Terpaksa nostalgila, maaf maksud Saya nostalgia dengan kenangan
tiga tahun lalu harus Saya lakukan terlebih dahulu, demi merangkai kata hingga
menjadi paragraf demi paragraf tersusun dalam tulisan ini. Alkisah waktu itu Saya
masih “ingusan”, katrok, dan medhok jika mengucapkan bahasa indonesia
dengan logat anak jakarta kekinian. Semakin berusaha untuk fasih, justru
semakin terlihat medhok. Beginilah
masa adaptasi pemuda desa perantau Ibu Kota. Jauh dari pelosok desa di Klaten
sana bermaksud ke Jakarta demi sesuap ilmu, ketika biasanya yang lain merantau
demi sesuap nasi.
Sebelum lebih jauh membaca, beribu maaf mungkin saja pantas
untuk dikata, karena tulisan ini bisa jadi terlalu personal. Ada baiknya jika
teman-teman tidak terlau suka membaca tulisan personal, boleh silakan segera
beralih ke postingan yang lain. Namun bukankah sekarang sedang membaca blog
yang sejatinya lebih menonjolkan unsur personal dalam penulisannya. Semakin
personal semakin menjadi sejatinya sebuah blog. Dan tentu personal yang
dimaksud bukanlah personal yang sekadar berisi curahan hati belaka.
 |
| www.akumassa.org |
Menyambung kisah. Selama kurang lebih satu bulan sebuah
komunitas yang masih berusia bayi langsung diajak berlari kencang dengan workshop
akumassa. Herannya komunitas yang masih berusia bayi itu justru riang gembira ketika
diajak berlari kenjang. Ibarat seorang bayi betulan inilah bayi ajaib. Langsung
berlari kencang tanpa tengkurap, merangkak, dan berlatih berjalan terlebih
dahulu. Bisa jadi mungkin Saya dan teman-teman Komunitas Djuanda, komunitas dimana
Saya berkomunitas, adalah juga anak-anak ajaib.
Dulu rasanya begitu mengerikan untuk bersosialisasi
dengan orang lain, misalkan dengan satpam, polisi, pedagang, supir angkot,
karyawan, preman, tukang ojek, dan lainnya. Mereka seperti sosok lain, dan Saya
juga menjadi sosok lain bagi mereka. Sehingga rasanya sangat susah untuk bersosialisasi
melebur bersama mereka. Padahal mereka dan Saya bukanlah orang lain, melainkan
adalah bagian dari kita. Mereka adalah bagian dari Saya, dan Saya bagian dari
mereka. Maka jadilah kita sebagai massa. Maka belakangan rasa mengerikan itu
sudah tidak ada lagi.
akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan
massa. Aku menjadi bagain dari massa, dan massa sejatinya adalah bagian yang
tersusun dari aku-aku yang lain. Akumassa membuat Saya menjadi tidak hanya bisa,
namun juga lihai dan luwes bersosialisasi dengan massa. Dengan pemahaman
mendasar tadi sebagai modal utamanya, yaitu bahwa sesungguhnya tidak ada orang
lain. Mereka
menjadi orang lain itu hanya karena terlabeli secara artifisial. Mereka memang terlabeli polisi, satpam, pedagang,
pejabat, karyawan, guru, dosen, bahkan presiden sekalipun. Tetapi hakikatnya mereka
juga manusia biasa yang hanya karena terlabeli manjadi manusia yang lain.
 |
| Suasana workshop akumassa |
Akumassa sendiri kalau biasa didefinisikan adalah program
pemberdayaan masyarakat melalui komunitas setempat menggunakan medium video,
suara, dan teks, diselenggarakan oleh Forum Lenteng, Jakarta. Jika boleh Saya
memaknainya lebih dalam akumassa adalah pengejawentahan bagaimana sejatinya mengenal
massa. Video, suara, dan teks sebagai medium untuk bercumbu dengan massa.
Jangan bersedih bagi teman-teman yang belum berkesempatan
mengikuti workshop akumassa. Semua perihal tentang massa bisa mulai teman-teman
kenali melalui akumassa.org, media untuk mempublikasikan tulisan-tulisan
tentang massa.
Melalui akumassa sekaligus Saya mulai mengenal konsep Jurnalisme
Warga. Meski tidak disebut dengan jelas ketika workshop akumassa berlangsung.
Belakangan Saya terhenyak baru menyadari bahwa apa yang dilakukan di akumassa
sangat erat dengan Jurnalisme Warga. Para partisipan workshop
yang statusnya sebagai warga biasa diberdayakan untuk aktif bermedia. Jurnalisme
Warga di akumassa dipraktekkan para partisipan akumassa dengan menulis narasi-narasi
kecil yang berangkat dari kehidupan sehari-hari warga, kemudian dipubliksikan
di akumassa.org sebagai jurnal tentang aku dan orang-orang sekitar.
Akumassa
merupakan program yang berjejaring antara satu komunitas dengan komunitas yang
lain. Sudah ada sepuluh jaringan akumassa tersebar di pelbagai daerah di
Indonesia, seperti Depok, Tangerang Selatan, Lebak Banten, Cirebon, Blora,
Surabaya, Lombok, dan Padang Panjang. Setelah sekian lama berjejaring di jaringan
akumassa, banyak ilmu dan hal lain yang Saya dapat. Memang tidak ada ruginya berjejaring dan berkenalan
dengan banyak orang dari pelbagai kalangan dan latar belakang. Apakah ini yang
dimaksud dengan silaturahmi, yang katanya bisa membawa banyak manfaat.
0 comments:
Post a Comment