Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa

akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa...

Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner

Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman...

Resensi Buku "Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!" oleh Omjay

Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati...

Ini Soal YouTube, Lebih Dari Sekadar Untuk Narsis

Setelah Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Briptu Norman Kamaru yang belakangan menjadi ngetop...

Citizen Journalism dan Metamorfosis Media

Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan...

Tuesday, January 28, 2014

Agus Sampurno Menulis di Blog dengan Bloom Taxonomy

Semua orang bisa ngeblog. Perkembangan jaringan internet saat ini sangat memudahkan orang untuk bisa ngeblog di mana saja dan kapan saja. Selanjutnya yang perlu diperhatikan yaitu bagaimana membuat konten blog yang menarik. Membuat konten yang bisa menarik banyak pembaca memerlukan kemampuan tersendiri.


Agus Sampurno yang dikenal sebagai guru kreatif karena blog pribadinya menggunakan nama domain www.gurukreatif.wordpress.com, menggunakan konsep bloom taxonomy untuk membuat konten-konten menarik di blognya. Hal ini sangat bagus dan baru pertama kali ini saya mendengarnya. Meskipun kalau bloom taxonomy sudah tidak asing lagi, bagi saya, sebagi mantan mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kependidikan, Universitas Islam Negeri (UIN), Jakarta.

Bloom taxonomy atau biasa diindonesiakan dengan taxonomi bloom merupakan tingkatan berpikir yang terdiri dari; 1) mengingat; 2) memahami; 3) menerapkan; 4) menganalisa; 5) mengevaluasi; dan 6) menciptakan. Nomer 1, 2, dan 3 adalah kategori tingkat berpikir rendah, sedangkan nomer 4, 5, dan 6 kategori tingkat berpikir tinggi.

Bagaimana Agus Sampurno menggunakan taxonomi bloom ini untuk membuat konten-konten menarik di blognya? Yaitu dengan membuat konten blog yang mengandung kategori tingkat berpikir tinggi; menganalisa, mengevaluasi, dan menciptakan. Alasan sederhananya bahwa ketiga hal tersebut tidak ada di buku. Sedangkan pasti banyak orang yang mencari dan membutuhkan sebuah analisa, evaluasi, dan ciptaan sesuatu yang baru.

Selain itu, konten blog yang berisi kategori tingkat berpikir rendah; mengingat, memahami, dan menerapkan, sudah sangat banyak. Apabila konten blog kita hanya berisi mengingat, memahami, dan menerapkan, apa bedanya blog kita dengan blog orang lain? Sehingga mengisi blog dengan konten tingkat berpikir tinggi menjadi celah, yang berarti sebuah kesempatan, untuk memancing banyak pengunjung dan pembaca berdatangan berkunjung membaca blog kita.

Agus Sampurno menyampaikan rahasianya dalam membuat konten blog ini, pada acara Teacher Writing Camp 3, yang mengangkat tema “Menulis dan Ngeblog,” dilaksanakan pada Minggu, 29 Desember 2013, di Wisma Universitas Negeri Jakarta. Teacher Writing Camp atau biasa disingkat TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional, diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi.

Tuesday, January 21, 2014

Pameran Fotografi Kota

PAMERAN FOTOGRAFI / PHOTOGRAPHY EXHIBITION
KOTA / THE CITY 

TENTANG KEBANGKITAN DAN KERUNTUHAN / BECOMING AND DECAYING

 
PAMERAN / EXHIBITION
24 Januari – 07 Februari 2014
Senin – Minggu / Monday - Sunday, 10.00 – 20.00 WIB
Hari libur nasional tutup / Closed on national holidays

PEMBUKAAN / OPENING
Kamis / Thursday, 23 Januari 2014
19.00 WIB

DISKUSI / DISCUSSION
Sabtu / Saturday, 01 Februari 2014
14.00 WIB
(bersama/with Fanny Oktavianus, Jörg Brüggemann, Marco Kusumawijaya, Oscar Motuloh)
Galeri Nasional Indonesia
Gedung A & C
Jl. Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta 10110

Kota adalah awal dari peradaban, peleburan kebudayaan, mental, agama dan ide. Guna mencari kehidupan yang lebih baik, mencari keamanan, kebebasan dan kesejahteraan, ratusan ribu orang setiap harinya di seluruh dunia pindah dari desa ke kota. Disamping kesempatan yang lebih besar, kota juga menyembunyikan banyak bahaya: kemiskinan, kriminalitas serta anonimitas dan belakangan ini ketimpangan sosial yang besar menjadi ciri khas banyak kota metropolitan. 

Bagaimana kehidupan di Tokyo dan Manila, Lagos dan Las Vegas, Berlin, Minsk dan Gaza? Kedelapan belas fotografer yang bernaung di bawah agensi Ostkreuz melakukan penjelajahan untuk mencari intisari realitas perkotaan masa kini. Dari 22 kota diseluruh dunia mereka memadatkan kesan-kesan pribadi mereka menjadi esai fotografi – sebuah proyek jangka panjang yang unik. 

OSTKREUZ merupakan agensi foto yang penting di Jerman. Dengan mencontoh MAGNUM, agensi ini didirikan di Berlin Timur di akhir masa Jerman Timur. Untuk memperingati 20 tahun OSTKREUZ, para anggotanya mengkonsep pameran „KOTA. Tentang Kebangkitan dan Keruntuhan“, yang sejak 2010 dipamerkan di banyak negara. Dari tanggal 24 Januari – 7 Februari sebanyak lebih dari 150 foto dapat kita nikmati di Galeri Nasional.

---

The city is the origin of civilization, melting pot of cultures, mentalities, religions and ideas. Each day hundred thousands of people around the world are moving from the countryside to the city, searching for a better life, security, freedom and prosperity. But despite great chances, the city also offers great risks for each individual: poverty, criminality and anonymity as well as blatant contrasts shape many megacities today. 

How are people living in Tokyo and Manila, Lagos and Las Vegas, Berlin, Minsk and Gaza? 18 photographers of the German agency OSTKREUZ embarked on a journey to explore urban realities of today. With material of overall 22 cities around the globe, they have concentrated their personal impressions into photographic essays – a unique long-term project.

OSTKREUZ is the most renowned German photo agency. It was founded after the end of the GDR in East Berlin following the example of Magnum. In celebration of its 20-year-anniversary OSTKREUZ members conceptualized and realized the exhibition “The City. Becoming and Decaying”, which is on an international tour since 2010. The exhibition is presented in Jakarta at Galeri Nasional from 24th of January until 7th of February with more than 150 photographs.

INFORMASI / INFORMATION
@GI_Indonesien 

---

Informasi ini saya dapat melalui email dari Maya dalam bentuk undangan. Terimakasih Maya. Melalui blog ini semoga informasi ini bisa tersebarluaskan.

Monday, January 13, 2014

Dedi Dwitagama: Mau Jadi Ikan Sapu-sapu atau Arwana?

Mau jadi Mau jadi ikan Sapu-sapu atau Arwana? Sapu-sapu kalau di aquarium mainnya di mana? Kalau Arwana di aquarium mainnya di mana? Coba pikirkan! 

“Jadi, mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?” Dedi Dwitagama dengan gaya santai namun serius menanyakan berulang-ulang kepada para guru peserta Teacher Writing Camp 3, Minggu, 29 Desember 2013, di Wisma Universitas Negeri Jakarta. Teacher Writing Camp atau biasa disingkat TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional, diselenggarakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi.


Saya menyimak apa yang disampaikan Dedi dari ujung barisan bangku paling belakang. Pada TWC ini, saya bukan peserta, panitia juga bukan. Lebih tepatnya mungkin saya di sini hanya bermain yang sesekali menjadi moderator di salah satu sesi penyampaian materi TWC.

Sekali lagi, “mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?”, Dedi Dwitagama menegaskan, kemudian menjelaskan bahwa ikan Sapu-sapu itu kalau di aquarium mainnya di bawah, kerjaannya membersihkan kotoran, dan sekalipun ke atas dia menempel di pinggi-pinggir kaca aquarium. Sedangkan Arwana mainnya di atas, di tengah, kadang juga di bawah, namun sering kali di atas, dan dia bisa bergerak ke seluruh bagian aquarium.

Sebagai manusia atau guru yang berkualitas, apabila diibaratkan dengan kedua jenis ikan tadi, kita harus menjadi Arwana; besar, enak dilihat, harganya mahal, bisa bergerak ke mana-mana. Sapu-sapu bukanlah ibarat manusia atau guru yang berkualitas; kecil, bentuknya jelek, sukanya di bawah atau disamping, harganya murah.
 
 

Sebagai guru yang akan menjadi Arwana caranya adalah dengan terus berlatih mengasah diri sendiri. Sisihkan waktu khusus untuk mengasah diri sendiri. Jangan habiskan waktu untuk bekerja habis-habisan untuk sekolah atau yayasan. Menghabiskan waktu sehabis-habisnya di sekolah atau yayasan tempat mengajar, yang menjadi besar kemudian adalah nama sekolah atau yayasan tersebut. Anda tetap kecil. Sekolah atau yayasan juga tidak akan mampu menghargai sepadan dengan apa yang sudah dilakukan, karena harus diakui ada keterbatasan dalam hal ini.

Bukan berarti tidak totalitas, yang harus dilakukan adalah menyisihkan waktu untuk mengasah diri sendiri. Membuat prestasi pada diri sendiri, kerjakan hobi, publikasikan, dan berjejaring. Supaya bukan hanya sekolah atau yayasan yang namanya besar dan terkenal, namun nama diri sendiri juga bisa menjadi besar dan terkenal. Banyak sekali yang bisa dilakukan untuk menjadi besar dan terkenal yang salah satunya dengan menulis. Menulis adalah meninggalkan jejak, mengukir sejarah, setidaknya untuk diri sendiri.

Dedi Dwitagama mengakhiri penyampaian materinya dengan mengulangi lagi, “Jadi, mau jadi Sapu-sapu atau Arwana?”     

Thursday, January 9, 2014

Indonesia MDG Awards 2013: “Beraksi untuk Negeri!”

Natasha Karina Ardiana mengirim email ke saya, 3 Januari 2013. Saya sendiri belum kenal dengan Natasha. Entah dari mana juga dia mendapatkan alamat email saya. Mungkin waktu itu, Februari 2013 saya pernah mengikuti workshop kepemudaan selama 5 hari, diadakan oleh Pamflet bekerjasama dengan UNESCO di Wisma 678 Kemang. Sepertinya dari acara itu alamat email saya didapat. 


Email dari Natasha berisi tentang Indonesia MDG Awards 2013. Mengajak segenap rekan-rekan di Instansi Swasta, Pemerintah Kabupaten/ Kota, Organisasi Masyarakat Sipil, dan Organisasi Pemuda & Akademisi untuk turut serta berbagi praktek cerdas yang sudah dilakukan dengan menjadi peserta Indonesia MDG Awards 2013: “Beraksi untuk Negeri!”. Indonesia MDG Awards 2013 merupakan ajang apresiasi untuk berbagai program kreatif dan inovatif untuk mempercepat pencapaian pembangunan di Indonesia.
  
Kategori program yang akan diberikan penghargaan yaitu Nutrisi, Pendidikan, Kesehatan Ibu dan Anak, Akses Air Bersih & Sanitasi Layak, Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS & Penyakit Menular Lainnya. 

Periode pendaftaran mulai 20 Desember 2013 – 16 Februari 2014. Pendaftaran dapat dilakukan online di www.awards.indonesiamdgs.org. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Secretariat Indonesia MDG Awards 2013 atas nama Gina Ginarti atau Annisa Firdausy, Jl. Teuku Umar No. 10, Jakarta 10350, Indonesia. Telepon: +622131901268, Fax : +622131900502, Facebook : Indonesia MDG Awards 2013
Twitter: @MDGAwards. 

Terimakasih Natasha kiriman emailnya. Di akhir email Natasha, ada pesan singkat begini; “Silakan disebarluaskan lebih jauh ke jaringan Bapak/Ibu dan teman-teman sekalian.” Semoga postingan ini bisa membantu menyebarluaskan informasi Indonesia MDG Awards 2013.

Monday, January 6, 2014

Menjadi Moderator Teacher Writing Camp 3 Hari Kedua

Hari kedua Teacher Writing Camp (TWC) 3, Omjay bilang, “nanti sesi kedua, kamu moderator, ya, Mam!”. Segera saya jawab, “siap Om”. Padahal saya belum tau materi apa yang akan disampaikan dan siapa narasumbernya. Malamnya, ketika menginap di Wisma Universitas Negeri Jakarta (UNJ), saya memang sudah persiapan mental untuk menjadi moderator lagi, itu saja, tanpa berpikir mau memoderatori materi apa dan dengan narasumber siapa.


Saya hanya bisa bilang “siap Om”, karena Omjay adalah penggagas dibalik konsep TWC  yang merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional ini. TWC 3 diikuti sekitar 45 guru dari berbagai daerah di Indonesia, diselenggarakan di Wisma Universitas Negeri Jakarta selama dua hari, sabtu dan minggu, 28 dan 29 Desember 2013.TWC 3 kali ini mengangkat tema “Menulis dan Nge-blog”. TWC diselenggarakan setiap 6 bulan sekali oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi. TWC 1 dan 2 sudah berlangsung dengan sukses setahun yang lalu.

Setelah saya menanyakan ke panitia, materi sesi kedua adalah menerbitkan buku sendiri, diisi oleh Bapak Alpiyanto dan Bapak Thamrin Sonata. Akhirnya waktunya tiba, saatnya masuk sesi kedua. Bapak Alpiyanto menyampaikan bahwa buku yang sukses untuk dapat diterbitkan sendiri adalah buku yang mengandung unsur memberi solusi, inspirasi, dan motivasi. Sedangkan Bapak Thamrin Sonata lebih menekankan bahwa menulis buku sekarang bisa dimulai dari ngeblog, kemudian nanti bisa dijadikan buku, ngeblog merupakan bagian dari menabung naskah buku.


Menerbitkan buku sekarang sungguh sangat mudah dengan teknologi digital printing. Terdapat fasilitas print on demand (PoD), yaitu kita bisa mengeprint atau mencetak buku sesuai permintaan tanpa batal minimal cetak. Seperti definisi dari Wikipedia; print on demand (PoD) is a printing technology and business process in which new copies of a book (or other document) are not printed until an order has been received, which means books can be printed one at a time. 

Menjadi moderator TWC dalam dua sesi, di hari pertama dan kedua, memberi saya banyak pengalaman. Biasanya saya menjadi narasumber, namun kali ini justru menjadi moderator. Sedikit berbeda, menjadi seorang moderator harus memiliki kemampuan mengatur berjalannya seminar, mulai dari pembuka, penyampaian materi, tanya jawab, dan penutup. Terimakasih untuk Omjay dan Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang bekasi sudah mempercayai saya menjadi moderator di TWC 3.

Thursday, January 2, 2014

Menjadi Moderator Teacher Writing Camp 3

Ketika ada seorang guru mengajar, namun muridnya cenderung tidak perhatian, mengantuk, bahkan ada yang tertidur, siapakah yang harus dibangunkan? Jawabannya, yang harus dibangunkan adalah gurunya.


Pepatah Tionghoa kuno itu saya gunakan sebagai kata pembuka ketika saya menjadi moderator Teacher Writing Camp 3 atau TWC 3 di hari pertama, sabtu, 28 Desember 2013. Saya membawakan penyampaian materi sesi ketiga, di siang bolong, kurang lebih pukul setengah dua, dan setelah makan siang. Bayangkan? Bagi saya ini sesi yang amat sangat rawan. Beruntunglah, pepatah tionghoa kuna tadi lumayan bisa membangkitkan suasana.

TWC merupakan pelatihan guru menulis tingkat nasional. TWC 3 mengangkat tema “Menulis dan Nge-blog”. TWC 3 diikuti sekitar 45 guru dari berbagai daerah di Indonesia, diselenggarakan di Wisma Universitas Negeri Jakarta selama dua hari, sabtu dan minggu, 28 dan 29 Desember 2013. TWC diselenggarakan setiap 6 bulan sekali oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) cabang Bekasi. TWC 1 dan 2 sudah berlangsung dengan sukses setahun yang lalu. Penggas dibalik konsep TWC adalah seorang guru dan juga blogger bernama Wijaya Kusumah atau sering dipanggil Omjay.

Sesi ketiga di hari pertama TWC, diisi dengan materi bagaimana mengirimkan tulisan di media online dan cetak. Tepat di sebelah kana saya, sudah ada orang yang sudah tidak asing lagi bagi saya. Pertemuan terakhir saya dengannya sekitar empat bulan yang lalu, saya diinterview olehnya sebagai kandidat calon Moderator Kompasiana. Orang yang saya maksud adalah Iskandar Zulkarnaen; editor Kompasiana, blogger, penulis, dan juga seorang ayah yang baik, sudah siap untuk menyampaikan materinya.


Meski di siang bolong, IskandarZulkarnaen atau biasa dipanggil Isjet menyampaikan materi dengan penuh semangat, disambut sebaliknya dari Bapak dan Ibu guru peserta TWC menyimak dengan penuh antusias. “Mengirimkan tulisan ke media cetak maupun online, sebelumnya harus tahu karakteristik media tersebut, namun yang lebih mudah adalah Bapak dan Ibu guru sekalian bisa mempublikasikan tulisan di blog masing-masing,” sepotong kalimat Mas Isjet dalam penyampaian materinya.

Setelah penyampaian materi, saatnya masuk pada sesi tanya jawab. Banyak sekali peserta yang ingin bertanya, namun karena keterbatasan waktu hanya enam penanya yang bisa mengajukan pertanyaan. Ada satu pertanyaan yang menggelitik, “di Kompasiana sering kali ada ajang kompetisi kepenulisan, kenapa bisa begitu?”, tanya salah satu peserta. “dulu, perusahaan atau instansi mengundang wartawan untuk konferensi pers bermaksud mensosialisasi produk atau programnya, namun sekarang keadaan sudah berubah, perusahaan dan instansi tersebut melakukan jemput bola, mengundang keterlibatan warga”, jawab Mas Isjet.

Satu hal yang kemudian tertangkap di benak saya, warga atau warga dunia maya khususnya, lebih khusus lagi adalah blogger, sepertinya semakin diperhitungkan peranannya. Ini merupakan kabar gembira. Hingga akhirnya, diakhir acara saya menanyakan kepada Bapak dan Ibu guru peserta TWC, apakah masing-masing dari mereka sudah memiliki blog. “Karena orang yang tidak memiliki blog di dunia maya, itu ibarat orang yang tidak memiliki muka di dunia nyata.” Kalimat penutup saya, sebagai moderator, mengakhiri sesi penyampaian materi ketiga TWC 3 hari pertama.