Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa

akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa...

Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner

Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman...

Resensi Buku "Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!" oleh Omjay

Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati...

Ini Soal YouTube, Lebih Dari Sekadar Untuk Narsis

Setelah Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Briptu Norman Kamaru yang belakangan menjadi ngetop...

Citizen Journalism dan Metamorfosis Media

Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan...

Monday, January 13, 2014

Dedi Dwitagama: Mau Jadi Ikan Sapu-sapu atau Arwana?

Mau jadi Mau jadi ikan Sapu-sapu atau Arwana? Sapu-sapu kalau di aquarium mainnya di mana? Kalau Arwana di aquarium mainnya di mana? Coba pikirkan! 

“Jadi, mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?” Dedi Dwitagama dengan gaya santai namun serius menanyakan berulang-ulang kepada para guru peserta Teacher Writing Camp 3, Minggu, 29 Desember 2013, di Wisma Universitas Negeri Jakarta. Teacher Writing Camp atau biasa disingkat TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional, diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi.


Saya menyimak apa yang disampaikan Dedi dari ujung barisan bangku paling belakang. Pada TWC ini, saya bukan peserta, panitia juga bukan. Lebih tepatnya mungkin saya di sini hanya bermain yang sesekali menjadi moderator di salah satu sesi penyampaian materi TWC.

Sekali lagi, “mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?”, Dedi Dwitagama menegaskan, kemudian menjelaskan bahwa ikan Sapu-sapu itu kalau di aquarium mainnya di bawah, kerjaannya membersihkan kotoran, dan sekalipun ke atas dia menempel di pinggi-pinggir kaca aquarium. Sedangkan Arwana mainnya di atas, di tengah, kadang juga di bawah, namun sering kali di atas, dan dia bisa bergerak ke seluruh bagian aquarium.

Sebagai manusia atau guru yang berkualitas, apabila diibaratkan dengan kedua jenis ikan tadi, kita harus menjadi Arwana; besar, enak dilihat, harganya mahal, bisa bergerak ke mana-mana. Sapu-sapu bukanlah ibarat manusia atau guru yang berkualitas; kecil, bentuknya jelek, sukanya di bawah atau disamping, harganya murah.
 
 

Sebagai guru yang akan menjadi Arwana caranya adalah dengan terus berlatih mengasah diri sendiri. Sisihkan waktu khusus untuk mengasah diri sendiri. Jangan habiskan waktu untuk bekerja habis-habisan untuk sekolah atau yayasan. Menghabiskan waktu sehabis-habisnya di sekolah atau yayasan tempat mengajar, yang menjadi besar kemudian adalah nama sekolah atau yayasan tersebut. Anda tetap kecil. Sekolah atau yayasan juga tidak akan mampu menghargai sepadan dengan apa yang sudah dilakukan, karena harus diakui ada keterbatasan dalam hal ini.

Bukan berarti tidak totalitas, yang harus dilakukan adalah menyisihkan waktu untuk mengasah diri sendiri. Membuat prestasi pada diri sendiri, kerjakan hobi, publikasikan, dan berjejaring. Supaya bukan hanya sekolah atau yayasan yang namanya besar dan terkenal, namun nama diri sendiri juga bisa menjadi besar dan terkenal. Banyak sekali yang bisa dilakukan untuk menjadi besar dan terkenal yang salah satunya dengan menulis. Menulis adalah meninggalkan jejak, mengukir sejarah, setidaknya untuk diri sendiri.

Dedi Dwitagama mengakhiri penyampaian materinya dengan mengulangi lagi, “Jadi, mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?”     

Thursday, January 9, 2014

Indonesia MDG Awards 2013: “Beraksi untuk Negeri!”

Natasha Karina Ardiana mengirim email ke saya, 3 Januari 2013. Saya sendiri belum kenal dengan Natasha. Entah dari mana juga dia mendapatkan alamat email saya. Mungkin waktu itu, Februari 2013 saya pernah mengikuti workshop kepemudaan selama 5 hari, diadakan oleh Pamflet bekerjasama dengan UNESCO di Wisma 678 Kemang. Sepertinya dari acara itu alamat email saya didapat. 


Email dari Natasha berisi tentang Indonesia MDG Awards 2013. Mengajak segenap rekan-rekan di Instansi Swasta, Pemerintah Kabupaten/ Kota, Organisasi Masyarakat Sipil, dan Organisasi Pemuda & Akademisi untuk turut serta berbagi praktek cerdas yang sudah dilakukan dengan menjadi peserta Indonesia MDG Awards 2013: “Beraksi untuk Negeri!”. Indonesia MDG Awards 2013 merupakan ajang apresiasi untuk berbagai program kreatif dan inovatif untuk mempercepat pencapaian pembangunan di Indonesia.
  
Kategori program yang akan diberikan penghargaan yaitu Nutrisi, Pendidikan, Kesehatan Ibu dan Anak, Akses Air Bersih & Sanitasi Layak, Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS & Penyakit Menular Lainnya. 

Periode pendaftaran mulai 20 Desember 2013 – 16 Februari 2014. Pendaftaran dapat dilakukan online di www.awards.indonesiamdgs.org. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Secretariat Indonesia MDG Awards 2013 atas nama Gina Ginarti atau Annisa Firdausy, Jl. Teuku Umar No. 10, Jakarta 10350, Indonesia. Telepon: +622131901268, Fax : +622131900502, Facebook : Indonesia MDG Awards 2013
Twitter: @MDGAwards. 

Terimakasih Natasha kiriman emailnya. Di akhir email Natasha, ada pesan singkat begini; “Silakan disebarluaskan lebih jauh ke jaringan Bapak/Ibu dan teman-teman sekalian.” Semoga postingan ini bisa membantu menyebarluaskan informasi Indonesia MDG Awards 2013.

Monday, January 6, 2014

Menjadi Moderator Teacher Writing Camp 3 Hari Kedua

Hari kedua Teacher Writing Camp (TWC) 3, Omjay bilang, “nanti sesi kedua, kamu moderator, ya, Mam!”. Segera saya jawab, “siap Om”. Padahal saya belum tau materi apa yang akan disampaikan dan siapa narasumbernya. Malamnya, ketika menginap di Wisma Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saya memang sudah persiapan mental untuk menjadi moderator lagi, itu saja, tanpa berpikir mau memoderatori materi apa dan dengan narasumber siapa.


Saya hanya bisa bilang “siap Om”, karena Omjay adalah penggagas dibalik konsep TWC  yang merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional ini. TWC 3 diikuti sekitar 45 guru dari berbagai daerah di Indonesia, diselenggarakan di Wisma Universitas Negeri Jakarta selama dua hari, sabtu dan minggu, 28 dan 29 Desember 2013.TWC 3 kali ini mengangkat tema “Menulis dan Nge-blog”. TWC diselenggarakan setiap 6 bulan sekali oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi. TWC 1 dan 2 sudah berlangsung dengan sukses setahun yang lalu.

Setelah saya menanyakan ke panitia, materi sesi kedua adalah menerbitkan buku sendiri, diisi oleh Bapak Alpiyanto dan Bapak Thamrin Sonata. Akhirnya waktunya tiba, saatnya masuk sesi kedua. Bapak Alpiyanto menyampaikan bahwa buku yang sukses untuk dapat diterbitkan sendiri adalah buku yang mengandung unsur memberi solusi, inspirasi, dan motivasi. Sedangkan Bapak Thamrin Sonata lebih menekankan bahwa menulis buku sekarang bisa dimulai dari ngeblog, kemudian nanti bisa dijadikan buku, ngeblog merupakan bagian dari menabung naskah buku.


Menerbitkan buku sekarang sungguh sangat mudah dengan teknologi digital printing. Terdapat fasilitas print on demand (PoD), yaitu kita bisa mengeprint atau mencetak buku sesuai permintaan tanpa batal minimal cetak. Seperti definisi dari Wikipedia; print on demand (PoD) is a printing technology and business process in which new copies of a book (or other document) are not printed until an order has been received, which means books can be printed one at a time. 

Menjadi moderator TWC dalam dua sesi, di hari pertama dan kedua, memberi saya banyak pengalaman. Biasanya saya menjadi narasumber, namun kali ini justru menjadi moderator. Sedikit berbeda, menjadi seorang moderator harus memiliki kemampuan mengatur berjalannya seminar, mulai dari pembuka, penyampaian materi, tanya jawab, dan penutup. Terimakasih untuk Omjay dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang bekasi sudah mempercayai saya menjadi moderator di TWC 3.

Thursday, January 2, 2014

Menjadi Moderator Teacher Writing Camp 3

Ketika ada seorang guru mengajar, namun muridnya cenderung tidak perhatian, mengantuk, bahkan ada yang tertidur, siapakah yang harus dibangunkan? Jawabannya, yang harus dibangunkan adalah gurunya.


Pepatah Tionghoa kuno itu saya gunakan sebagai kata pembuka ketika saya menjadi moderator Teacher Writing Camp 3 atau TWC 3 di hari pertama, sabtu, 28 Desember 2013. Saya membawakan penyampaian materi sesi ketiga, di siang bolong, kurang lebih pukul setengah dua, dan setelah makan siang. Bayangkan? Bagi saya ini sesi yang amat sangat rawan. Beruntunglah, pepatah tionghoa kuna tadi lumayan bisa membangkitkan suasana.

TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional. TWC 3 mengangkat tema “Menulis dan Nge-blog”. TWC 3 diikuti sekitar 45 guru dari berbagai daerah di Indonesia, diselenggarakan di Wisma Universitas Negeri Jakarta selama dua hari, sabtu dan minggu, 28 dan 29 Desember 2013. TWC diselenggarakan setiap 6 bulan sekali oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi. TWC 1 dan 2 sudah berlangsung dengan sukses setahun yang lalu. Penggas dibalik konsep TWC adalah seorang guru dan juga blogger bernama Wijaya Kusumah atau sering dipanggil Omjay.

Sesi ketiga di hari pertama TWC, diisi dengan materi bagaimana mengirimkan tulisan di media online dan cetak. Tepat di sebelah kana saya, sudah ada orang yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Pertemuan terakhir saya dengannya sekitar empat bulan yang lalu, saya diinterview olehnya sebagai kandidat calon Moderator Kompasiana. Orang yang saya maksud adalah Iskandar Zulkarnaen; editor Kompasiana, blogger, penulis, dan juga seorang ayah yang baik, sudah siap untuk menyampaikan materinya.


Meski di siang bolong, IskandarZulkarnaen atau biasa dipanggil Isjet menyampaikan materi dengan penuh semangat, disambut sebaliknya dari Bapak dan Ibu guru peserta TWC menyimak dengan penuh antusias. “Mengirimkan tulisan ke media cetak maupun online, sebelumnya harus tahu karakteristik media tersebut, namun yang lebih mudah adalah Bapak dan Ibu guru sekalian bisa mempublikasikan tulisan di blog masing-masing,” sepotong kalimat Mas Isjet dalam penyampaian materinya.

Setelah penyampaian materi, saatnya masuk pada sesi tanya jawab. Banyak sekali peserta yang ingin bertanya, namun karena keterbatasan waktu hanya enam penanya yang bisa mengajukan pertanyaan. Ada satu pertanyaan yang menggelitik, “di Kompasiana sering kali ada ajang kompetisi kepenulisan, kenapa bisa begitu?”, tanya salah satu peserta. “dulu, perusahaan atau instansi mengundang wartawan untuk konferensi pers bermaksud mensosialisasi produk atau programnya, namun sekarang keadaan sudah berubah, perusahaan dan instansi tersebut melakukan jemput bola, mengundang keterlibatan warga”, jawab Mas Isjet.

Satu hal yang kemudian tertangkap di benak saya, warga atau warga dunia maya khususnya, lebih khusus lagi adalah blogger, sepertinya semakin diperhitungkan peranannya. Ini merupakan kabar gembira. Hingga akhirnya, diakhir acara saya menanyakan kepada Bapak dan Ibu guru peserta TWC, apakah masing-masing dari mereka sudah memiliki blog. “Karena orang yang tidak memiliki blog di dunia maya, itu ibarat orang yang tidak memiliki muka di dunia nyata.” Kalimat penutup saya, sebagai moderator, mengakhiri sesi penyampaian materi ketiga TWC 3 hari pertama.   

Sunday, September 8, 2013

Skripsi Saya

Penerapan E-learning dalam Sistem Pendidikan Jarak Jauh pada Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Tutorial Online di Universitas Terbuka).

Kata Kunci: E-learning, Sistem Pendidikan Jarak Jauh, Tutorial Online


Memasuki abad ke-21 terjadi banyak perkembangan dalam dunia pendidikan. Pada abad dimana manusia sudah mulai semakin akrab dengan teknologi ini, hadir sebuah paradigma baru dalam proses pembelajaran. Kini sebuah proses pembelajaran bisa dilakukan secara jarak jauh, tanpa harus dengan tatap muka di suatu ruang dan waktu yang sama, sebagaimana terjadi dalam proses pembelajaran sebelumnya. Teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology) atau biasa disingkat ICT juga telah membawa efek perubahan yang nyata dalam proses pembelajaran. Salah satu bentuk pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi adalah tutorial online.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan e-learning dalam sistem pendidikan jarak jauh pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam dengan studi kasus tutorial online di Universitas Terbuka. Penerapan yang dimaksud mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dari hasil evaluasi, serta kendala dan bagaimana mengatasi kendala dalam penerapannya.

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus. Teknik pengumpalan data dilakukan dengan studi dokumenter, observasi, dan wawancara. Paradigmatik wawancara yang digunakan adalah wawancara semi-terstruktur. Paradigmatik semi-terstruktur ini digunakan dengan pertimbangan inilah paradigmatik wawancara yang lebih fleksibel dari pada paradigmatik wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.


Perencanaan tutorial online pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Terbuka dilakukan dengan membuat Rancangan Aktivitas Tutorial (RAT), Satuan Aktivitas Tutorial (SAT), dan menyusun seluruh materi untuk 8 inisiasi. Pelaksanaan tutorial online dilaksanakan dalam 8 inisiasi. Satu inisiasi berjalan selama satu minggu. Setiap inisiasi terdapat materi inisiasi dan diskusi. Pada inisiasi ke-3, 5, dan 7, terdapat tugas yang harus dikerjakan mahasiswa. Evaluasi formatif dinilai dari keaktifan mengikuti diskusi dan mengerjakan tugas, sedangkan evaluasi sumatif adalah penggabungan nilai diskusi dengan tugas. Dalam penerapan tutorial online terdapat beberapa kendala diantaranya, keterbatasan akses, mahasiswa kurang aktif, tutor kurang aktif, kelas yang terlalu banyak, dan keamanan jaringan.

Teman-teman, tulisan ini merupakan abstraksi skripsi saya. Skripsi yang saya kerjakan dalam enam bulan dengan sangat serius. Maksud hati, saya menargetkan skripsi saya untuk bisa menjadi buku saya yang ketiga. Namun karena beberapa hal, saya mengurungkan terget itu. Nah, dari pada tidak ada yang membacanya, saya akan memposting sedikit demi sedikit hal-hal yang menarik dan penting dari skripsi saya di blog ini dalam kategori 'Teknologi - Pendidikan'. Ini adalah postingan pertama kategori 'Teknologi - Pendidikan'.

Selain memposting hal menarik dan penting dari skripsi saya. Kategori Teknologi Pendidikan juga akan saya isi dengan tulisan-tulisan mengenai tema tersebut. Sebenarnya ini saya lakukan sekadar sebagai catatan dari perkuliahan saya di Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), jurusan Teknologi Pendidikan. Semoga bermanfaat! 

Wednesday, July 24, 2013

Upaya Masuk Mencurigakan di Google

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba sign in google di Android saya eror. Saya mencoba masuk dengan sandi seperti biasa, tetap tidak bisa, masih selalu eror. Lumayan mengejutkan! Waktu itu saya pikir ini hanya masalah sinyal yang kurang baik. Maka saya tidak terlalu menganggapnya serius.
Siang harinya, ketika saya mengecek email melalui browser di Android, ada sebuah email dari Tim Akun Google. Kali ini benar-benar mengejutkan! Ini emai dari google yang saya maksud.
…………………………
Hai Imam,
Baru-baru ini ada seseorang mencoba menggunakan aplikasi untuk masuk ke Akun Google Anda – imamfrkusumaningati@gmail.com.
Kami mencegah upaya masuk jika saja upaya tersebut dilakukan pembajak yang mencoba mengakses akun Anda. Tinjau detail upaya masuk tersebut:
Rabu, 2013 Juli 17 19:22:33
Alamat IP: 189.251.250.69
Lokasi: Veracruz, Mexico

Jika Anda tidak mengenali upaya masuk ini, mungkin ada orang lain yang mencoba mengakses akun Anda. Sebaiknya segera masuk dan ubah sandi Anda.
Jika sebelumnya itu adalah Anda, dan sekarang Anda mengalami masalah saat mengakses akun, selesaikan langkah pemecahan masalah yang tercantum di http://support.google.com/mail?p=client_login 
Hormat kami,
Tim Akun Google
…………………………
Segera saya ganti sandi email. Semoga dengan sandi yang baru, akun email saya lebih aman. Tidak tahu kenapa, dengan kejadian ini bukannya saya merasa keamanan akun Google saya terancam, namun justru saya selalu bepikir kalau hal ini aneh, kenapa bisa sampai ada yang seiseng ini, ya?! Siapa saya?! Dari Mexico lagi pelakunya!

Nah, apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama?

Monday, July 22, 2013

Mencoba Adu Nyali ala Jusuf Kalla

Jusuf Kalla, wakil presiden era SBY periode pertama, mengejutkan saya minggu malam (7/7/13) kemarin. Seperti biasa saya selalu memantau perkembangan berita terbaru dari ponsel pintar yang selalu menemani. Salah satu berita Republika Online malam itu, memaparkan kebiasaan baru Jusuf Kalla belakangan ini.
Hampir sebulan terakhir ini Jusuf Kalla mencoba kebiasan baru, berusaha melepas diri dari ketergantungan terhadap ponsel. "Saya coba adu nyali dengan hp" kata pria yang akrab disapa JK ini. JK selama ini memperhatikan pada setiap acara orang tetap sibuk membaca dan mengirim pesan singkat sehingga tak fokus mengikuti agenda, apakah itu rapat, ceramah umum atau diskusi. "Orang-orang tetap saja sibuk memainkan hp, selain tidak fokus kesannya tidak serius mengikuti acara," ujarnya. Demikian saya kutip dari Republika Online.
Kebetulan sekali, belum lama postingan saya di blog membahas tentang sikap terhadap ponsel pintar, berjudul Menggunakan Ponsel Pintar dengan Pintar. Menceritakan bahwa tidak pintar menggunakan ponsel pintar, membuat kita dikendalikan oleh teknologi, bukannya kita yang mengendalikan teknologi. Maka saya sangat tertarik untuk mengulas berita adu nyali ala Jusuf Kalla ini.
Jaman dulu orang tanpa handphone biasa saja. Namun sekarang, mungkin karena sudah ketergantungan, tiada handphone ibarat dunia telah berakhir. Apalagi seringkali handphone membuat kita menjadi autis, asyik sendiri, tanpa peduli lingkungan sekitar.
Handphone apalagi smartphone atau ponsel pintar yang selalu terkoneksi dengan internet, memang mengasyikkan. Mendekatkan yang jauh dan memudahkan segala urusan. Meski demikian, sebaiknya kemudian jangan sampai justru menjauhkan yang dekat, atau mengganggu kegiatan sehari-hari dalam dunia nyata.
Nah, menarik sekali sepertinya mencoba adu nyali ala Jusuf Kalla, siapa berani?

Tuesday, July 9, 2013

Menggunakan Ponsel Pintar dengan Pintar

Seorang teman menemani saya mengobrol sampai jam dua pagi, Jum’at, 21 Juni 2013 lalu. Saya mengobrol mulai pukul setengah sepuluh malam. Malam itu sengaja saya mendatangi rumahnya. Ini bukan yang pertama kali. Bahkan saya pernah mengobrol hingga adzan subuh berkumandang.
Teras rumahnya terasa sangat nyaman sekali. Secangkir teh tubruk panas dengan ramuan khasnya yang memiliki citarasa berbeda, menjadi sajian wajib. Obrolan berjalan hangat, sehangat teh yang tersaji. Hingga menjelang pagi, saya baru tersadar, "Mas, kayaknya kalau kita lagi ngobrol, sampeyan gak pernah pegang handphone, ya?"
Dia tidak langsung menjawab. Sambil tersenyum manis, baru dia menjawab, "orang dulu gak ada HP juga gak mati, Mas!" Hening sejenak, saya terpukul dengan jawabannya. "Kalau ada yang dekat, kenapa harus melayani yang jauh, yang jauh, kan, bisa setelah ini. Kalau sedang ngobrol begini, melayani yang lain, itu bikin ’frekwensi’ obrolan rusak. Saya ngobrol, terus ada orang lewat, saya menanggapi yang lewat, itu saja sudah merusak suasana obrolan." Dia melanjutkan jawabannya panjang lebar.
Saya lalu teringat bagaimana keseharian yang saya lakukan dengan teman-teman sebaya. Beberapa kali kita pernah berkumpul, namun masing-masing asyik dengan ponsel pintarnya (smartphone) sendiri-sendiri. Saya lalu juga berpikir, bagaimana rasanya di hati, misalkan saya bertamu ke tempat seseorang, namun orang tersebut justru asyik dengan ponsel pintarnya?
Senja di hari Sabtu, 29 Juni 2013 kemarin, saya mengobrolkan hal ini dengan teman saya yang lain. Katanya, "memang begitu, misalkan dalam teater, itu bisa disebut dengan ’memutus emosi’, merusak emosi berlatih atau bermain teater, apabila bermain ponsel pintarnya, atau melakukan hal lain.
Menggunakan ponsel pintar sepertinya memang harus dengan pintar juga. Kalah pintar dengan ponsel pintar, membuat penggunanya dikendalikan oleh teknologi, bukannya dia yang mengendalikan teknologi. Seperti itu bukan, sih?