Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa

akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa...

Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner

Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman...

Resensi Buku "Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!" oleh Omjay

Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati...

Ini Soal YouTube, Lebih Dari Sekadar Untuk Narsis

Setelah Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Briptu Norman Kamaru yang belakangan menjadi ngetop...

Citizen Journalism dan Metamorfosis Media

Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan...

Sunday, September 8, 2013

Skripsi Saya

Penerapan E-learning dalam Sistem Pendidikan Jarak Jauh pada Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam (Studi Kasus Tutorial Online di Universitas Terbuka).

Kata Kunci: E-learning, Sistem Pendidikan Jarak Jauh, Tutorial Online


Memasuki abad ke-21 terjadi banyak perkembangan dalam dunia pendidikan. Pada abad dimana manusia sudah mulai semakin akrab dengan teknologi ini, hadir sebuah paradigma baru dalam proses pembelajaran. Kini sebuah proses pembelajaran bisa dilakukan secara jarak jauh, tanpa harus dengan tatap muka di suatu ruang dan waktu yang sama, sebagaimana terjadi dalam proses pembelajaran sebelumnya. Teknologi informasi dan komunikasi (Information and Communication Technology) atau biasa disingkat ICT juga telah membawa efek perubahan yang nyata dalam proses pembelajaran. Salah satu bentuk pembelajaran jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi adalah tutorial online.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan e-learning dalam sistem pendidikan jarak jauh pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam dengan studi kasus tutorial online di Universitas Terbuka. Penerapan yang dimaksud mencakup perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut dari hasil evaluasi, serta kendala dan bagaimana mengatasi kendala dalam penerapannya.

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah penelitian deskriptif yang bersifat kualitatif. Jenis penelitian deskriptif yang digunakan adalah studi kasus. Teknik pengumpalan data dilakukan dengan studi dokumenter, observasi, dan wawancara. Paradigmatik wawancara yang digunakan adalah wawancara semi-terstruktur. Paradigmatik semi-terstruktur ini digunakan dengan pertimbangan inilah paradigmatik wawancara yang lebih fleksibel dari pada paradigmatik wawancara terstruktur dan tidak terstruktur.


Perencanaan tutorial online pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam di Universitas Terbuka dilakukan dengan membuat Rancangan Aktivitas Tutorial (RAT), Satuan Aktivitas Tutorial (SAT), dan menyusun seluruh materi untuk 8 inisiasi. Pelaksanaan tutorial online dilaksanakan dalam 8 inisiasi. Satu inisiasi berjalan selama satu minggu. Setiap inisiasi terdapat materi inisiasi dan diskusi. Pada inisiasi ke-3, 5, dan 7, terdapat tugas yang harus dikerjakan mahasiswa. Evaluasi formatif dinilai dari keaktifan mengikuti diskusi dan mengerjakan tugas, sedangkan evaluasi sumatif adalah penggabungan nilai diskusi dengan tugas. Dalam penerapan tutorial online terdapat beberapa kendala diantaranya, keterbatasan akses, mahasiswa kurang aktif, tutor kurang aktif, kelas yang terlalu banyak, dan keamanan jaringan.

Teman-teman, tulisan ini merupakan abstraksi skripsi saya. Skripsi yang saya kerjakan dalam enam bulan dengan sangat serius. Maksud hati, saya menargetkan skripsi saya untuk bisa menjadi buku saya yang ketiga. Namun karena beberapa hal, saya mengurungkan terget itu. Nah, dari pada tidak ada yang membacanya, saya akan memposting sedikit demi sedikit hal-hal yang menarik dan penting dari skripsi saya di blog ini dalam kategori 'Teknologi - Pendidikan'. Ini adalah postingan pertama kategori 'Teknologi - Pendidikan'.

Selain memposting hal menarik dan penting dari skripsi saya. Kategori Teknologi Pendidikan juga akan saya isi dengan tulisan-tulisan mengenai tema tersebut. Sebenarnya ini saya lakukan sekadar sebagai catatan dari perkuliahan saya di Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), jurusan Teknologi Pendidikan. Semoga bermanfaat! 

Wednesday, July 24, 2013

Upaya Masuk Mencurigakan di Google

Beberapa waktu lalu, tiba-tiba sign in google di Android saya eror. Saya mencoba masuk dengan sandi seperti biasa, tetap tidak bisa, masih selalu eror. Lumayan mengejutkan! Waktu itu saya pikir ini hanya masalah sinyal yang kurang baik. Maka saya tidak terlalu menganggapnya serius.
Siang harinya, ketika saya mengecek email melalui browser di Android, ada sebuah email dari Tim Akun Google. Kali ini benar-benar mengejutkan! Ini emai dari google yang saya maksud.
…………………………
Hai Imam,
Baru-baru ini ada seseorang mencoba menggunakan aplikasi untuk masuk ke Akun Google Anda – imamfrkusumaningati@gmail.com.
Kami mencegah upaya masuk jika saja upaya tersebut dilakukan pembajak yang mencoba mengakses akun Anda. Tinjau detail upaya masuk tersebut:
Rabu, 2013 Juli 17 19:22:33
Alamat IP: 189.251.250.69
Lokasi: Veracruz, Mexico

Jika Anda tidak mengenali upaya masuk ini, mungkin ada orang lain yang mencoba mengakses akun Anda. Sebaiknya segera masuk dan ubah sandi Anda.
Jika sebelumnya itu adalah Anda, dan sekarang Anda mengalami masalah saat mengakses akun, selesaikan langkah pemecahan masalah yang tercantum di http://support.google.com/mail?p=client_login 
Hormat kami,
Tim Akun Google
…………………………
Segera saya ganti sandi email. Semoga dengan sandi yang baru, akun email saya lebih aman. Tidak tahu kenapa, dengan kejadian ini bukannya saya merasa keamanan akun Google saya terancam, namun justru saya selalu bepikir kalau hal ini aneh, kenapa bisa sampai ada yang seiseng ini, ya?! Siapa saya?! Dari Mexico lagi pelakunya!

Nah, apakah ada yang pernah mengalami hal yang sama?

Monday, July 22, 2013

Mencoba Adu Nyali ala Jusuf Kalla

Jusuf Kalla, wakil presiden era SBY periode pertama, mengejutkan saya minggu malam (7/7/13) kemarin. Seperti biasa saya selalu memantau perkembangan berita terbaru dari ponsel pintar yang selalu menemani. Salah satu berita Republika Online malam itu, memaparkan kebiasaan baru Jusuf Kalla belakangan ini.
Hampir sebulan terakhir ini Jusuf Kalla mencoba kebiasan baru, berusaha melepas diri dari ketergantungan terhadap ponsel. "Saya coba adu nyali dengan hp" kata pria yang akrab disapa JK ini. JK selama ini memperhatikan pada setiap acara orang tetap sibuk membaca dan mengirim pesan singkat sehingga tak fokus mengikuti agenda, apakah itu rapat, ceramah umum atau diskusi. "Orang-orang tetap saja sibuk memainkan hp, selain tidak fokus kesannya tidak serius mengikuti acara," ujarnya. Demikian saya kutip dari Republika Online.
Kebetulan sekali, belum lama postingan saya di blog membahas tentang sikap terhadap ponsel pintar, berjudul Menggunakan Ponsel Pintar dengan Pintar. Menceritakan bahwa tidak pintar menggunakan ponsel pintar, membuat kita dikendalikan oleh teknologi, bukannya kita yang mengendalikan teknologi. Maka saya sangat tertarik untuk mengulas berita adu nyali ala Jusuf Kalla ini.
Jaman dulu orang tanpa handphone biasa saja. Namun sekarang, mungkin karena sudah ketergantungan, tiada handphone ibarat dunia telah berakhir. Apalagi seringkali handphone membuat kita menjadi autis, asyik sendiri, tanpa peduli lingkungan sekitar.
Handphone apalagi smartphone atau ponsel pintar yang selalu terkoneksi dengan internet, memang mengasyikkan. Mendekatkan yang jauh dan memudahkan segala urusan. Meski demikian, sebaiknya kemudian jangan sampai justru menjauhkan yang dekat, atau mengganggu kegiatan sehari-hari dalam dunia nyata.
Nah, menarik sekali sepertinya mencoba adu nyali ala Jusuf Kalla, siapa berani?

Tuesday, July 9, 2013

Menggunakan Ponsel Pintar dengan Pintar

Seorang teman menemani saya mengobrol sampai jam dua pagi, Jum’at, 21 Juni 2013 lalu. Saya mengobrol mulai pukul setengah sepuluh malam. Malam itu sengaja saya mendatangi rumahnya. Ini bukan yang pertama kali. Bahkan saya pernah mengobrol hingga adzan subuh berkumandang.
Teras rumahnya terasa sangat nyaman sekali. Secangkir teh tubruk panas dengan ramuan khasnya yang memiliki citarasa berbeda, menjadi sajian wajib. Obrolan berjalan hangat, sehangat teh yang tersaji. Hingga menjelang pagi, saya baru tersadar, "Mas, kayaknya kalau kita lagi ngobrol, sampeyan gak pernah pegang handphone, ya?"
Dia tidak langsung menjawab. Sambil tersenyum manis, baru dia menjawab, "orang dulu gak ada HP juga gak mati, Mas!" Hening sejenak, saya terpukul dengan jawabannya. "Kalau ada yang dekat, kenapa harus melayani yang jauh, yang jauh, kan, bisa setelah ini. Kalau sedang ngobrol begini, melayani yang lain, itu bikin ’frekwensi’ obrolan rusak. Saya ngobrol, terus ada orang lewat, saya menanggapi yang lewat, itu saja sudah merusak suasana obrolan." Dia melanjutkan jawabannya panjang lebar.
Saya lalu teringat bagaimana keseharian yang saya lakukan dengan teman-teman sebaya. Beberapa kali kita pernah berkumpul, namun masing-masing asyik dengan ponsel pintarnya (smartphone) sendiri-sendiri. Saya lalu juga berpikir, bagaimana rasanya di hati, misalkan saya bertamu ke tempat seseorang, namun orang tersebut justru asyik dengan ponsel pintarnya?
Senja di hari Sabtu, 29 Juni 2013 kemarin, saya mengobrolkan hal ini dengan teman saya yang lain. Katanya, "memang begitu, misalkan dalam teater, itu bisa disebut dengan ’memutus emosi’, merusak emosi berlatih atau bermain teater, apabila bermain ponsel pintarnya, atau melakukan hal lain.
Menggunakan ponsel pintar sepertinya memang harus dengan pintar juga. Kalah pintar dengan ponsel pintar, membuat penggunanya dikendalikan oleh teknologi, bukannya dia yang mengendalikan teknologi. Seperti itu bukan, sih?