“Jadi, mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?” Dedi Dwitagama dengan gaya santai namun serius menanyakan berulang-ulang kepada para guru peserta Teacher Writing Camp 3, Minggu, 29 Desember 2013, di Wisma Universitas Negeri Jakarta. Teacher Writing Camp atau biasa disingkat TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional, diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi.
Saya menyimak apa yang disampaikan Dedi dari ujung barisan bangku paling belakang. Pada TWC ini, saya bukan peserta, panitia juga bukan. Lebih tepatnya mungkin saya di sini hanya bermain yang sesekali menjadi moderator di salah satu sesi penyampaian materi TWC.
Sekali lagi, “mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?”, Dedi Dwitagama menegaskan, kemudian menjelaskan bahwa ikan Sapu-sapu itu kalau di aquarium mainnya di bawah, kerjaannya membersihkan kotoran, dan sekalipun ke atas dia menempel di pinggi-pinggir kaca aquarium. Sedangkan Arwana mainnya di atas, di tengah, kadang juga di bawah, namun sering kali di atas, dan dia bisa bergerak ke seluruh bagian aquarium.
Sebagai manusia atau guru yang berkualitas, apabila diibaratkan dengan kedua jenis ikan tadi, kita harus menjadi Arwana; besar, enak dilihat, harganya mahal, bisa bergerak ke mana-mana. Sapu-sapu bukanlah ibarat manusia atau guru yang berkualitas; kecil, bentuknya jelek, sukanya di bawah atau disamping, harganya murah.
Bukan berarti tidak totalitas, yang harus dilakukan adalah menyisihkan waktu untuk mengasah diri sendiri. Membuat prestasi pada diri sendiri, kerjakan hobi, publikasikan, dan berjejaring. Supaya bukan hanya sekolah atau yayasan yang namanya besar dan terkenal, namun nama diri sendiri juga bisa menjadi besar dan terkenal. Banyak sekali yang bisa dilakukan untuk menjadi besar dan terkenal yang salah satunya dengan menulis. Menulis adalah meninggalkan jejak, mengukir sejarah, setidaknya untuk diri sendiri.
Dedi Dwitagama mengakhiri penyampaian materinya dengan mengulangi lagi, “Jadi, mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?”


















