Mengenal Massa dan Jurnalisme Warga Melalui akumassa

akumassa mengejawentahkan bagaimana aku melebur dengan massa...

Jurnalisme Warga dan Nadia Abdullah Jurnalis Warga Revolusioner

Sungguh terenyuh hati ini menyimak perjuangan Nadia Abdullah jurnalis warga revolusioner, penduduk muda Sana’a Yaman...

Resensi Buku "Jadi Jurnalis Itu Gampang!!!" oleh Omjay

Senang sekali mendapatkan kiriman 2 buah buku karya Imam FR Kusumaningati...

Ini Soal YouTube, Lebih Dari Sekadar Untuk Narsis

Setelah Sinta dan Jojo, Udin Sedunia, dan Briptu Norman Kamaru yang belakangan menjadi ngetop...

Citizen Journalism dan Metamorfosis Media

Metamorfosis Media membawa sebuah penyajian berita tidak lagi menjadi eksklusif milik wartawan...

Saturday, May 26, 2012

Sujiwo Tejo: Ngawur Karena Benar

“Ketika yang ilmiah, sistematis, dan formal itu hanya kedok belaka yang justru banyak membohongi. Sekarang sudah saatnya untuk ngawur saja. Ngawur karena benar”

Begitulah kata Mbah Tejo, panggilan akrab Sujiwo Tejo penulis buku Ngawur Karena Benar. Baik ketika diwawancarai oleh media, maupun ketika berada di atas panggung saat acara bedah buku berlangsung.


Selama dua hari ditempat berbeda, saya selalu menguntit presidennya Jancukers ini. Hari pertama (Rabu, 14 Maret 2012) saat launching dan bedah buku di Taman Ismail Marzuki (TIM) di Galeri Cipta II. Sedangkan hari kedua (Jum’at, 16 Maret 2012) saat bedah buku di Islamic Book Fair (IBF) di Istora Senayan.

Kebetulan saya memang diajak oleh seorang teman dari penerbit Imania, penerbit yang menerbitkan buku Ngawur Karena Benar, untuk mendokumentasikan dua acara tersebut.


Launching buku ke-empat Mbah Tedjo ini berlangsung sangat meriah dan hangat penuh keakraban. Diawali dengan aksi teaterikal singkat dibalik tirai kain putih, sehingga menjadi siluet jika dilihat dari depan. Setelah tirai dibuka, lagu berjudul goro-goro dinyanyikannya yang diakhiri dengan meniup Saxofon dipenghujung lagu. Belum selesai sampai disini, Mbah Tejo melanjutkan aksinya dengan menyuguhkan Stand Cuk Comedy, modifikasi dari Stand Up Comedy yang saat ini sedang tren.

“kalau aku jadi presiden, perempuan yang sedang “mens” harus dibebaskan dari segala tuntutan hukum, orang lagi “mens” kok siapa yang bisa mengndalikan perasaannya, dalam negeri ngawur perempuan yang lagi “mens” gak boleh kena tuntutan hukum dan wanita hamil harus didahulukan dijalan raya, meskipun yang mau lewat itu mobil kepresidenan”, kata Mbah Tejo di Stand Cuk Comedi-nya.


Setelah Mbah Tejo menyuguhkan Stand Cuk Comedy, barulah kemudian masuk ke acara inti bedah buku yang langsung dimulai dengan tanya jawab. Beberapa dari para Jancukers secara bergantian mengajukan pertanyaan. Yang mengajutkan diantara Jancukers ternyata hadir Andrea Hirata, penulis buku laris Laskar Pelangi. Maka disesi itu Andrea Hirata dipersilahkan untuk memberi apresiasi untuk buku Ngawur Karena Benar.

“..menurut saya sebuah buku itu harus punya “impact” pada masyarakat, dan inilah buku yang ditunggu-tunggu, selamat untuk Sijiwo Tejo..” ucap Andrea Hirata.

Masih banyak Jancukers yang ingin bertanya, namun karena malam sudah larut, sudah saatnya Mbah Tejo mengakhiri keakraban ini dengan menyanyikan lagunya berjudul Titi Kolo Mongso.


Meski tidak seakrab saat di TIM, perjumpaan dengan Mbah Tedjo dilanjutkan dua hari kemudia di panggung utama Islamic Book Fair, tabuh pukul 15.00 acara bedah buku dimulai, dengan durasi hanya satu jam saja.

Di sini acara pun tidak kalah meriah dan akrab. Banyak dari audiens yang antusias untuk bertanya. Namun karena jatah durasi acara sesingkat itu, tidak semuanya bisa mengajukan pertanyaan.


Setelah acara selesai, masih selalu ada media yang melakukan wawancara. Pastinyalah, ini tokoh sekelas Sujiwo Tejo, sosok nyentrik, senyentrik kelasnya.

Lebih Baik Mana?

Saya mahasiswa, Anda pun juga mahasiswa atau mungkin sudah menjadi mantan. Nah, sekarang kira-kira lebih baik mana?

Ilustrasi: www.littlecharluzhdiary.blogspot.com

Lebih baik jadi mahasiswa aktivis tapi ber-IPK rendah atau mahasiswa ber-IPK tinggi tapi kuper gak kenal organisasi?

Labih baik jadi mahasiswa “kura-kura” (kuliah rapat, kuliah rapat) atau “kupu-kupu” (kuliah pulang, kuliah pulang)?

Lebih baik mana jadi mahasiswa yang makan enak terus di awal bulan tapi di akhir bulan gak makan atau mahasiswa yang makan sederhana di awal bulan dan di akhir bulan pun masih bisa makan?

Lebih baik jadi mahasiswa sambil kerja atau kerja sambil jadi mahasiswa?   

Lebih baik jadi mahasiswa semester tua atau menjadi sarjana pengangguran?

Lebih baik jadi mahasiswa apalagi ya? tolong ditambahin deh!

Slip Biru Pak Polisi, Bukan Slip Merah

Bersamaan dengan rintik hujan dan petir yang kadang kala menyambar-nyambar di luar sana, saya teringat dengan postingan menarik Daeng Indra di akun Facebooknya. Menceritakan tentang pengalamannya bersama supir taksi ketika terkena tilang oleh Pak Polisi.

Tilang, kata itu sungguh tak mengenakkan untuk didengar. Tak seenak dan semerdu kicauan burung kutilang. Melainkan sangat jauh berbanding terbalik entah berapa derajatnya.

Petir semakin menyambar-nyambar di luar sana. Di kamar yang saat ini hanya ada saya sendiri, ditemani dengan kipas angin yang tetap berputar meski diluar sedang hujan. Mengiringi pencarian tulisan itu, kurang lebih dua minggu sudah terpendam diantara status-status Facebook saya yang terbaru.

Teman-teman pembaca sekalian dan para facebooker, mungkin anda juga sudah pernah membacanya, karena postingan itu lumayan banyak dishare oleh para facebooker lain. Isinya memang sungguh sangat bermanfaat.

Mengenai apakah postingan itu sudah pernah dibahas di blog, twitter, milis, forum, atau sosial blog seperti ini, saya belum pernah menemukannya. Maka dari itu, saya hendak memulai dengan tulisan ini.

Berikut postingan dari dari Daeng Indra.

PERHATIKAN INI TRIK KENA TILANG


Hai temen- Temen semoga bermanfaat :

Beberapa waktu yang lalu sekembalinya berbelanja kebutuhan, saya sekeluarga pulang dengan menggunakan taksi. Ada adegan yang menarik ketika saya menumpang taksi tersebut, yaitu ketika sopir taksi hendak ditilang oleh polisi. Sempat teringat oleh saya dialog antara polisi dan sopir taksi.

Polisi (Pol) : Selamat siang mas, bisa lihat Sim dan STNK?
Sopir ( Sop ) : Baik Pak?

Pol : Mas tau..kesalahannya apa?
Sop : Gak pak

Pol : Ini nomor polisinya gak seperti seharusnya (sambil nunjuk ke plat nomor taksi yg memang gak standar) sambil langsung mengeluarkan jurus sakti mengambil buku tilang, lalu menulis dengan sigap

Sop : Pak jangan ditilang deh, wong plat aslinya udah gak tau ilang kemana, kalo ada pasti saya pasang
Pol : Sudah, saya tilang saja, kamu tau gak banyak mobil curian sekarang? (dengan nada keras !! )

Sop : (Dengan nada keras juga ) Kok gitu! taksi saya kan Ada STNK nya pak , inikan bukan mobil curian!
Pol : Kamu itu kalo di bilangin kok ngotot (dengan nada lebih tegas) kamu terima aja surat tilangnya (sambil menyodorkan surat tilang warna MERAH)

Sop : Maaf pak saya gak mau yang warna MERAH suratnya. Saya mau yg warna BIRU aja
Pol : Hey! (dengan nada tinggi) kamu tahu gak sudah 10 Hari ini form biru itu gak berlaku!

Sop : Sejak kapan pak form BIRU surat tilang gak berlaku?
Pol : Inikan dalam rangka OPERASI, kamu itu gak boleh minta form BIRU. Dulu kamu bisa minta form BIRU, tapi sekarang ini kamu Gak bisa. Kalo kamu gak mau kamu ngomong sama komandan saya (dengan nada keras dan ngotot).
Sop : Baik pak, kita ke komandan bapak aja sekalian (dengan nada nantangin tuh polisi)

Dalam hati saya , berani betul sopir taksi ini.

Pol : (Dengan muka bingung) Kamu ini melawan petugas!
Sop : Siapa yg melawan! Saya kan cuman minta form BIRU. Bapak kan yang gak mau ngasih.

Pol : Kamu jangan macam-macam yah. saya bisa kenakan pasal melawan petugas!
Sop : Saya gak melawan! Kenapa bapak bilang form BIRU udah gak berlaku. Gini aja pak saya foto bapak aja deh kan bapak yg bilang form BIRU gak berlaku (sambil ngambil HP).

Wah, wah hebat betul nih sopir . berani, cerdas dan trendy (terbukti dia
mengeluarkan hpnya yang ada berkamera.

Pol : Hey! Kamu bukan wartawankan! Kalo kamu foto saya, saya bisa kandangin
(sambil berlalu).

Kemudian si sopir taksi itupun mengejar itu polisi dan sudah siap melepaskanshoot pertama (tiba-tiba dihalau oleh seorang anggota polisi lagi).

Pol 2 : Mas, anda gak bisa foto petugas sepeti itu.
Sop : Si bapak itu yg bilang form BIRU gak bisa dikasih (sambil tunjuk polisi
yg menilangnya).

Lalu si polisi ke 2 itu menghampiri polisi yang menilang tadi, ada pembicaraan singkat terjadi antara polisi yang menghalau si sopir dan polisi yang menilang. Akhirnya polisi yg menghalau tadi menghampiri si sopir taksi

Pol 2 : Mas mana surat tilang yang merah nya? (sambil meminta)
Sop: Gak sama saya pak?. Masih sama temen bapak tuh (polisi ke 2 memanggil
polisi yang menilang)

Pol : Sini tak kasih surat yang biru (dengan nada kesal)

Lalu polisi yang nilang tadi menulis nominal denda sebesar Rp..30.600 sambil berkata, nih kamu bayar sekarang ke BRI, lalu kamu ambil lagi SIM kamu disini, saya tunggu.

Sop : (Yes!!) Ok pak ..gitu dong kalo gini dari tadi kan enak

Kemudian si sopir taksi segera menjalankan kembali taksinya sambil berkata pada saya. Pak .. maaf kita ke ATM sebentar ya ... mau transfer uang tilang . Saya berkata ya silakan.

Sopir taksipun langsung ke ATM sambil berkata. Hatiku senang banget pak, walaupun di tilang, bisa ngasih pelajaran berharga ke polisi itu. Untung saya paham macam2 surat tilang.

Tambahnya, Pak kalo ditilang kita berhak minta form Biru, gak perlu nunggu 2 minggu untuk sidang Jangan pernah pikir mau ngasih DUIT DAMAI. Mending bayar mahal ke negara sekalian daripada buat oknum!

Dari obrolan dengan sopir taksi tersebut dapat saya infokan ke Anda sebagai
berikut:

SLIP MERAH, berarti kita menyangkal kalau melanggar aturan Dan mau membela diri secara hukum (ikut sidang) di pengadilan setempat. Itupun di pengadilan nanti masih banyak calo, antrian panjang, Dan oknum pengadilan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilai tilang... Kalau kita tidak mengikuti sidang, dokumen tilang dititipkan di kejaksaan setempat, disinipun banyak calo dan oknum kejaksaan yang melakukan pungutan liar berupa pembengkakan nilai tilang.

SLIP BIRU, berarti kita mengakui kesalahan kita dan bersedia membayar denda. Kita tinggal transfer dana via ATM ke nomer rekening tertentu (kalo gak salah norek Bank BUMN). Sesudah itu kita tinggal bawa bukti transfer untuk di tukar dengan SIM/STNK kita di kapolsek terdekat dimana kita ditilang.

You know what!? Denda yang tercantum dalam KUHP Pengguna Jalan Raya tidak
melebihi 50ribu! dan dananya RESMI MASUK KE KAS NEGARA.

Info ini beritahukan teman, saudara sama keluarga Anda.

Berantas korupsi dari sekarang..... (by: Daeng Indra)

Secara konten, Anda sudahlah pasti bisa menangkapnya dengan sempurna. Informasinya memang dikemas apik dan sangat ringan untuk dibaca, karena berformat tanya-jawab.

Yang sangat memukau saya sendiri secara pribadi. Ada hal penting diluar konten yang menarik untuk dicermati. Bagaimana tidak, seorang warga biasa bisa menyuguhkan informasi secara cerdas. Bisa dibilang ini hasil liputan eksklusif, dan belum tentu jurnalis professional menemukan hal seperti ini. Informasi seperti inilah yang sangat dibutuhkan oleh publik.

Meski hasil liputan ini mengandung banyak unsur keberuntungan dan kebetulannya, yaitu kebetulan Daeng Indra mengalami kejadian seperti itu. Namun yang sangat perlu untuk diapresiasi adalah kemauan Daeng Indra untuk membagi pengalamannya. Disadari atau tidak Daeng Indra telah menjadi seorang jurnalis warga. Dia telah melakuakan kegiatan jurnalisme warga atau Citizen Journalism.

Menjadi pembelajaran bagi kita semua. Marilah, saat ini siapa saja, setiap orang meski warga biasa, anda bisa menjada pewarta atau jurnalis. Sampaikan apa yang anda lihat dan ketahui kepada publik. Sekecil dan sesingkat apapun informasi yang anda sampaikan tetap akan berarti bagi publik sebagai pengkayaan informasi.

Jadi, yuk jadi jurnalis warga dan mari berbagi.

Salam berbagi.

Sholat Maghrib

Petang kala itu baru saja Saya sholat maghrib di sebuah moshola dengan seorang teman. Disebelah agak kejauhan, seseorang sedang membaca Al-qur’an dengan lirih. Anehnya, waktu Saya sedang sholat, eh kok nadanya semakin kencang. Aduh!, gimana sih ini pak haji.

Penasaran dengan sosoknya. Nih ada penampakannya.


Nah, apakah Anda kenal dengan orang ini? Kasih tau ya kalau memang Anda kenal, he.