riau, Selasa (16/10) dipukuli oleh personel TNI
Angkatan Udara (AU) yang sedang berada dilokasi kejadian. Disini saya menilai peristiwa
ini dari kejauhan, karena saya bukanlah orang yang berada dilokasi saat
peristiwa terjadi. Namun melihat dari tayangan berita di televisi, pemukulan
wartawan oleh aparat TNI AU tersebut terjadi dengan brutal.
Saya melihat peristiwa ini
dari sudut pandang Jurnalisme Warga. Jadi saya lebih menggaris bawahi pada
pernyataan Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma Azman Yunus di Jakarta,
Selasa (16/10) dalam konferensi pers yang dilakukannya dan ditayangkan oleh Metro
TV tidak lama setelah peristiwa pemukulan terjadi. Menyimak pemaparannya pada
intinya Marsma meminta maaf, dan sempat mengatakan bahwa “ada juga dugaan bahwa
orang-orang yang datang mengambil gambar tidak semuanya wartawan. Sebab, kalau
wartawan yang bertugas di Pekanbaru, pihak Lanud sangat mengenal.” ungkapnya.
Lantas timbul pertanyaan,
apakah yang bukan wartawan (red: warga) tidak boleh meliput peristiwa tersebut?
Sebagai warga biasa dengan adanya konsep Jurnalisme Warga atau Citizen
Journalism setiap warga bisa melakukan kegiatan jurnalisme (meliput,
mengolah, dan menyebarkan informasi atau berita). Kejadian itu terjadi
dipemukiman warga, terjadi di ruang publik, jadi siapa saja berhak untuk
meliputnya. Hanya dalih belaka menurut saya sebagian alasan dari pemukulan
wartawan tersebut karena adanya warga yang ikut meliput. Sejujurnya itu hanya
karena tidak ingin peristiwa tersebut terlalu terekspos oleh media.
Masalah keamanan atas
kekhawatiran meledaknya pesawat, lantas kemudian personel TNI AU bermaksud
untuk menjauhkan warga dan wartawan dari lokasi kejadian, setidaknya bisa
dilakukan dengan baik-baik, tidak harus dengan cara pemukulan. Kembali saya
menyayangkan pernyataan Marsma yang menjadikan warga sebagai tameng atau alasan
atas terjadinya pemukulan tersebut, padahal sejatinya warga pun juga berhak
untuk meliput sebuah peristiwa.
Perlu diapresiasi, dalam
grup Facebook “Komunitas Citizen Journalist Indonesia”, saya mendapatkan tautan
dari akun Facebook “Sekretariat Ppwi”, dengan statusnya bahwa “PPWI Nasional
menyampaikan keberatan atas perlakuan pihak TNI-AU terhadap warga masyarakat
(termasuk wartawan) yang berupaya mengumpulkan informasi atau data tentang
bencana jatuhnya pesawat AU di Pekanbaru, Riau. Pesawat perang itu adalah milik
rakyat, sehingga setiap WNI berhak mengetahui apa yg terjadi.”
Pemukulan atau penganiayaan
terhadap wartawan atau warga masyarakat yang hendak meliput tidak boleh
terulang lagi. Para stakeholder pemerintahan, lembaga-lembaga
negara, institusi dan instansi, harusnya juga menyadari bahwa saat ini bukan
hanya wartawan yang dapat meliput berita, namun warga biasa juga bisa ikut
berpartisipasi aktif meliput dan mengabarkan suatu peristiwa. Warga kini bukan
lagi hanya menjadi objek pemberitaan, namun juga bisa menjadi objek sekaligus
subjek dari sebuah berita.
Tuesday, October 2, 2012
NGANDROID: Hidup Menjadi Mudah dan Menyenangkan dengan Android
Salam
sejahtera untuk teman-teman semuanya. Semoga semua dalam kondisi sehat
senantiasa..amin.
Teman-teman, maaf sebelumnya jika sudah satu bulan blog ini sepi, sunyi, setengah mati mungkin, karena tidak ada postingan baru. Semua itu karena Saya sedang fokus mengerjakan skripsi dan mengurus proses penerbitan buku kedua.
Nah, dipostingan perdana setelah kesunyian menyapa..he. Izinkan Saya berbagi informasi tentang buku NGANDROID. Inilah buku kedua Saya yang akan segera beredar (edit: "sekarang sudah beredar lho..") di toko-toko buku seluruh Indonesia, khususnya toko buku Gramedia. Berikut ini identitas bukunya.
Teman-teman, maaf sebelumnya jika sudah satu bulan blog ini sepi, sunyi, setengah mati mungkin, karena tidak ada postingan baru. Semua itu karena Saya sedang fokus mengerjakan skripsi dan mengurus proses penerbitan buku kedua.
Nah, dipostingan perdana setelah kesunyian menyapa..he. Izinkan Saya berbagi informasi tentang buku NGANDROID. Inilah buku kedua Saya yang akan segera beredar (edit: "sekarang sudah beredar lho..") di toko-toko buku seluruh Indonesia, khususnya toko buku Gramedia. Berikut ini identitas bukunya.
Judul:
NGANDROID:
Hidup Menjadi Mudah dan Menyenangkan dengan Android
Penulis:
Imam FR
Kusumaningati
Penerbit:
Elex Media
Komputindo
Harga:
33.800
Kover
Sinopsis
Saat
ini, sistem operasi Android sudah mulai menguasai pasar internasional,
mengalahkan teknologi system operasi handphone lainnya. Bahkan Google
memprediksi pada tahun 2024, setiap orang di bumi ini setidaknya akan memiliki
satu perangkat Android di saku mereka, wow!
Android
juga membuat hidup ini semakin mudah mengasyikkan loh. Dengan kecanggihan
Android, bisa memudahkan Anda untuk menyelesaikan keperluan sehari-hari.
Misalkan, mengetes kesehatan saja kini sudah bisa Anda lakukan cukup
menggunakan Android. Apalagi kalau bicara soal game, sudah banyak, gratis pula!
Jika boleh diibaratkan, Android merupakan “surganya” para gamers. Kenapa? Sudah
jelas, puluhan ribu game di Android bisa Anda download dan mainkan dengan
gratis. Kalau Anda bosan, tinggal download lagi, bosan lagi, ya download lagi.
Nah,
mengupas kecanggihan Android, buku ini membahas aplikasi-aplikasi yang dapat
memudahkan keperluan sehari-hari Anda, mulai dari keperluan kesehatan,
pembayaran, transportasi, berjejaring sosial, berkomunikasi, belajar agama, dan
lainnya. Dalam buku ini juga terdapat daftar game-game asyik menggelitik
Android. Tidak lupa, untuk memudahkan Anda mengoperasikan Android, disertakan
pula tip-tip dasar menggunakan Android.
................................................................
Terima
kasih banyak teman-teman atas kesempatan berbagi informasi ini. Semoga kelak
buku NGANDROID bisa bermanfaat sebagai panduan menggunakan Android untuk memudahkan
mengerjakan keperluan sehari-hari.
Subscribe to:
Posts (Atom)














