Thursday, July 5, 2012

Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa

Terpaksa nostalgila, maaf maksud Saya nostalgia dengan kenangan tiga tahun lalu harus Saya lakukan terlebih dahulu, demi merangkai kata hingga menjadi paragraf demi paragraf tersusun dalam tulisan ini. Alkisah waktu itu Saya masih “ingusan”, katrok, dan medhok jika mengucapkan bahasa indonesia dengan logat anak jakarta kekinian. Semakin berusaha untuk fasih, justru semakin terlihat medhok. Beginilah masa adaptasi pemuda desa perantau Ibu Kota. Jauh dari pelosok desa di Klaten sana bermaksud ke Jakarta demi sesuap ilmu, ketika biasanya yang lain merantau demi sesuap nasi.


Sebelum lebih jauh membaca, beribu maaf mungkin saja pantas untuk dikata, karena tulisan ini bisa jadi terlalu personal. Ada baiknya jika teman-teman tidak terlau suka membaca tulisan personal, boleh silakan segera beralih ke postingan yang lain. Namun bukankah sekarang sedang membaca blog yang sejatinya lebih menonjolkan unsur personal dalam penulisannya. Semakin personal semakin menjadi sejatinya sebuah blog. Dan tentu personal yang dimaksud bukanlah personal yang sekadar berisi curahan hati belaka.

www.akumassa.org

Menyambung kisah. Selama kurang lebih satu bulan sebuah komunitas yang masih berusia bayi langsung diajak berlari kencang dengan workshop akumassa. Herannya komunitas yang masih berusia bayi itu justru riang gembira ketika diajak berlari kenjang. Ibarat seorang bayi betulan inilah bayi ajaib. Langsung berlari kencang tanpa tengkurap, merangkak, dan berlatih berjalan terlebih dahulu. Bisa jadi mungkin Saya dan teman-teman Komunitas Djuanda, komunitas dimana Saya berkomunitas, adalah juga anak-anak ajaib.

Dulu rasanya begitu mengerikan untuk bersosialisasi dengan orang lain, misalkan dengan satpam, polisi, pedagang, supir angkot, karyawan, preman, tukang ojek, dan lainnya. Mereka seperti sosok lain, dan Saya juga menjadi sosok lain bagi mereka. Sehingga rasanya sangat susah untuk bersosialisasi melebur bersama mereka. Padahal mereka dan Saya bukanlah orang lain, melainkan adalah bagian dari kita. Mereka adalah bagian dari Saya, dan Saya bagian dari mereka. Maka jadilah kita sebagai massa. Maka belakangan rasa mengerikan itu sudah tidak ada lagi.

akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa. Aku menjadi bagain dari massa, dan massa sejatinya adalah bagian yang tersusun dari aku-aku yang lain. Akumassa membuat Saya menjadi tidak hanya bisa, namun juga lihai dan luwes bersosialisasi dengan massa. Dengan pemahaman mendasar tadi sebagai modal utamanya, yaitu bahwa sesungguhnya tidak ada orang lain. Mereka menjadi orang lain itu hanya karena terlabeli secara artifisial. Mereka memang terlabeli polisi, satpam, pedagang, pejabat, karyawan, guru, dosen, bahkan presiden sekalipun. Tetapi hakikatnya mereka juga manusia biasa yang hanya karena terlabeli manjadi manusia yang lain.

Suasana workshop akumassa

Akumassa sendiri kalau biasa didefinisikan adalah program pemberdayaan masyarakat melalui komunitas setempat menggunakan medium video, suara, dan teks, diselenggarakan oleh Forum Lenteng, Jakarta. Jika boleh Saya memaknainya lebih dalam akumassa adalah pengejawentahan bagaimana sejatinya mengenal massa. Video, suara, dan teks sebagai medium untuk bercumbu dengan massa.

Jangan bersedih bagi teman-teman yang belum berkesempatan mengikuti workshop akumassa. Semua perihal tentang massa bisa mulai teman-teman kenali melalui akumassa.org, media untuk mempublikasikan tulisan-tulisan tentang massa.

Melalui akumassa sekaligus Saya mulai mengenal konsep Jurnalisme Warga. Meski tidak disebut dengan jelas ketika workshop akumassa berlangsung. Belakangan Saya terhenyak baru menyadari bahwa apa yang dilakukan di akumassa sangat erat dengan Jurnalisme Warga. Para partisipan workshop yang statusnya sebagai warga biasa diberdayakan untuk aktif bermedia. Jurnalisme Warga di akumassa dipraktekkan para partisipan akumassa dengan menulis narasi-narasi kecil yang berangkat dari kehidupan sehari-hari warga, kemudian dipubliksikan di akumassa.org sebagai jurnal tentang aku dan orang-orang sekitar.

Akumassa merupakan program yang berjejaring antara satu komunitas dengan komunitas yang lain. Sudah ada sepuluh jaringan akumassa tersebar di pelbagai daerah di Indonesia, seperti Depok, Tangerang Selatan, Lebak Banten, Cirebon, Blora, Surabaya, Lombok, dan Padang Panjang. Setelah sekian lama berjejaring di jaringan akumassa, banyak ilmu dan hal lain yang Saya dapat. Memang tidak ada ruginya berjejaring dan berkenalan dengan banyak orang dari pelbagai kalangan dan latar belakang. Apakah ini yang dimaksud dengan silaturahmi, yang katanya bisa membawa banyak manfaat.

0 comments:

Post a Comment