Saturday, August 11, 2012

Antara Jurnalis Warga dan Jurnalis Profesional

Jurnalis? Apa yang terbayang di pikiran dan apa yang menancap dalam benak ketika mendengarnya. Prestisius, bergengsi, hebat, pintar, cerdas, sedikit menakutkan, mungkin begitu.

Namun misalkan kata Jurnalis itu dibelakangnya dibubuhi dengan satu kata lagi, yaitu kata warga. Sehingga jika digabung menjadi “Jurnalis Warga”. Sekarang apa yang terbayang di pikiran dan apa yang menancap dalam benak ketika mendengarnya? Pikiran dan benak kita pasti memiliki jawaban masing-masing. Silahkan dishare bayangan dan tancapan apa yang anda alami dikolom komentar.

Sumber foto: http://alul-cholil.blogspot.com/2012/05/citizen-journalist-enam-sifat-yang.html

Mengisi kolom komentar, tanpa anda sadari sebenarnya anda sudah menjadi apa yang disebut jurnalis warga itu. Karena kolom komentar itu merupakan salah satu dari bentuk jurnalisme warga (Citizen Journalism). Steve Outing, seorang editor senior The Poynter Institute for Media Studies dalam tulisannya berjudul The 11 Layers of Citizen Journalism yang diterbitkan pada tahun 2005, menjelaskan bahwa salah satu dari bentuk jurnalisme warga adalah situs yang membuka komentar untuk berita yang ditulis oleh jurnalis professional - Opening Up to Public Comment.

Baik, kedengarannya memang sedikit tabu untuk saat ini. Seolah sebuah profesi berlabel “jurnalis” yang dianggap sakral itu menjadi begitu mudah. Padahal, secara nyata memperoleh label profesi “jurnalis” itu perlu menempuh pendidikan dengan perjuangan dan pengorbanan yang panjang.

Yah, memang begitu untuk label “jurnalis profesional” – sulit dan tidak mudah, namun tidak halnya untuk “jurnalis warga”. Karena jurnalis warga dalam konsep jurnalisme warga dasarnya adalah berbagi. Berbagi apa yang diketahui atas sebuah informasi. Tentu informasi yang dimaksud bukanlah sekadar curahan hati belaka, melainkan informasi yang penting untuk diketahui oleh publik. Makanya menjadi jurnalis warga itu mudah dan bisa dilakukan oleh setiap warga, oleh siapa saja.

Berbeda halnya oleh jurnalis profesional yang bekerja di maisntream media. Banyak standar yang harus ditaati dan dilaksanakan. Bahkan sebelum melakukan liputan, sudah ada memo dari redaktur seolah menjadi kartu pesanan untuk sebuah hasil liputan berita. Karena sebenarnya yang dilakukan oleh jurnalis profesional adalah sebuah penugasan.

Clyde H. Bentley guru besar madya Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS, menjelaskan perbedaan nyata antara jurnalis warga dan jurnalis profesional adalah seorang jurnalis warga menuliskan pandangannya atas suatu peristiwa karena didorong oleh keinginan untuk membagi apa yang dilihat dan diketahuinya. Sementara jurnalis profesional yang bekerja di media massa, melakukan liputan karena penugasan.

Dari pandangan itu, terlihat dengan jelas bahwa sebenarnya bentuk dasar peliputan yang dilakukan jurnalis warga adalah to share dan yang dilakukan jurnalis profesional adalah to cover. Antara jurnalis warga – to share dan jurnalis professional – to cover, dalam hal peliputan, bentuk inilah yang membedakan secara nyata, jelas, dan gamblang.

2 comments:

  1. Garis besarnya, yang membedakan jurnalis warga dan jurnalis profesional hanya terletak pada tugas kerja ya Mas?

    Artikel bermanfaat, Mas Imam. Menambah pengetahuan saya.

    Salam,
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Perbedaan paling menonjol dari sisi penugasannya mas. Sama2. Semoga bisa dibagikan kepada yang lain :)

      Delete