Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa

akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa...

Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner

Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman...

Resensi Buku "Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!" oleh Omjay

Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati...

Ini Soal YouTube, Lebih Dari Sekadar Untuk Narsis

Setelah Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Briptu Norman Kamaru yang belakangan menjadi ngetop...

Citizen Journalism dan Metamorfosis Media

Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan...

Tuesday, November 20, 2012

Blog Sebagai Media Citizen Journalism

"Blog adalah simbol dari apa yang hebat tentang Internet." (Cameron Barret).


Blog, blog, sekali lagi blog, saya yakin ini bukan kata yang asing didengar. Terlepas Anda punya atau tidak punya blog. Mungkin Anda mengenalnya dari sebuah obrolan dengan teman, membaca dari artikel di majalah, koran, atau situs yang kebetulan terdapat kata blog, atau Anda terpaksa mengenal dan harus membuatnya karena tugas wajib dari dosen atau guru TIK?

Blog Sebagai Media Citizen Journalism
Teman-teman, penggunaan blog awalnya hanya sekadar untuk memenuhi kepuasan diri. Namun, akhirnya berkembang menjadi aktivitas rutin untuk saling bertukar informasi di kalangan blogger. Menyadari besarnya potensi blog untuk menjalin komunikasi secara lebih luas, maka motivasi para blogger akhirnya mengalami perubahan dari orientasi pemuasan diri, kemudian berkembang ke arah fungsi sosial yang lebih luas dengan cara saling melakukan tukar menukar informasi. Aktivitas inilah yang menjadi awal berkembangnya citizen journalism di blog. Perubahan fungsi itu terjadi karena keberadaan blog didukung oleh infrastruktur yang memungkinkan adanya interkoneksi antar blog dalam cakupan global.

Seperti yang sudah dijelaskan oleh Steve Outing dalam 11 bentuk citizen journalism, blog adalah termasuk salah satunya, yaitu the citizen bloghouse: bloghouse warga. Namun, tidak semua blog masuk dalam kategori produk citizen journalism. Nah, bagaimanakah blog yang masuk dalam kategori tersebut? Menurut Lewis Friedland dan Nakho Kim (2009), blog-blog dan situs forum bisa disebut sebagai produk citizen journalism apabila terjadi interaksi publik, termasuk situs yang dikelola bersama, yang banyak dipakai untuk mendiskusikan sebuah topik spesifik. Nah, jadi apabila Anda ingin blog Anda dikategorikan sebagai produk citizen journalism, pastikan blog Anda memenuhi kriteria tersebut.

Kekurangan dan Kelebihan Blog untuk Citizen Journalism
Menggunakan blog sebagai media citizen journalism tentunya memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri bila dibandingkan dengan penggunaan situs jejaring sosial.

Di blog tidak ada batasan karakter kata, jadi Anda bisa bebas menulis panjang mungkin. Sedangkan di Twitter terbatas hanya bisa menulis hingga 140 karakter, namun ketika menulis singkat di Facebook atau Twitter, tulisan tersebut akan langsung bisa dibaca secara otomatis oleh mereka yang termasuk ke dalam lingkup pertemanan Anda.

Sementara itu, di blog, tulisan tidak bisa secara otomatis terpublikasi secara luas. Maka setelah memposting di blog, masih harus mempublikasikan tulisan yang Anda posting. Pertanyaannya sekarang, Anda mau pilih yang mana? Hehehe.

Mempublikasikan Blog
Jika Anda akhirnya memilih untuk ber-citizen journalism dengan menggunakan blog, maka Anda masih harus melakukan publikasi secara mandiri. Tapi tenang saja, ada beberapa cara jitu untuk mempublikasikan blog Anda secara mandiri.

Cara pertama untuk mempromosikan blog yang Anda miliki adalah dengan blogwalking. Maksud dari blogwalking adalah berjalan-jalan di dunia maya mengunjungi blog orang lain, kemudian memberi komentar pada sebuah postingan, sekaligus meninggalkan tautan alamat blog Anda.

Cara kedua untuk mempromosikan blog secara mandiri adalah dengan bergabung dengan komunitas blogger. Komunitas blogger biasanya terbentuk karena berdasarkan kesamaan-kesamaan tertentu, seperti kesamaan asal daerah, kesamaan kampus, kesamaan hobi, dan sebagainya. Misalkan blog Anda merupakan blog yang berkaitan dengan hobi fotografi, maka bergabunglah dengan komunitas blogger fotografi.

Namun, dari kedua cara tersebut di atas, menurut Michael Firewall (2008), cara ketiga untuk mempromosikan blog, sekaligus cara yang paling jitu adalah dengan mendaftarkan blog ke situs direktori blog. Supaya blog mudah ditemukan melalui mesin pencari seperti Google atau Yahoo. Anda bisa mendaftarkan blog Anda ke situs direktori blog seperti technorati.com, feedburner.com, atau blogdigger.com

Teman-teman, semoga tulisan ini bisa bermanfaat. Salam Jurnalisme Warga!!!

Thursday, November 8, 2012

Mengkritisi Pemukulan Wartawan di Riau dari Sudut Pandang Jurnalisme Warga

Belum lama ini kembali lagi terjadi pemukulan terhadap seorang wartawan yang hendak meliput. Sudah kita ketahui bersama kabar tentang peristiwa ini, karena hal ini juga sudah banyak diberitakan oleh berbagai media nasional maupun lokal, online maupun cetak.
Sumber foto: www.tribunnews.com
Seorang wartawan yang hendak meliput jatuhnya kecelakaan pesawat Hawk 200 yang jatuh di permukiman penduduk di Pandau, Pekanbaru, Riau, Selasa (16/10) dipukuli oleh personel TNI Angkatan Udara (AU) yang sedang berada dilokasi kejadian. Disini saya menilai peristiwa ini dari kejauhan, karena saya bukanlah orang yang berada dilokasi saat peristiwa terjadi. Namun melihat dari tayangan berita di televisi, pemukulan wartawan oleh aparat TNI AU tersebut terjadi dengan brutal.

Saya melihat peristiwa ini dari sudut pandang Jurnalisme Warga. Jadi saya lebih menggaris bawahi pada pernyataan Kepala Dinas Penerangan TNI AU, Marsma Azman Yunus di Jakarta, Selasa (16/10) dalam konferensi pers yang dilakukannya dan ditayangkan oleh Metro TV tidak lama setelah peristiwa pemukulan terjadi. Menyimak pemaparannya pada intinya Marsma meminta maaf, dan sempat mengatakan bahwa “ada juga dugaan bahwa orang-orang yang datang mengambil gambar tidak semuanya wartawan. Sebab, kalau wartawan yang bertugas di Pekanbaru, pihak Lanud sangat mengenal.” ungkapnya.

Lantas timbul pertanyaan, apakah yang bukan wartawan (red: warga) tidak boleh meliput peristiwa tersebut? Sebagai warga biasa dengan adanya konsep Jurnalisme Warga atau Citizen Journalism setiap warga bisa melakukan kegiatan jurnalisme (meliput, mengolah, dan menyebarkan informasi atau berita). Kejadian itu terjadi dipemukiman warga, terjadi di ruang publik, jadi siapa saja berhak untuk meliputnya. Hanya dalih belaka menurut saya sebagian alasan dari pemukulan wartawan tersebut karena adanya warga yang ikut meliput. Sejujurnya itu hanya karena tidak ingin peristiwa tersebut terlalu terekspos oleh media.

Masalah keamanan atas kekhawatiran meledaknya pesawat, lantas kemudian personel TNI AU bermaksud untuk menjauhkan warga dan wartawan dari lokasi kejadian, setidaknya bisa dilakukan dengan baik-baik, tidak harus dengan cara pemukulan. Kembali saya menyayangkan pernyataan Marsma yang menjadikan warga sebagai tameng atau alasan atas terjadinya pemukulan tersebut, padahal sejatinya warga pun juga berhak untuk meliput sebuah peristiwa.

Perlu diapresiasi, dalam grup Facebook “Komunitas Citizen Journalist Indonesia”, saya mendapatkan tautan dari akun Facebook “Sekretariat Ppwi”, dengan statusnya bahwa “PPWI Nasional menyampaikan keberatan atas perlakuan pihak TNI-AU terhadap warga masyarakat (termasuk wartawan) yang berupaya mengumpulkan informasi atau data tentang bencana jatuhnya pesawat AU di Pekanbaru, Riau. Pesawat perang itu adalah milik rakyat, sehingga setiap WNI berhak mengetahui apa yg terjadi.”

Pemukulan atau penganiayaan terhadap wartawan atau warga masyarakat yang hendak meliput tidak boleh terulang lagi. Para stakeholder pemerintahan, lembaga-lembaga negara, institusi dan instansi, harusnya juga menyadari bahwa saat ini bukan hanya wartawan yang dapat meliput berita, namun warga biasa juga bisa ikut berpartisipasi aktif meliput dan mengabarkan suatu peristiwa. Warga kini bukan lagi hanya menjadi objek pemberitaan, namun juga bisa menjadi objek sekaligus subjek dari sebuah berita.