Jurnalis? Apa yang terbayang di pikiran dan apa yang
menancap dalam benak ketika mendengarnya. Prestisius, bergengsi, hebat, pintar,
cerdas, sedikit menakutkan, mungkin begitu.
Namun misalkan kata Jurnalis itu dibelakangnya dibubuhi
dengan satu kata lagi, yaitu kata warga. Sehingga jika digabung menjadi “Jurnalis
Warga”. Sekarang apa yang terbayang di pikiran dan apa yang menancap dalam
benak ketika mendengarnya? Pikiran dan benak kita pasti memiliki jawaban masing-masing.
Silahkan dishare bayangan dan tancapan apa yang anda alami dikolom komentar.
![]() |
| Sumber foto: http://alul-cholil.blogspot.com/2012/05/citizen-journalist-enam-sifat-yang.html |
Mengisi kolom komentar, tanpa anda sadari sebenarnya anda
sudah menjadi apa yang disebut jurnalis warga itu. Karena
kolom komentar itu merupakan salah satu dari bentuk jurnalisme warga (Citizen Journalism). Steve Outing, seorang editor senior
The Poynter Institute for Media Studies dalam tulisannya berjudul The 11
Layers of Citizen Journalism yang
diterbitkan pada tahun 2005, menjelaskan bahwa salah satu dari bentuk jurnalisme
warga adalah situs yang membuka komentar untuk berita yang ditulis oleh
jurnalis professional - Opening Up to Public Comment.
Baik, kedengarannya memang sedikit tabu untuk saat
ini. Seolah sebuah profesi berlabel “jurnalis” yang dianggap sakral itu menjadi
begitu mudah. Padahal, secara nyata memperoleh label profesi “jurnalis” itu perlu
menempuh pendidikan dengan perjuangan dan pengorbanan yang panjang.
Yah, memang begitu untuk label
“jurnalis profesional” – sulit dan tidak mudah, namun tidak halnya untuk
“jurnalis warga”. Karena jurnalis warga dalam konsep jurnalisme warga dasarnya
adalah berbagi. Berbagi apa yang diketahui atas sebuah informasi. Tentu
informasi yang dimaksud bukanlah sekadar curahan hati belaka, melainkan
informasi yang penting untuk diketahui oleh publik. Makanya menjadi jurnalis
warga itu mudah dan bisa dilakukan oleh setiap warga, oleh siapa saja.
Berbeda halnya oleh jurnalis
profesional yang bekerja di maisntream
media. Banyak standar yang harus ditaati dan dilaksanakan. Bahkan sebelum
melakukan liputan, sudah ada memo dari redaktur seolah menjadi kartu pesanan
untuk sebuah hasil liputan berita. Karena sebenarnya yang dilakukan oleh
jurnalis profesional adalah sebuah penugasan.
Clyde H. Bentley guru besar
madya Sekolah Tinggi Jurnalistik Missouri AS, menjelaskan perbedaan nyata
antara jurnalis warga dan jurnalis profesional adalah seorang jurnalis warga
menuliskan pandangannya atas suatu peristiwa karena didorong oleh keinginan
untuk membagi apa yang dilihat dan diketahuinya. Sementara jurnalis profesional
yang bekerja di media massa, melakukan liputan karena penugasan.
Dari pandangan itu, terlihat
dengan jelas bahwa sebenarnya bentuk dasar peliputan yang dilakukan jurnalis
warga adalah to share dan yang
dilakukan jurnalis profesional adalah to
cover. Antara jurnalis warga – to share dan jurnalis professional – to cover, dalam hal peliputan, bentuk inilah yang membedakan secara
nyata, jelas, dan gamblang.






Garis besarnya, yang membedakan jurnalis warga dan jurnalis profesional hanya terletak pada tugas kerja ya Mas?
ReplyDeleteArtikel bermanfaat, Mas Imam. Menambah pengetahuan saya.
Salam,
:)
Perbedaan paling menonjol dari sisi penugasannya mas. Sama2. Semoga bisa dibagikan kepada yang lain :)
Delete